RELASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL TENTANG TRADISI RUWATAN BUMI DI DESA PONGANGAN CIKUNTUL TEMPURAN KARAWANG
RELASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL
TENTANG TRADISI RUWATAN BUMI DI DESA PONGANGAN CIKUNTUL TEMPURAN KARAWANG
Albin Ali Ansory
Studi
Agama Agama
Fakultas Ushuluddin dan Humaniora
Universitas Islam
Negeri Walisongo Semarang
Email albinalianshory@gmail.com
![]()
Abstrak
Artikel ini merupakan deskrpsi tentang
upacara ruwatan bumi yang
dilakukan di diberbagai desa di wilayah karawang salah satunya desa cikuntul.Biasanya warga melakukan upacara ini setelah selesai panen , Dampak ini dapat dirasakan oleh
masyarakat desa cikuntul , prosesi ini
meliputi silaturahmi dengan orang
terpandang atau orang yang berpengaruh dalam masa penyiaran agama Islam sebagai
wujud balas rasa atas pengorbanan leluhur baik secara material maupun
nonmaterial.selain itu hasil panen hajat bumi didistribusikan untuk kaum yang
membutuhkan hal tersebut senada dengan ajaran agama islam untuk salingtolong
menolong dalam segala aspek kehidupan.
Pelestarian budaya luhur ini adalah salah satu wujud pelestarian budaya
peninggalan nenek moyang.
A.
Pendahuluan
Islam mengajarkan untuk mengenal , memahami dan
menghargai budaya lokal (QS: Al Hujurat:13). Rasulullah telah memberikan contoh
tentang hidup ditengah masyarakat yang majemuk dengan perbedaan agama maupun
budayanya. Tiap suku mempunyai adat kebiasaan yang berbeda dengan suku lain,
dan dari budaya lokal itu ditemukan unsur-unsur budaya lokal yang mempunyai
nilai universal seperti kejujuran, keadilan, kerukunan, gotong royong. Dengan
mengamalkan ajaran Islam yang mengatur interaksi antar umat manusia, kaum
muslimin di Madinah pada masa Rasulullah bisa hidup bedampingan secara damai
dan saling tolong menolong. Pada masa , selanjutnya umat Islam dapat mencapai
tingkat peradaban yang tinggi.
Islam dan budaya memiliki relasi yang tak terpisahkan
dalam Islam sendiri ada nilai universal dan absolute sepanjang zaman.
Namun demikian, Islam sebagai dogma
tidak kaku dalam menghadapi zaman dan perubahannya. Islam selalu memunculkan
dirinya dalam bentuk yang luwes, ketika menghadapi masyarakat yang menjumpainya
dengan beraneka ragam budaya, adat kebiasaan atau tradisi. Sebagai sebuah
kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling memperngaruhi karena
keduanya terdapat nilai dan simbol.
Demikian halnya dengan Islam yang berkembang di masyarakat
Jawa yang sangat kental dengan tradisi dan budayanya. Tradisi dan budaya Jawa
yang sangat kental dengan tradisi dan budaya Jawa hingga akhir-akhir ini masih
mendominasi tradisi dan budaya nasional di Indoneisa dan termasuk di Desa
cikuntul kecamatan tempuran kabupaten karawang. Dalam konteks ini yang menjadi
nama-nama Jawa juga sangat akrab di telinga bangsa Indonesia. Begitu pula
istilah-istilah Jawa. Hal ini membuktikan bahwa tradisi dan budaya Jawa cukup
memberi warna dalam berbagai permasalahan bangsa dan negara di Indonesia.
Disisi lain , ternyata tradisi dan budaya Jawa tidak
hanya memberikan warna saja melainkan juga berpengaruh dalam keyakinan dan
praktek-praktek keagamaan. Masyarakat Jawa memiliki tradisi dan budaya yang
sangat bervariasi dan banyak dipengaruhi ajaran dan kepercayaan Hindu dan Budha
yang terus bertahan hingga sekarang, meskipun mereka sudah memiliki keyakinan
atau agama yang berbeda , seperti Islam , Kristen , atau yang liannya.
Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga
sekarang, belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya Jawa , meskipun terkadang
tradisi dan budaya itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Memang ada
beberapa tradisi dan budaya Jawa yang dapat diadaptasi dan terus dipegangi
tanpa harus berlawanan dengan ajaran Islam, tetapi banyak juga yang
bertentangan dengan agama Islam. Masyarakat Jawa yang memegang ajaran Islam
dengan kuat tentunya dapat memilih dan memilah mana budaya Jawa yang dapat
dipertahankan tanpa harus berhadapan dengan syariat Islam. Sementara masyarakat
Jawa yang sangat minim tentang pemahaman agama Islam itu sendiri , lebih banyak
menjaga warisan leluhur mereka itu dan mempraktekannya dalam kehidupan
sehari-hari ,meskipun bertentangan dengan ajaran agama Islam. Hal itu terjadi terus
menerus hingga di zaman sekarang.
Hal itu dapat kita kaji tentang gambaran masyarakat yang
terjadi di zaman sekarang ini , tertutama tentang praktek keagamaan kita
sekarang. Sebagai umat beragama yang baik tentunya perlu memahami ajaran agama
dengan memadai, sehingga ajaran agama sekarang ini sebagai acuan dalm
berperilaku dalam kehidupan. Karena itulah di tulisan singkat ini mencoba
mengungkap masalah tradisi atau nilai-nilai lokal terutama dalam masyarakat
Jawa dalam pandangan ajaran Islam. Apakah tradisi dan budaya Jawa ini sesuai
dengan ajaran Islam atau sebaliknya, bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Bagi masyarakat Jawa sendiri kegitan tahunan yang bernama
ruwatan bumi merupakan ungkapan refleksi sosial keagamaan. Hal ini dilakukan
dalam rangka keberhasilan hasil panen. Ritual ini dipahami sebagai bentuk
pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Ruwatan bumi dalam
tradisi Jawa biasanya dilakukan setelah panen.
B.
Pembahasan
Pengertian Islam dan Budaya.
a. Secara Etimologi.
Al Islam secara etimologi berarti
tunduk. Kata “Islam” berasal darikata salima yang artinya selamat. Dari kata
itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Dari
kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknyan disebut Muslim. Orang yang
memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada
ajaran-Nya. Didalam al-Qur’an, kata bermakna Islam yang terambil dari akar kata
s-l-m disebut sebanyak 73kali.
b. Secara Terminologi.
Secara
terminologi (istilah/maknawi) dapat dikatakan islam adalah agama wahyu
berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia,
dimana pun dan kapan pun , yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan
manusia.
Terminologi
Islam secara bahasa (secara lafadz) memiliki beberapa makna. Makna-makna
tersebut ada kaitannya dengan sumber kata dari “Islam” itu sendiri. Islam
terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab): “sin” , “lam” dan “mim”. Beberapa
kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam” ,
memiliki kaitan makna dengan Islam. Dari istulah secara bahasa antara lain : Al
Istislam (berserah diri), As Salamah (suci bersih) , As Salam (selamat dan
sejahtera) , As Salimu (perdamaian) , dan Sullam (tangga, tahap, atau
taddaruj).
Pengertian
Budaya
Pengertian
kebudayaan menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Budiono K , menegaskan
bahwa “menurut antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa,
tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat,
yang dijadikan milikinya dengan belajar”. Pengertian tersebut berarti pewarisan
budaya-budaya leluhur melalui proses pendidikan.
Budaya atau
Kebudayaan berasal dari bahasa Sanksekerta yaitu Budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari budhi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kata
budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, rasa, karsa.
Budaya atau kebudayaan dalam bahasa Belanda di istilahkan dengan kata
culturur. Budaya atau Kebudayaan dalam
bahasa Inggris di istilahkan dengan kata culture. Sedangkan dalam bahasa Latin
dari kata colera. Colera berarti mengolah , mengerjakan , menyuburkan , dan
mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti
culture , yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan
mengubah alam.
Budaya adalah
suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur
sosiobudaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia , budaya di definisikan sebagai pikiran, akal budi, adat
istiadat sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Sedangkan
kebudayaan dapat diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal
budi) manusia seperti kepercayaan , kesenian , dan adat istiadat ; keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami
lingkungan serta pengalamannya dan yang terjadi pedoman tingkah lakunya.
Islam dan Keselarasan Budaya Jawa dalam Kajian.
Manusia
diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia (Q.S At Tin : 4).
Manusia diberikan kelebihan berupa akal yang dapat digunakan untuk berpikir,
dan hati nurani untuk megetahui kebenaran. Dengan kelebihannya tersebut,
manusia bisa mengelola, memakmurkan alam semesta, dan dapat menjaga martabatnya
sebagai makhluk yang punya kedudukan lebih tinggi disbanding makhluk lain.
Menurut ajaran Islam, manusia adalah hamba Allah ang diberi tugas sebagai
khalifah di bumi. Agar dapat melaksanakan tugas tersebut dengan baik, maka
Allah memberikan petunjuk melalui firman-Nya dalam kitab suci al-Qur’an. Banyak
al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya guna mencukupi
kebutuhan hidupnya. Dan orang yang mau menggunakan akalnya akan mendapatkan
ilmu/pengetahuan yang dicarinya.[1]
Ijtihad dalam bidang
kebudayaan merupakan usaha yang dilakukan secara maksimal, untuk menemukan
jawaban dari permasalahan yang dihadapi manusia, sehingga mmperoleh hasil yang
lebih baik dan manfaat. Abul A’la Maududi menyebutnya sebagai penelitian
(riset) akademik yang dilakukan melalui proses ilmiah untuk mengasilkan solusi
dari masalah yang dihadapi manusia.[2]
Kearifan lokal yang berupa
nilai-nilai luhur , bermanfaat untuk membentuk pribadi yang mulia yang
diperlukan oleh setiap manusia, yang menginginka hidupnya damai dan sejahtera.
Karena itu, Islam tidak menghapuskan unsure budaya dari suku Arab yang selaras
dengan Islam. Misalnya sewaktu Islam diturunkan di Mekah , nilai-nilai luhur
yang berasal dari suku Badwi seperti jujur, pemberani, pemurah dan penyantun ,
tetap dilestarikan karena selaras dengan ajaran Islam.
Syair-syair yang isinya
tidak bertentangan dengan ajaran Islam juga dibiarkan tetap tumbuh di
masyarakat. Setelah masa Islam , syair-syair yang dibuat oleh pemeluk Islam
lebih banyak bertemakan kepahlawanan (memuja para syuhada’) tentang kenikmatan
di surga atau kepedihan di neraka.
Kebudayaan Jawa dibatasi
pada kebudayaan yang dihasilkan penduduk yang berada di wilayah Jawa.
Koentjaraningrat memberikan peringatan tetang kebudayaan Jawa adalah kebudayaan
yang diciptakan oleh masyarakat yang tinggal didaerah Jawa Tengah dan Jawa
Timur, dan menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Jawa
Barat masuk dalam wilayah kebudayaan Sunda.[3]
Selain batasan georgrafi,
ada pula yang memberikan batasan berdasar ciri kebudayaan seperti Franz Magnis
Suseno yang mengemukakan bahwa kebudayaan Jawa adalah hasil ciptaan orang Jawa.
Sedangkan yang disebut orang Jawa adalah penduduk asli yang tinggal di Jawa
Tengah dan Jawa Timur dan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. Diantara
mereka atau keturunanya ada yang kemudian pindah ketempat lain , dan tetap
menjaga adat istiadat Jawa dimanapun mereka berada.[4] Dengan
demikian , unsure budaya yang mempunyai ciri kebudayaan Jawa , tetap disebut
sebagai budaya Jawa meskipun tempat berkembangnya di luar Jawa.
Islam dan Budaya Jawa dalam Kajian
Kerukunan merupakan salah
satu ciri dari kehidupan masyarakat Jawa karena itu , keterkaitan pada kelompok
menjadi kuat agar tercipta ketentraman dalam hidupnya. Hal ini menjadi kuat
agar tercipta ketentraman dalam hidupnya. Hal ini terjadi karena kelompok telah
menjadi tempat untuk memperoleh solusi dari permasalahan yang dirasakan dan di
hadapi dalam kehidupan sosialnya. Merujuk kepada Franz Magnis Suseno , orang
Jawa akan merasa aman apabila berada dalam ikatan kelompoknya. Karena dengan kerukunan
, maka ia akan merasa tentram, jauh dari perasaan negative yang membuatnya
terlibat dalam konflik yang menggelisahkan perasaannya. Kuatnya ikatan dengan
komunitas, juga menyebabkan solidaritas terhadap komunitasnya juga kuat. Hal
ini menumbuhkan rasa kebersamaan atau gotong royong antar tetangga atau anggota
suatu komunitas. Misal tetangga membangun rumah , maka semua yang merasa
menjadi anggota kelompoya ikut membantu sesuai kemampuannya. Ada yang
memberikan bantuan berupa uang, beras, sayur-sayuran atau tenaga , untuk ikut
dalam pembangunan tersebut tanpa mengharap imbalan berupa materi.
Adanya sikap terbuka yang
dimiliki masyarakat Jawa untuk menerima orang lain seperti saudaranya sendiri ,
berdampak positif bagi masuknya orang orang India yang membawa kebudayaan dan
agama Hindu ke Jawa. Demikian pula sewaktu pedagang Muslim dari Arab maupun
Gujarat masuk ke tanah Jawa dengan menyebarkan agama Islam , mereka diterima
secara damai oleh masyarakat Jawa. Elastisitas dalam kehidupan sosial ini juga
berpengaruh pada keterbukaan masyarakat Jawa terhadap kepercayaan dan agama
yang datang ke Indonesia.[5]
Pandagan Greetz bahwa
Islamisasi di Jawa yang dimulai pada abad ke tiga belas, adalah parsial dan variabel.
Muslim yang taat , yang disebut santri, terpusat di pesisir utara ,
didaerah-daerah pedesaan dimana terdapat sekolah-sekolah tradisional Islam ,
dan dikalangan para pedagang dikotaan. Yang disebut dengan abangan adalah
mayoritas petani , yang meski secara nominal adalah Islami , tetap terikat
dalam animism Jawa dan tradisi nenek moyang. Golongan tradisional , terpandang
, terutama di perkotaan , meski secara nominal muslim , mempraktekkan bentuk
mistisme yang berasal dari Hindu-Budha sebelum Islam Masuk di Jawa. Golongan
bangsawan yang kemudian menjadi birokrat ini , dan orang-orang yang mengadopsi
gaya hidup mereka disebut dengan priyayi.
Berangkat dari variasi
tersebut , memperlihatkan bahwa Islam yang di peluk orang Jawa adalah
artificial (buatan). Islam Jawa sejatinya adalah Islam yang dilumuri dengan
praktik-praktik sinkretisme. Pengaruh Islam di Jawa tidak terlalu besar. Islam
hanya menyentuh kulit luar budaya Animisme , Hindu , dan Budha yang telah
mendarah daging dihampir seluruh Jawa. Sinkretisme tersebut nampak pada citra
dari masing-masing struktur sosial di tiga varian (abangan , santri , priyayi)
: ritus yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk menghalau makhluk halus jahat
yang dianggap sebagai penyebab dari ketidak teraturan dan kesengsaraan dalam
masyarakat , agar keseimbangan dalam masyarakat dapat dicapai kembali (varian
abangan) , penekanan pada tindakan-tindakan keagamaan sebagaimana digariskan
dalam Islam (varian santri), dan suatu kompleks keagamaan yang menekankan pada
pentignya hakekat halus sebagai lawan dari kasar (kasar dianggap sebagai ciri
utama kaum abangan) , yang perwujudannya tampak dalam berbagai sistem sosial
yang berkaitan dengan etika , tari-tarian , berbagai bentuk kesenian , bahasa
dan pakaian (varian priyayi).
Penganut animise dan
dinamisme melakukan ritual menggunakan sesaji dan mantera. Sesaji
dipersembahkan kepada ruh yang dituju, sehingga aneka sesaji yang dipilih ,
mencerminkan kesenangan ruh. Apabila ruh yang dipuja adalah nenek moyang maka
akan diberikan makanan kesukaan mereka waktu hidup , sewaktu hidup , seperti
buah buahan tertentu dan jajan pasar. Untuk mengemukakan hajat seseorang kepada
ruh atau kekuatan luar biasa yang dipercayai bisa menolong atau mencelakakan
manusia, perlu bantuan dukun , pawang atau orang yang dituakan (sesepuh) , yang
dipercayai bisa komunikasi dengan ruh dan kekuatan luar biasa. Ritual itu juga
digunakan untuk menolak bala, agar ruh atau kekuatan luar biasa itu tidak
mengganggu , merusak , atau mendatangkan bencana bagi manusia. Ritual untuk
menolak bala itu misalnya ruwatan bagi anak “ontang anting” (semata wayang) ,
agar tidak diganggu oleh Bathara Kala (symbol kekuatan jahat). Dengan
demikian tujuan ritual adalah utuk
mencari keselametan (selamet).
Istilah selametan itu sampai
sekarang dipakai secara umum , oleh orang Jawa yang mengadakan ritual dengan
memanjatkan doa , agar diberikan keselamatan dalam hidup nya. Disamping itu ,
selametan juga berfungsi sebagai media untuk membina hubungan baik dengan
tetangga. Dalam perkembangan selanjutnya menurut Simuh , ritual dengan mantera
berkembang menjadi ilmu klenik yang mempercayai adanya mantera yang berkekuatan
magis.[6]
Orang Jawa memiliki
ritual-ritual tertentu sebagai wadah dari mistisme yang dilakukannya.
Ritual-ritual ini yang paling terlihat dan paling umum tampak dalam tradisi
yang dilaksanakan kalangan masyarakat adalah tradisi nyadran. Ada beberapa
bentuk upacara selametan antara lain , slameta kelahiran , slametan khitan ,
dan perkawinan , slametan kematian , slametan berdasarkan penanggalan ,
slametan desa , dan slametan sela. Sampai disini masih tampak sekali ingin
mengatakan bahwa Islam Jawa adalah sejenis lan dari Islam meskipun mereka tidak melaksanakan ritual dari kalangan Islam
normatif.
Tradisi Ruwatan Bumi
Ruwatan
berasal dari kata Ruwat atau ngarawat (bahasa
Sunda) yang artinya memelihara atau mengumpulkan. Makna dari mengumpulkan
adalah mengajak masyarakat seluruh kampong berkut hasil buminya untuk
dikumpulkan, baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi atau dalam taraf
pengolahan. Tujuannya selain rasa syukur tadi sekaligus sebagai tindakan tolak
bala dan penghormatan terhadap para leluhurnya.
Pelaksanaan
ruwatan bumi abiasanya berlangsung di tanah lapang. Meski masing-masing daerah
memiliki ciri sendiri-sendiri, namun pada intinya mereka melakukan ritual
keagamaan yang kental dengan peristiwa budaya. Pelaksanaan ruatan bumi ini
biasanya akibat terjadinya bencana alam yang menimpa wilayah atau tempat
tinggal mereka. Setelah bencana lewat, mereka kemudian melaksanakan ruwatan
bumi agar bencana tidak terjadi lagi.
Diruwat (jawa) atau diruat (sunda) berasal dari
adat istiadat Jawa, istilah ruwat berasal dari istilah Ngaruati artinya
menjaga dari kecelakaan Dewa Batara. Biasanya ruwat dilaksanakan ketika: anak
yang sedang sakit, anak tunggal yang tidak memiliki adik maupun kakak, terkena
sial, jauh jodoh, susah mencari kehidupan, mempunyai tanda Wisnu (tanda putih
pada badannya, dll
Pencampuran budaya
(akulturasi) serta nuansa sinkretisme tetap terlihat mewarnai demi sebuah
harapan akan keserasian atau keseimbangan. Tradisi Nyadran adalah salah satunya
yang dimaknai diantaranya sebagai sebuah refleksi kerukunan , kebersamaan demi
mencapai keharmonisan hidup. Baik hal itu berkaitan dengan yang masih hidup ,
yang telah meninggal keterkaitannya dengan Tuhan.
Upacara tradisional ruwatan bumi disebarkan dan diwariskan secara turun temurun dari
suatu generasi ke generasi yang lain , oleh karena itu tradisi ini dapat
digolongkan dalam bentuk folklor.
Menurut Danandjaja folkor adalah
sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun temurun ,
di antara kolektif macam apa saja , secara tradisional dalam versi yang berbeda
, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau
alat pembantu pengingat. Menurut John Harold Bruvant berdasarkan tipenya folkor dapat digolongkan dalam tiga
kelompok :
1.
Folkor lisan , yaitu Folkor yang
bentuknya murni lisan , misalnya ungkapan tradisional , pertanyaan tradisional
, cerita prosa rakyat , dan nyanyian rakyat.
2.
Folkor sebagian lisan , yaitu Folkor
yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan , misalnya
kepercayaan rakyat , permainan rakyat , adat-istiadat , upacara dan pesta
rakyat.
3.
Folkor bukan lisan , yaitu Folkor
yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folkor ini ada yang berbentuk material
dan nonmaterial. Yang berbentuk material bisa berupa arsitektur rakyat,
kerajinan tangan , pakaian serta perhiasan adat, makanan, alat musik , dan
senjata.[7]
Berdasarkan penggolongan
diatas , upacara tradisional ruwatan bumi termasuk semua folkor karena didalamnya terdapat bentuk folkor
lisan yaitu doa-doa yang digunakan dalam upacara dan folkor lisan berupa
ungkapan tradisional dan
juga terdapat bentuk folkor bukan
lisan berupa uba rampe dalam upacara tersebut.
Bahkan di beberapa daerah pun terdapat perbedaan Hajat
bumi diantaranya daerah Karawang, Subang, Lembang, Bandung, Sukabumi, Sumedang,
dan daerah-daerah yang lainnya. Pelaksanaannya atau kegiatannya antar daerah
memiliki ciri khas tersendiri.[8]
Tujuan Tradisi Ruwatan Bumi
Tujuan dilaksanakan Adat Istiadat Upacara Ruatan Bumi
selain ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, juga sebagai tolak bala
serta ungkapan penghormatan kepada leluhur. Di kabupaten subang pelaksanaan
Ruatan Bumi masih banyak dilakukan, tetapi tatacara pelaksanaannya sudah
beraneka ragam, hal tersebut tergantung dari letak wilayah dan kondisi
masyarakat..
Penyelenggaraan Upacara Adat Hajat Bumi dilaksanakan
oleh Masyarakat desa cikuntul,
para tokoh, dan para juru kunci (kuncen). Jalannya Upacara Adat Hajat Bumi
dikordinir oleh juru kunci (kuncen) Desa Wanakerta. Pelaksanaan Upacara Adat
Hajat Bumi yang diketahui oleh Kepala Desa cikuntul. Adapun bahan bahan yang
digunakan dalam hajat bumi adalah berbagai macam hasil panen seperti padi,
buah-buahan, tanaman, dll. Orang yang dianggap sepuh di desa setempat menjadi
pengarah pelaksanaan hajat bumi. Guna kelancaran pelaksanaan kegiatan ini,
masyarakat menggunakan gerobak roda dua untuk mengangkut hasil panen yang telah
disediakan warga.
Tujuan utama dari upacara
ini adalah rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan atas apa yang telah
diberikan nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada desa setempat. Serta
wujud menghormati leluhur.
Ketika masyarakat
melaksanakan ruwatan bumi , mereka
harus bekerja sama. Ada unsure gotong-royong , kebersamaan , kasih sayang , dan
pengorbanan didalamnya. Ruwatan bumi juga menjadi ajang silahturahmi anatar anggota
masyarakat. Karena itulah , tradisi ruwatan bumi akrab dengan nilai kearifan lokal bangsa Indonesia.
Penghormatan Terhadap Leluhur
Alasan warga setempat masih
melakukan ritual upacara ruwatan bumi ini sebagai penghormatan terhadap leluhur. Prosesi
ini juga meliputi :
·
Pertama dadahut
yaitu persiapan yang dilakukan masyarakat mulai dari
pembentukan panitia, musyawarah pelaksanaaan ruwatan bumi, pengumpulan biaya,
membuat makanan, membuat pintu hek (pintu gerbang),
membuat sawen atau daun janur dari daun kawung. Kegiatan dadahut ini
biasanya dilakuan sebulan sebelum pelaksanaan
·
Kedua Ngadieukeun
yaitu
ritual khusus bertempat di goah yang dilakuan ketua adat
dengan menyajikan banyak sesajen. Tujuannya meminta ijin kepada Tuhan YME
supaya seluruh penduduk dan kampungnya dijauhkan dari musibah
·
Ketiga Ijab kabul motong munding
yaitu
berdoa sekaligus sambutan tetua adat sebelum menyembelih kerbau.
·
Keempat Ngalawar
yaitu
nyuguh atau menyimpan sesaji di stiap sudut kampung. Ngalawar dimaksudkan
untuk menghormati para leluhur masyarakat di daerah itu.
·
Kelima Salawatan
yaitu
mengucap puji-pujian kepada Allah SWT dan Rosulnya di mesjid-mesjid. Sholawatan
dimulai setelah maghrib sampai menjelang Isya.
·
Keenam pertunjukan seni
gembyung yang
dilaksanakan pada malam hari.
·
Ketujuh Numbal
yairtu
upacara sakral dengan mengubur sesaji dan makanan yang terbuat dari beras.
Tujuan numbal adalah mangurip bumi munar leuwih, artinya hasil
bumi dan segala hal yang dilakukan penduduk kampung bisa bermanfaat.
·
Kedelapan Helaran
yaitu
iring-iringan masyarakat dimulai dari tempat pelaksanaan ruwatan menuju situs
makam leluhur. Dalam helaran ini ikut memeriahkan seni beluk, pembawa parukuyan,
kuda kosong, pini sepuh, usungan dongdang, seni dogdog, saung sangar, usung
tumpeng, dongdang makanan, seni Rengkong dan tari-tarian pembawa kerajinan.
·
Kesembilan Sawer
yaitu
melantunkan syair buhun. Sawer berisi puji-pujian terhadap sang pncipta, para
leluhur dan Nyai Pohaci atau Dwi Sri.
·
Kesepuluh Ijab Rosul, yaitu ritual untuk menutup pelaksanaan
ruwatan bumi yang dipimpin tetua adat. Setelah acara sacral biasanya dilanjutan
hiburan wayang golek atau kesenian lain yang bernuansa Islam.[9]
Tradisi itu mempunyai
kemiripan dengan sraddha pada masa Majapahit. Kemiripan itu terlihat pada
kegiatan “interaksi” manusia dengan leluhur yang telah meninggal , seperti
pengorbanan , sesaji , dan ritual sesembahan lainnya yang hakikatnya bentuk
penghormatan terhadap yang sudah meninggal. Para wali diyakini
mentransformasikan tradisi pra-islam itu menjadi sarat dengan unsur Islam demi
kemudahan dakwah. Tidak mengherankan kalau pelaksanaan ruwatan masih kental dengan budaya Hindu-Budha dan animisme
yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam.
Media Silahturahmi
Upacara ritual tradisional ruwatan bumi ini salah satu wujud peninggalan kebudayaan pada
masa Hindu-Budha sampai Islam masuk ke Jawa. Melestarikan budaya peninggalan
nenek moyang ini sangat lah penting demi mencapai ketentraman hidup dan batin.
Proses ini harus kita jaga dan dilestarikan berguna untuk menjaga hubungan
generasi penerus dengan leluhur , sehingga rantai keturunan sebagai suku Jawa
tidak akan terputus. Salah satu manfaat yang dilakukan upacara nyadran ini
adalah salah satunya menjaga kebudayaan Jawa dan tidak akan putus.
Dampak Tradisi Ruwatan Bumi
Pelestarian ruwatan bumi ini adalah salah satuya adalah adi luhung
peninggalan nenek moyang terdapat sejumlah kaearifa lokal dalam prosesi tradisi
ruwatan bumi yang sangat relevan dengan konteks kekinian. Hal
ini karena prosesi ruwatan bumi ini tidak
hanya dengan bergotong royong mengumpulkan hasil panen , mendoakan leluhur , selametan. Lain dari itu juga sebagai cabang ajang silahturahmi ,
wahana perekat ke sanak saudara dan tetangga , sarana membangun jati diri
bangsa.
Pelaksaaan ruwatan bumi , kelompok-kelompok keluarga atau keturunan
tertentu , tidak ada sekat atau pembagian dalam status sosial , kelas, agama ,
golonga dan lain sebagainya. Perbedaan itu tidak ada karena mereka mereka
berbaur menjadi satu saling tolong menolong dan tidak menyalahkan satu sama
lain. Akhirnya terciptanya kerukuan dan saling tolong menolong , adem ayem dan
tentram.
.
C. Penutup
Kesimpulan
Ruwatan berasal dari kata Ruwat atau ngarawat (bahasa
Sunda) yang artinya memelihara memberikan pemaknaan bahwa masyarakat cikuntul
harus menjaga kampung dari hal yang dapat merusak atau menimbulkan bencana
.tradisi ruwatan bumi di adakan setahun sekali tradisi rawutan bumi merupakan
simbol rasa terima kasih masyarakat cikuntul terhadap tuhan yang maha esa
dengan perantara nyi pohaci sebagai lambang padi yang merupakan makanan pokok
bagi masyarakat cikuntul .ruwatan bumi juga merupakan tolak bala agar terhindar
dari bencana atau malapetaka.alasan beberapa daerah di jawa masih melakukan
ritual ruwatan bumi adalah untuk menghormati nenek moyangnya dan meluputi
proses : Pertama dadahut
Ruwatan bumi juga menjelma menjadi
ajang silaturahmi ,wahana perekat sosial,sarana membangun jati diri bangsa,rasa
kebangsaan dan nasionalisme.
DAFTAR PUSTAKA
Prof Dr Sri Suhandjati , ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA REVITALISASI KEARIFAN LOKAL, Semarang: CV
Karya Abadi Jaya ,2015, hlm11
Abul A’la Maududi, The
Islamic Law and Constitution , Lahore : Islamic Publication Ltd,1969, p 72
Koentjaraningrat,
Kebudayaan Jawa, Jakarta: Balai Pustaka.1984, hlm 417
Franz Magnis Suseno, Etika Jawa : Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Jakarta
: Gramedia Pustaka Utama, 1993) hlm 11
Prof Dr Sri Suhandjati , ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA REVITALISASI KEARIFAN LOKAL , Semarang :
CV. Karya Abadi Jaya , 2015 . hlm 36-37
Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa , Jakarta :
Teraju , 2003 hlm 41-42
Muhammad Damami , Makna Agama dalam Masyarakat Jawa ,
(Yogyakarta: LESFI, 2002) hlm 2
Darmolo. 2002. Sosial Hunabora, Ruwatan: Upacara
Pembebasan Malapetaka tinjauan sosiokultural masyarakat Jawa. Depok.
[1] Prof Dr Sri Suhandjati
, ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA REVITALISASI
KEARIFAN LOKAL, Semarang: CV Karya Abadi Jaya ,2015, hlm11
[2] Abul A’la Maududi, The Islamic Law and Constitution ,
Lahore : Islamic Publication Ltd,1969, p 72
[3] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Jakarta: Balai
Pustaka.1984, hlm 417
[4] Franz Magnis Suseno,
Etika Jawa : Sebuah Analisa Falsafi
Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993)
hlm 11
[5] Prof
Dr Sri Suhandjati , ISLAM DAN KEBUDAYAAN
JAWA REVITALISASI KEARIFAN LOKAL , Semarang : CV. Karya Abadi Jaya , 2015 .
hlm 36-37
[6] Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa , Jakarta : Teraju , 2003
hlm 41-42
[7] Muhammad Damami , Makna Agama dalam Masyarakat Jawa , (Yogyakarta:
LESFI, 2002) hlm 2.
[8] Darmolo. 2002. Sosial Hunabora, Ruwatan: Upacara Pembebasan
Malapetaka tinjauan sosiokultural masyarakat Jawa. Depok.
Komentar
Posting Komentar