UNSUR SEJARAH ISLAM DALAM LEGENDA TARIAN SIMO DI DESA GRINGSING, BATANG

UNSUR SEJARAH ISLAM DALAM LEGENDA TARIAN SIMO DI DESA GRINGSING, BATANG

 

Rofida Rahmadani


Studi Agama-Agama

Fakultas Ushuluddin dan Humaniora

UIN Walisongo Semarang

 

Abstrak :

Proses masuknya Islam di daerah Gringsing, Batang tidak terlepas dari peran seorang wali atau ulama yang menyebarkan Islam dengan cara atau metodenya sendiri. Kiai Ageng Gringsing merupakan tokoh wali yang menyebarkan Islam di daerah Gringsing, Batang ini. Beliau merupakan seorang pangeran yang mengembara dari daerah Gunungpati, Cirebon, Jawa Barat. Nama aslinya adalah Syekh Maulana Raden Abdullah Saleh Sungging. Kiai Ageng Gringsing adalah sosok wali yang sangat sederhana, sakti, tangguh, dan gigih dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Beliau tidak hanya seorang wali, namun beliau juga sosok prajurit seperti yang dikisahkan dalam Tari Simo Gringsing. Tari Simo Gringsing ini menceritakan tentang kisah Kiai Ageng Gringsing dalam menyebarkan ajaran agama Islam dan ketika melawan penjajah dahulu kala. Beliau dapat berubah menjadi sosok seekor harimau yang besar ketika menghadapi penjajah. Oleh karena itu, disebut tari simo yang berarti harimau. Tidak hanya itu saja, Kiai Ageng Gringsing juga seorang seniman yang menghasilkan karya Batik Gringsingan yang mempunyai motif khas yang cantik nan menawan.

Kata Kunci : Islam, Kiai Ageng Gringsing, Tari Simo Gringsing.

Abstract:

The process of entry of Islam in the Gringsing area, Batang is inseparable from the role of a guardian or cleric who spread Islam in his own way or method. Kiai Ageng Gringsing is a guardian figure who spread Islam in the Gringsing area, Batang. He was a prince who wandered from the area of ​​Gunungpati, Cirebon, West Java. His real name is Sheikh Maulana Raden Abdullah Saleh Sungging. Kiai Ageng Gringsing is a guardian figure who is very simple, powerful, resilient, and persistent in spreading the teachings of Islam. He is not only a guardian, but he is also a soldier figure as told in the Simo Gringsing Dance. This Simo Gringsing dance tells the story of Kiai Ageng Gringsing in spreading the teachings of Islam and when fighting the invaders of yore. He can turn into the figure of a large tiger when facing invaders. Therefore, it is called simo dance which means tiger. Not only that, Kiai Ageng Gringsing is also an artist who produces Batik Gringsingan that has beautiful and charming special motifs.

Keywords : Islam, Kiai Ageng Gringsing, Simo Gringsing Dance.

 

 

I.       PENDAHULUAN

 

Islam mengajarkan agar manusia mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia, yang ingin hidup bahagia selamanya. Jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaaan itu sudah diajarkan oleh Islam, antara lain menjaga hubungan dengan allah, menyembah hanya kepada-Nya dan melakukan perintah serta menjauhi larangan-Nya.

Jalan keselamatan itu perlu diketahui oleh keluarga maupun orang lain, agar mereka juga mendapatkan kebahagiaan hidup. Oleh karena itu, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk memberitahukan tentang ajaran agama Islam kepada orang lain, agar mereka memperoleh pengetahuan dan pedoman untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Mengajak orang kepada ajaran Islam itu disebut dakwah. Dalam penyebaran ajaran Islam ke masyarakat, dakwah merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan agar nilai-nilai Islam tetap dijadikan pegangan dalam kehidupan individu maupun masyarakat.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengajak manusia lainnya berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan yang merusak sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْ عُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْ مُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَأُوْلَئِكَ هُمُ اللْمُفْلِحُوْنَ

Artinya : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S Ali Imron : 104).

Pelaksanaan dakwah membutuhkan waktu, strategi dan kesabaran. Dakwah bertujuan untuk membina pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah dan berpribadi luhur, sehingga membutuhkan proses yang panjang, bertahap, dan berkesinambungan.[1]

Kata wali berasal dari bahasa Arab yang berarti dekat, teman atau kerabat.[2] Abu Abdullah as-Salimi, seorang sufi abad kesepuluh menyebutkan tanda-tanda seorang wali, antara lain ialah berbicaranya tentang yang baik-baik, tingkah lakunya sopan, suka merendahkan diri, murah hati, tidak suka berselisih, mudah memaafkan orang lain, dan halus budi pekertinya.[3]

Karena melaksanakan perintah Allah antara lain dalam hal ibadah maupun muamalah dan berakhlak terpuji, maka wali termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah. Dan kedekatan itu digambarkan laksana dengan teman atau kerabat.

Menurut cerita tradisional atau babad, orang yang mendapat gelar “wali” adalah yang membawa atau menyebarkan Islam di daerah pesisir. Peranan wali tidak hanya menyebarkan Islam saja, tetapi juga sebagai dewan penasehat dan pendukung raja.

Perkembangan dakwah Islam di Pulau Jawa mengalami proses yang cukup unik dan berliku-liku. Hal ini disebabkan karena kekuatan tradisi budaya dan sastra Hindu kejawen yang mengakar dan cukup kokoh. Penyebaran dakwah Islam dipelopori Walisongo sebagai perjuangan cemerlang yang dilaksanakan dengan cara sederhana, yaitu menunjukkan jalan alternatif baru yang tidak mengusik tradisi dan kebiasaan pribumi, serta mudah dipahami oleh orang awam lantaran pendekatan-pendekatan para wali yang kongkret dan realistis. Dalam hal ini, Walisongo sebagai pelopor pertama yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Dimana dalam berdawah Walisongo tidak menghilangkan tradisi yang ada, tetapi menyisipkan nilai-nilai Islam di dalamnya.

            Islam di Nusantara, bukan hadir dalam wajah tunggal namun kaya akan corak dan karakteristik sebagai wujud dari artikulasi doktrin Islam yang beragam. Keberagaman tersebut dapat dikarenakan oleh sejarah dan konteks yang berbeda yang melahirkan perilaku yang beragam tersebut. Islam nusantara bukanlah bersifat historis.

Faktanya, ada banyak “Islam” sebagai identitas sosial masyarakat muslim Nusantara yang menunjukan historisitas Islam Nusantara. Ada Islam NU, Muhammadiyah, Wahabi, Kejawen, Liberal, dan lain sebagainya. Keberagaman tersebut bukan hanya terkait dengan aspek ekspresi keberagamannya, namun juga menyentuh wilayah nalar epistemisnya. Keberagaman Islam yang demikianlah yang membuat tanah Indonesia semakin kaya akan citra beragama rakyat Nusantara. Salah satu “Islam” yang meramaikan dunia agama Nusantara adalah Islam Jawa. Jawa merupakan satu daerah yang memiliki kebudayaan yang cukup berpengaruh di Indonesia.

II.        PEMBAHASAN

 

 

Kiai Ageng Gringsing

(1)  Makam Kiai Ageng Gringsing.

Kiai Ageng Gringsing merupakan ulama yang sudah tidak asing lagi oleh sebagian masyarakat pesisir laut Jawa khususnya daerah Batang dan sekitar Gringsing Alas Roban ini. Sosok yang mempunyai jiwa kesatria tinggi dengan semboyannya yang mengabdikan dirinya hanya untuk kaum rakyat cilik.

Kiai Ageng Gringsing adalah sosok yang dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di kawasan Kabupaten Batang, terutama di Kecamatan Gringsing. Selain sakti, tangguh, dan gigih, beliau dikenal dengan sosok sederhana. Kiai Ageng Gringsing merupakan seorang pangeran yang mengembara dari daerah Gunungpati, Cirebon, Jawa Barat. Nama aslinya adalah Syekh Maulana Raden Abdullah Saleh Sungging. Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam di wilayah Jateng, Kiai Ageng Gringsing sampai di daerah Gringsing, Kadipaten Batang, tepatnya di Desa Kendalsari Sembung, Kecamatan Limpung. Tiba di sini sekitar tahun 1600-an.[4]

Sebagai waliyullah, ilmu yang dimiliki beliau sangatlah tinggi dan beliau mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Di antaranya yaitu saat beristirahat untuk menghilangkan rasa penat dan capeknya Kiai Ageng Gringsing menancapkan tongkatnya ke tanah. Tiba-tiba tongkat tersebut bersemi dan menjadi pohon besar yang mampu memberikan rasa sejuk dan adem untuk berteduh. Bahkan pohon itu masih ada sampai sekarang,” kata tokoh masyarakat Gringsing, Ahmad Zaenal Abidin. Pohon itu diberi nama pohon kendalsari. Kepercayaan warga setempat, pohon ini mampu memprediksi siklus ekonomi masyarakat Gringsing. Dengan tanda dan ciri dari daun pohon tersebut, jika daun pohon kendalsari itu subur, berarti ekonomi warga baik dan stabil. Namun jika daunnya nanyak yang rontok, menguning dan  kering, berarti ekonomi warga sedang krisis atau susah dan menurun. “Pohon sempat dipagar tembok, tapi dua kali roboh sehingga dikembalikan ke pagar bambu saja,” katanya.

Dalam perjalanannya sebagai seorang penyebar agama islam di desa Gringsing, sang pangeran bertemu seorang gadis yang berparas cantik dan anggun yang bernama Nyai Gringsing, yang merupakan putri pertama dari ulama setempat bernama Syekh Agung Tholib. Gadis itu dipersunting oleh Syekh Maulana Raden Abdullah menjadi istrinya sehingga beliau disebut sebagai Kiai Ageng Gringsing.“Namun awal mempersuntingnya tidak mudah, sebab Nyai Gringsing selain berparas cantik dia juga dikenal sebagai seorang jawara setempat yang mempunyai ilmu yang tinggi dan sakti. Pertarungan untuk meluluhkan hati Nyai Gringsing ini berlangsung selama beberapa hari. Nyai Gringsing bisa berubah menjadi ular besar, sedangkan Kiai Ageng Gringsing berubah menjadi harimau. Pertarungan dimenangkan Kiai Ageng Gringsing, meskipun katanya sempat tergigit kakinya,” ungkapnya.

Dan setelah pernikahannya inilah ajaran agama Islam di wilayah Gringsing semakin kuat dan tangguh, karena kehebatan keduanya mampu saling mengisi satu sama lainnya. Kiai Ageng Gringsing merupakan sosok yang sangat sederhana dan santun, walaupun dari darah bangsawan beliau tidak pernah bersifat congkak dan sombong. Kearifan dan budi pekertinya yang luhur dan tinggi mampu memberikan teladan bagi masyarakat sekitar. Dan konon, darah kebangsawanan beliau masih ada keturunan dari Prabu Brawijaya dan kesultanan Demak.

Sebagai seorang yang menyebarkan dakwah agama Islam di daerah Gringsing Alas Roban ini tidaklah mudah, banyak para penyebar agama yang mental untuk mensyiarkan ajaran Islam di daerah ini karena pada waktu itu daerah ini terkenal dengan mbahnya begal, rampok, bandit, dan garong. Tak hanya itu saja, penghuni makhluk astral daerah ini yaitu para demit, jin, dan raja jin bersinggah sana di daerah ini. Sehingga tak heran pada zamannya Kiai Ageng Gringsing menyebarkan agama Islam tidak sedikit mengalami halangan dan rintangan dihadapinya.

Selama berada di Gringsing, Kiai Gringsing dengan gigih berdakwah menyiarkan ajaran Islam. Meskipun wilayah Gringsing dulu dikenal dengan gudang begal dan pelaku kejahatan lainnya. “Selain sarang begal, Gringsing juga dikenal sarang demit atau makhluk halus, sehingga dulu Kiai Gringsing semacam babat alas di Gringsing. Jadi selain membasmi begal, juga harus membasmi demit,” ujarnya.

Karena sifat pasrah dan ikhlas ini lah Kiai Ageng Gringsing mampu menghadapi semuanya, dengan rasa tawakkal dan oasrah hanya kepada Allah SWT. inilah yang membuat semangat juangnya membara. Lambat laun orang-orang yang sebelumnya begal dan tidak mengenal agama luluh dan sadar. Tidak sedikit para begal dan garong yang disadarkan serta di Islamkan oleh beliau. Akhirnya, mereka banyak yang memeluk Islam.“Satu per satu orang-orang awalnya menentang beliau, akhirnya disadarkan dan kemudian banyak memeluk Islam.

Kiai Ageng Gringsing dikenal sebagai sosok penyebar agama Islam yang sederhana yang tidak suka pamer-pamer dan tangguh. Dahulu, Ulama besar Alas Roban ini gigih berdakwah tentang budi pekerti dan mengajak warga setempat untuk berbuat kebaikan.

Sempat beberapa dekade makam beliau menghilang dan tidak diketahui keberadaannya. Makam Kiai Ageng Gringsing pertama kali ditemukan oleh Saat Iskandar, Nasirin, dan Muhyidin, sekitar 1991. Ketiga warga Desa Lempuyang, Kecamatan Bawang, itu ditugaskan gurunya, Syekh Aguslani, untuk mencari dan melacak keberadaan makam Kiai Ageng Gringsing yang sebenarnya. Sejak ditemukan itu mulai dilakukan haul Kiai Ageng Gringsing. Haul dilakukan setiap bulan Muharam, karena ditemukannya makam Kiai Ageng Gringsing itu bertepatan bulan Muharam. Ditemukannya makam tersebut pada hari Rabu Kliwon 31 Juli 1991 M atau bertepatan dengan 19 Muharam 1412 H sekitar pukul 14.00 WIB, yakni di pemakaman umum Gringsing Selatan.

 Perjalanan untuk memperingati haul Kiai Ageng Gringsing ini tidaklah mudah karena mendapatkan pertentangan dari sejumlah pihak masyarakat sekitar. Namun akhirnya berhasil digelar sampai sekarang, tak sedikit pula warga sekitar awalnya menentang keberadaan makam Kiai Ageng Gringsing tersebut. Dengan begitu mereka berusaha menggagalkan haul Kyai Ageng Gringsing yang pertama. “Yang kontra malah bilang kalau ‘itu makan jaran (kuda) kok disanjung-sanjung, bakar saja ‘. Akibatnya yang mengucapkan itu tidak lama kemudian rumahnya terbakar, tidak tahu itu musibah dari Allah atau apa,” ungkapnya.

Dan tidak hanya itu saja selain itu, tak sedikit yang menyalahgunakan makam kramat itu untuk mengundi nasib dan mencari nomor togel. Disebutkannya sejumlah warga malah bertirakat dan bertapa untuk mendapatkan kupon judi. “Saat itu masih ramai-ramainya judi nomor buntut ada yang menyalahgunakan makam Kiai Ageng Gringsing untuk meminta nomor, beberapa orang yang melakukan langsung dilempar ke sawah sebelah makam,” katanya.

Sampai sekarang Haul pun rutin dilakukan setiap tahunnya. Haul tersebut merupakan cara untuk meneladani kebaikan para alim/ulama, sekaligus wujud pengingat jika kematian pasti akan dialami oleh manusia. Haul ini merupakan bagian dari para alim ulama. Ini merupakan bagian dari nguru-nguri budaya, sekaligus meneladani kebaikan Kiai ageng Gringsing.

Kiai ageng Gringsing tidak hanya sosok ulama saja, namun juga prajurit, dan seniman. Salah satu hasil karya beliau adalah batik Gringsingan. Motif batik Gringsing mengandung filosofi keseimbangan, kemakmuran, dan kesuburan. Kain batik motif Gringsng berupa seperti sisik, buketan, moto ikan (mata ikan).

(2)  Motif Batik Gringsing.

 Beliau juga menyebarkan ajaran agama Islam tidak hanya di daerah Gringsing, Batang saja. Namun, beliau juga menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Dewata Bali, yaitu di kampung Pegringsingan, Desa Tengahan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Tari Simo Gringsingan

(3)  Tari Simo Gringsing.

Tari Simo Gringsing merupakan tarian asli dari daerah Gringsing, Batang. Tari ini mengisahkan tentang kisah perjuangan Kiai Ageng Gringsing dalam menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Gringsing, Batang.

Kata “Simo” sendiri yang berarti harimau, hal ini berkaitan tentang Kiai Ageng Gringsing dapat berubah menjadi seekor harimau yang besar ketika beliau menghadapi musuh dalam menyebarkan ajaran agama Islam.

Tarian Kolosal itu mengisahkan, perjuangan Ki Ageng Gringsing ulama besar dari Gringsing, bersama prajuritnya dalam melawan dan mengusir penjajah. Dalam penyajiannya, prajurit ditampilkan dua kelompok yaitu bergada putra dan putri, lengkap dengan senjata seperti, silat, umbul-umbul, pedang, tameng, tombak, panah dan cundrik.

Ki Ageng Gringsing diyakini bisa menjelma menjadi harimau atau simo dalam bahasa Jawa, ketika menghadapi tentara penjajah. Arak-arak prajurit ditata dengan sentuhan masa lampau, yang dibalut koreografi, tata rias busana, alunan gamelan, tambur, terompet dan merdunya alunan tembang Jawa. Masuk arena pentas dengan melantunkan kalimat La Ilaha Ilallah yang menggema.[5]

Cerita Prajurit Ki Ageng Gringsing merupakan garapan Bambang Suryantoro, didukung sutradara Ratna Kencanawati, penata musik Agus Effendi, penata gerak Rangghita Anjali, dan penata artistik Kustantinah. Dia menuturkan, Ki Ageng Gringsing adalah tokoh pejuang Batang. Beliau adalah ulama, pada saat melawan penjajah, dia bisa berubah fisik jadi simo. Karena itu, tariannya disebut Tari Simo Gringsing.

Kiai Ageng Gringsing termasuk tokoh agama Islam yang masyhur di kalangan masyarakat Jawa khususnya daerah Gringsing, Batang. Beliau dihormati baik semasa hidup, bahkan sampai setelah meninggal.

Ada beberapa fenomena yang menunjukkan bahwa beliau dipandang terhormat, bahkan cenderung dikeramatkan. al ini disebabkan karena kepribadian wali yang menunjukkan adanya kelebihan, antara lain[6] :

Pertama, pada umumnya mereka keturunan bangsawan atau orang terhormat. Sebagian wali merupakan keturunan dari pemuka agama maupun tokoh masyarakat.

Kedua, Para wali adalah orang-orang cerdas yang mempunyai pengetahuan luas terutama bidang agama Islam.

Ketiga, wali dikenal sebagai mubaligh yang ikhlas dan punya pergaulan yang luas, sehingga disegani oleh masyarakat. Untuk menyebarkan Islam di masyarakat heterogen, wali mempunyai kecerdasan yang tinggi untuk merancang dakwah yang damai dan bisa digunakan untuk mengajak pada kebaikan. Hal ini terlihat pada strategi dakwah serta media yang digunakan mendapat respon yang positif dari masyarakat lapisan bawah hingga raja atau lapisan masyarakat atas lainnya.

Dalam proses penyebaran Islam di Jawa, ada pendapat yang menyebutkan terjadinya pendekatan dakwah yang berbeda antar wali, yang terbagi dalam dua kubu. Kubu pertama, menerapkan metode pendekatan non kompromis dan kubu kedua, yang menerapkan metode pendekatan kompromis.

Pendekatan non kompromis, artinya tidak menggunakan cara yang dapat menghilangkan atau membuat kaburnya pokok ajaran Islam seperti tauhid (keimanan). Dakwah non kompromis mengajak umat Islam untuk menjaga keimanan dan penyembahan hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun sesuai dengan prinsip Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. untuk menjaga tauhid dari kemusyrikan yang berupa penyembahan berhala, matahari, bulan, bintang, hewan maupun lainnya.

Sedangkan pendekatan dakwah kompromis, menggunakan cara dengan mengambil unsur budaya yang telah menjadi adat di masyarakat (Jawa). Dakwah kompromis terbatas pada kompromi dalam kebudayaaan, bukan kompromi dalam kepercayaan. Semua wali memiliki komitmen untuk menjaga ketauhidan agar tidak bercampur dengan kepercayaan lainnya.

Sosio-religius masyarakat Jawa yang terbuka untuk menerima kepercayaan maupun budaya lain, menyebabkan para wali memilih dakwah yang kompromis sesuai kondisi masyarakat pada masa itu. Masa wali adalah masa transisi dari kepercayaan pra Islam ke masa Islam. Karena itu, strategi yang dipilih adalah dengan dakwa kompromis dalam arti kompromi dalam budaya, sedangkan dalam tauhid tetap berpegang pada ketentuan aqidah Islam, yang melarang penyembahan atau pemujaan kepada selain Allah.

Peringatan Allah untuk menjauhi kemusyrikan itu, tentu sangat diperhatikan oleh para wali. Sehingga semua wali mempunyai pendapat yang sama tentang tauhid yang tidak boleh dicampurkan dengan kepercayaan lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III.      PENUTUP

 

 

Kesimpulan

Kiai Ageng Gringsing merupakan sosok yang dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di kawasan Kabupaten Batang, terutama di Kecamatan Gringsing. Selain sakti, tangguh, dan gigih, beliau dikenal dengan sosok sederhana. Kiai Ageng Gringsing merupakan seorang pangeran yang mengembara dari daerah Gunungpati, Cirebon, Jawa Barat. Nama aslinya adalah Syekh Maulana Raden Abdullah Saleh Sungging. Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam di wilayah Jateng, Kiai Ageng Gringsing sampai di daerah Gringsing, Kadipaten Batang, tepatnya di Desa Kendalsari Sembung, Kecamatan Limpung. Tiba di sini sekitar tahun 1600-an.

 Tari Simo Gringsing merupakan tarian asli dari daerah Gringsing, Batang. Tari ini mengisahkan tentang kisah perjuangan Kiai Ageng Gringsing dalam menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Gringsing, Batang. Kata “Simo” sendiri yang berarti harimau, hal ini berkaitan tentang Kiai Ageng Gringsing dapat berubah menjadi seekor harimau yang besar ketika beliau menghadapi musuh dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Tarian Kolosal itu mengisahkan, perjuangan Ki Ageng Gringsing ulama besar dari Gringsing, bersama prajuritnya dalam melawan dan mengusir penjajah. Dalam penyajiannya, prajurit ditampilkan dua kelompok yaitu bergada putra dan putri, lengkap dengan senjata seperti, silat, umbul-umbul, pedang, tameng, tombak, panah dan cundrik. Ki Ageng Gringsing diyakini bisa menjelma menjadi harimau atau simo dalam bahasa Jawa, ketika menghadapi tentara penjajah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

·       Suhandjati,  Sri. 2015. Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal. Semarang : CV. Karya Abadi Jaya.

·       Louis Ma’luf Al-Abb. 1937. AlMunjid, Ensiklopedia Arab. Beirut.

·       Ensiklopesi islam. 1997. Jakarta: Penerbit Ichtiar Baru van Hoeve.

·        Febriyanto, Prahayuda. (Minggu,21 Juni 2015 08:53 WIB) https://daerah.sindonews.com/berita/1015040/151/dakwah-sederhana-usir-begal-dan-demit

·       (Selasa,13November201800:07WIB). https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/144955/tarian-sino-gringsing-juarai-karnaval-keprajuritan-nusantara



[1] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal, (Semarang : CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm.59-60.

[2] Louis Ma’luf Al-Abb, AlMunjid, Ensiklopedia Arab, (Beirut,1937), hlm.1081.

[3] Ensiklopesi islam, (Jakarta: Penerbit Ichtiar Baru van Hoeve,1997), hlm.172.

[4] https://daerah.sindonews.com/berita/1015040/151/dakwah-sederhana-usir-begal-dan-demit

[6] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal, (Semarang : CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm. 87-90.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKULTURASI BUDAYA – KESELARASAN DALAM BUDAYA JAWA SESAJEN DI DESA JETAK KECAMATAN WEDARIJAKSA KABUPATEN PATI

AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN TIONGHOA DALAM MOTIF BATIK LASEM

PELESTARIAN BUDAYA JAWA ISLAM DALAM TRADISI 10 SYURO SYEKH AHMAD MUTAMAKKIN DI DESA KAJEN MARGOYO KABUPATEN PATI