UNSUR ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI MUNGGAHAN DI KOTA BEKASI

UNSUR ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI MUNGGAHAN DI KOTA BEKASI

 

ALISSHA HAYATUNNUFUS


JURUSAN STUDI AGAMA AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI WALISONGO SEMARANG.

 

 

 

ABSTRACK

setiap tradisi merupakan budaya turun temurun dan mau tidak mau harus d pertahankan serta harus di pegang teguh karena salah satu bentuk rasa hormat kita terhadap leluhur di daerah tempat tradisi itu berkembang.

melestarikan dan mengamalkan nya adalah suatu tradisi yang wajib kita pertahankan agar pengaruh globalisasi tidak hilang meski adanya ke modernan ,seperti halnya di bulan Syaban ini menjelang Ramadhan masyarakat melakukan tradisi yang di namakan munggahan karna munggahan ini adalah salah satu tradisi menyambutnya bulan suci Ramadhan datang nya bulan yang pantas kita lantunkan.

Seperti contohnya di daerah yang masih kental dengan adat nya yaitu Jawa barat tetapi setiap tradisi si daerah masing masing mempunyai makna unsur keislaman serta kearifan lokal tersendiri dan keunikan Oleh karena itu, berdasarkan ulasan diatas,maka penulis mengangkat judul artikel ini adalah tentang “unsur Islam dan budaya lokal dalam tradisi munggahan di kota Bekasi “

kata kunci: tradisi,munggahan

 

I. PENDAHULUAN

   A. Latar Belakang

Bulan Sya ’ban dan Romadlon adalah sebagian dari bulan-bulan yang istimewa, menyimpan banyak makna yang patut di-Tafakuri dan di-Tadabburi, selain itu juga banyak tradisi-tradisi yang diberlakukan masyarakat tertentu pada bulan tersebut.

Salah satunya yaitu tradisi yang berada di daerah khusus ibukota Bekasi yang di laksanakan di bulan tersebut adalah munggahan. [1]Banyak makna di balik tradisi ini, pertama "kepercayaan ada hidup sesudah mati", kedua "kesetiaan dan bakti kepada leluhur", dan ketiga "kepercayaan, setelah mati terputus kesempatan beramal dan mohon ampunan, diantara kesempatan yang tersisa adalah doa dari anak keturunannya".

Tradisi ini pernah ada pada jaman Hindu namun setelah masuknya Islam telah terjadi akulturasi. Munggahan dilakukan menjelang bulan Ramadhan berdasar ajaran bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, maka para leluhur kita yang berada di alam kubur (ALAM BARZAH) akan diberikan ampunan selama bulan Ramadhan dan Munggahan merupakan doa pengantar untuk menyambut para ahli kubur untuk naik ke alam kedamaian penuh ampunan selama sebulan. Maka tradisi Munggahan dilakukan pada akhir bulan Syaban.

Kemudian pada akhir Ramadhan juga diikuti tradisi Udunan, yang berarti turun kembali ke alam Kubur. Doa pengantar selama Udunan adalah agar kiriman doa selama bulan Ramadhan diterima di sisi Tuhan dan bisa meringankan para ahli kubur. Alam kubur merupakan alam penantian hingga hari kiamat tiba saat semua manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar yang merupakan padang peradilan.

Tetap berjalannya acara Munggahan-Udunan saat ini karena di situ ada iman, ada kebersamaan dan ada manfaat hingga membuat kita tetap setia melestarikan tradisi nenek moyang.

 

II.  PEMBAHASAN

Secara etimologis Munggahan berasal dari kata unggah yang memiliki arti mancat atau memasuki tempat yang agak tinggi. Kata unggah dalam kamus Basa Sunda berarti kecap pagawean nincak ti han-dap Ka nu leuwih luhur, naek Ka tempat nu leuwih luhur, artinya kata kerja beranjak dari bawah ke yang lebih atas, naik ke tempat yang lebih atas. Di dalam Kamus Umum Bahasa Sunda (1992), munggah berarti hari pertama puasa pada tanggal satu bulan Ramadhan.

 

Dari sumber lain menurut Abdullah Alawi Munggahan berasal dari kata unggah yang berarti naik undakan untuk masuk, misalnya ke rumah atau ke masjid (dulu rumah dan masjid berbentuk panggung). Dalam lidah orang Sunda kata unggah sering diawali huruf ‘m’ hingga akrab dilafalkan munggah. Kata ini sering dikaitkan dengan proses ibadah haji (munggah haji). Dalam ibadah ini terjadi proses naik (bergerak) secara lahiriyah dan (seharusnya) batiniyah. Secara lahiriyah berarti naik pesawat terbang atau kapal laut. Sedangkan secara batiniyah adalah berubah dari sifat yang buruk menjadi lebih baik (mabrur).[2]

 

Sedangkan “munggah” dalam menghadapi bulan puasa, yaitu unggah kana bulan nu punjul darajatna, artinya naik ke bulan yang luhur derajatnya. Dari kata munggah tersebut tersirat perubahan, baik secara lahiriyah dan (seharusnya) batiniyah. Secara lahiriyah misalnya, kita harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Jadwal makan berubah dari biasanya. Tapi seharusnya berubah dalam pemikiran, [3]ibadah, sikap hidup dst. yang tentunya ke arah yang lebih baik. Seandainya semua itu terlaksana, itulah orang yang benar-benar menang, (suci, fitri) di hari lebaran.

 

Seiring dengan perkembangan zaman Munggahan hanya diartikan sebagai makan-makan atau kumpul-kumpul bersama keluarga atau teman dalam menyambut bulan Ramadhan. Meski tradisi munggahan mulai memudar, walau belum hilang secara keseluruhan, tapi dengan acara makan bersama tersebut diharapkan bisa mempererat tali silaturahmi.

-       Bentuk Kegiatan Munggahan

Biasanya Munggahan dilaksanakan satu atau dua hari menjelang bulan Ramadhan. Masyarakat melaksanakan momentum ini dengan berbagai macam kegiatan seperti acara makan bersama-sama (botram) dengan keluarga, sanak saudara, kerabat dekat, dan tetangga di pegunungan, sawah, dan bukit-bukit. Adapun bentuk kegiatan lain dari tradisi munggahan yaitu ada yang mengunjungi tempat wisata dengan keluarga ataupun acara resmi keagamaan, dan ada yang berziarah ke makam wali, kuburan orang tua, syekh dan ulama penyebar Islam di suatu daerah.

Saling memaafkan di antara sesama kaum Muslim terutama dengan kerabat, bermaksud untuk membersihkan jiwa dari segala dosa sesama manusia. Hal itu tercermin pula dalam Alquran sebagai suatu perbuatan untuk menggapai kebahagiaan, yaitu yang artinya “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (Quran surah Asyams).

Selain menyucikan jiwa dari dosa dengan sesama manusia, dengan Yang  Maha Kuasa, juga menyucikan fisik yang dianjurkan dalam agama Islam khususnya. Hal itu dapat terlihat dalam Alquran yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Quran surah Al-baqarah 222).

Intinya sama, yakni untuk mempersiapkan diri memasuki sasih siyam. Warga yang pergi ziarah, umpamanya, bermaksud menyucikan diri dan mengingatkan diri pada kematian. Di suatu kampung ada yang pergi ke sawah untuk botram (makan bersama-sama) bersama warga sekampung. Tapi, kebiasaan ini sekarang agak sedikit menghilang. Lagi-lagi globalisasi yang dipersalahkan. Kemudian, bagi orang Sunda yang masih kental memegang tradisi dari Islam Jawa, akan melakukan prosesi nyadran atau menggelar malam nifsyu Syaban. Ya, tujuannya sama yakni untuk bersiap diri menghadapi rongkahna (dahsyatnya) gangguan di bulan Ramadhan.

Dalam tradisi “munggah”, biasanya seluruh anggota keluarga yang berada di luar kota akan berkumpul di tempat orang tuanya yang umumnya berada di pedesaan. Ini dilakukan untuk menjadi keharmonisan hubungan keluarga, menikmati saat santap sahur bersama yang sangat jarang dilakukan. Namun kini akibat pengaruh migrasi, tradisi “munggah” tidak lagi dianggap perlu dilakukan di kampung, di kota pun bisa. Misalnya dengan mengunjungi tempat hiburan atau tempat-tempat yang memungkinkan tetap mempertahankan tradisi ini. Kegiatan “munggah” umumnya dilakukan oleh individu, keluarga, dan kelompok masyarakat. Yang biasanya menonjol biasanya berupa kegiatan bersuci atau mandi besar, kemudian tabuhan-tabuhan bedug setelah salat subuh hingga menjelang malam pertama Ramadhan, dan acara membersihkan makam, serta makan bersama.

[4]

Dari sekian kegiatan munggahan, yang menonjol dari tradisi ini adalah, acara makan bersama yang selalu menjadi pusat perhatian. Tidak jarang pula, setiap kantor-kantor mengadakan acara Munggahan ini bersama para karyawannya.

 

Acara makan ini menjadi sangat menarik, manakala acara ini di selenggarakan di tempat-tempat tertentu yang menjadi favoritnya. Seperti di sekitar kebun pinggir sawah, sambil menikmati makanan dan pemandangan serta alam yang indah dan sejuk.

 

Menu yang biasa disajikan dalam acara munggahan ini adalah bakar ikan, dengan pelengkap lalaban, sambal terasi, atau sambal dadak serta nasi liwet yang panas. Lebih enak lagi kalau nasi liwetnya disajikan di atas daun pisang. Dengan begitu, rasa kebersamaannya pun lebih terasa. Itu merupakan sajian yang lezat dan menjadi ciri khas ketika berada di kampung.

 

Makan bersama pada waktu munggah rasanya berbeda dengan hari-hari biasa, lebih spesial. Tentunya masyarakat juga menyiapkan menu yang lebih mewah dibanding hari-hari biasa untuk makan sahur pertama. Orang yang kurang mampu banyak juga yang memaksakan untuk membeli lauk yang sedikit lebih mewah karena mereka menganggap setahun sekali tidak apa-apa makan mewah. Bahkan ada yang rela untuk berhutang kepada tetangganya. Bisa terlihat bagaimana antusias masyarakat pada tradisi munggahan ini. Karena itulah tradisi ini perlu dipelihara, jangan sampai pudar di makan zaman.

 

-       Manfaat dari Tradisi Munggahan

Tradisi munggahan bukan hanya sebuah kebiasaan yang sudah menjadi budaya bagi masyarakat sunda dimanapun masyarakat sunda berada seperti di daerah bekasi,jakarta,bahkan luar Jawa pun ada . Tradisi munggahan memberikan banyak manfaat dan makna bagi mereka. Diantaranya mempererat silaturahmi baik dengan keluarga, teman, sahabat, kerabat, saudara bahkan juga dengan tetangga kita sendiri. Disamping kita dapat bersilaturahmi, kita juga dapat saling memaafkan sehingga kita mempunyai hati yang bersih untuk memulai ibadah puasa. Kita juga bisa memberikan kebutuhan pokok pada warga miskin tanpa membeda-bedakan untuk digunakan pada hari pertama menjalankan puasa. Selain itu juga merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.

 

Munggahan kalau direnungkan akan mempererat rasa kolektif antar manusia hingga dapat mengeluarkan diri dari jurang kemiskinan. Tradisi munggahan juga secara praksis sosial adalah salah satu aktus atau habitus yang bakal menaikkan diri kita ke tangga pribadi yang sarat nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, bulan puasa harus dijadikan bulan untuk meninggalkan perilaku sombong, pelit, jail, sirik dan fitnah yang merupakan representasi anomali kemanusiaan dalam diri kita.

 

Sebetulnya makna dari tradisi munggahan adalah untuk introspeksi diri dari segala kesalahan yang sudah pernah kita lakukan sebelumnya, dan semoga sebelum memasuki bulan Ramadhan tersebut, segala kesalahan kita terutama kepada sahabat, teman dan keluarga dapat diampuni. Yang pada akhirnya kita memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan bersih hati dan bersih diri.

 

Nilai-nilai yang terkandung dari silaturahmi ini sangatlah penting untuk tetap kita pertahankan bahkan kepada anak cucu kita kelak. Karena seperti di zaman sekarang ini dimana rasa persaudaraan sudah mulai pudar, maka dengan tradisi munggahan ini di harapkan dapat mempererat silaturahmi diantara kita sebagai umat manusia, di mana pun tempatnya, perlu diingat bahwa munggahan mestinya bisa menciptakan empati dan kolektivisme di tengah-tengah pergaulan sosial. Sebab, munggahan merupakan tradisi lokal yang berdialektika dengan ajaran Islam untuk menyadarkan manusia bahwa perilakunya harus bersih dari anasir-anasir yang bisa mengotori jiwa.

 

Artinya, puasa harus dijadikan medium untuk mengempati penderitaan orang lain hingga engkau (si miskin) adalah aku (yang merasakan penderitaan fakir miskin). Itulah inti dari munggahan yakni mempersiapkan diri untuk ngunggahkeun pribadi ke posisi yang dihiasi rasa empati dan kolektivisme. Sebab, Tuhan mewajibkan hamba-Nya berpuasa di bulan Ramadan untuk menyadarkan bahwa kita harus terus merasakan dan menanggulangi penderitaan sesama.

 

Dengan demikian, tradisi yang terlihat sederhana ini harus tetap di jaga dan dilestarikan, khususnya bagi masyarakat di tatar sunda, Jawa Barat. Karena tradisi ini memiliki banyak manfaat dan makna tersendiri. Intinya, dengan munggahan  kita dapat menyucikan diri dari dosa lewat silaturahmi dan sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap Allah SWT, serta menunjukkan rasa bahagia, rasa hormat, dan merupakan antusias kita terhadap datangnya bulan Ramadhan. Bagi masyarakat Jawa Barat mari kita pegang teguh tradisi leluhur kita ini[5].

 

 

 

 

 

 

 

 

III. KESIMPULAN

Munggahan itu tradisi Islam yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, Sunda , Betawi dan lain" biasa nya Munggahan itu dilakukan sebelum 1/2 hari menjelang Ramadhan nah biasa warga" itu melakukan Munggahan itu seperti sedekahan, bermaaf" an, kumpul keluarga, dan berziarah ke makam keluarga atau ke orang" shaleh

Kemudian Munggahan ini yang biasa diartikan dengan rasa syukur kepada Allah untuk membersihkan diri dari hal-hal yang buruk selama setahun sebelum nya dan terhindar dari perbuatan tidak baik selama menjelang Ramadhan.

 

 

B. DAFTAR PUSTAKA

 

Masim “Vavai” Sugianto – munggahan puasa di bekasi September 12, 2007, 1 November 2010

Rohmah, Siti (2014). Makna Ritual Munggahan Bulan Ramadhan (Studi Kasus Di Masyarakat Kampung Cipinang Rt. 03 Rw. 02 Desa Gandasari Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung)

 

Warsito.R,2012 Antropologi budaya. Penerbit Ombak.Yogyakarta

 

Tradisi munggahan masyarakat jawa barat ,untaian mutiara nasional 17 juli 2010

 

Kalsum. 2010. Kearifan Lokal dalam tradisi munggahan : Tradisi Menghormati leluhur Masyarakat Sunda di Jawa Barat, Indonesia. Sosiohumanika. 3 (1): 79-94



Masim “Vavai” Sugianto – munggahan puasa di bekasi september 12, 2007, 1 November 2010[1]

[2] Rohmah, Siti (2014). Makna Ritual Munggahan Bulan Ramadhan (Studi Kasus Di Masyarakat Kampung Cipinang Rt. 03 Rw. 02 Desa Gandasari Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung)

[3] Warsito.R,2012 Antropologi budaya. Penerbit Ombak.Yogyakarta

[4] Tradisi munggahan masyarakat jawa barat ,untaian mutiara nasional 17 juli 2010

[5] Kalsum. 2010. Kearifan Lokal dalam tradisi munggahan : Tradisi Menghormati leluhur Masyarakat Sunda di Jawa Barat, Indonesia. Sosiohumanika. 3 (1): 79-94


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKULTURASI BUDAYA – KESELARASAN DALAM BUDAYA JAWA SESAJEN DI DESA JETAK KECAMATAN WEDARIJAKSA KABUPATEN PATI

AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN TIONGHOA DALAM MOTIF BATIK LASEM

PELESTARIAN BUDAYA JAWA ISLAM DALAM TRADISI 10 SYURO SYEKH AHMAD MUTAMAKKIN DI DESA KAJEN MARGOYO KABUPATEN PATI