UNSUR ISLAM DALAM TRADISI WEHWEHAN DI KALIWUNGU KAB.KENDAL
UNSUR ISLAM DALAM TRADISI WEHWEHAN DI KALIWUNGU KAB.KENDAL
Safira
Nur Khikmah
Jurusan
Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Humaniora
UIN
Walisongo Semarang
ABSTRAK
Tradisi wehwehan
merupakan suatu tradisi yang sudah ada sejak dulu, dan sampai sekarang masih
ada, tradisi ini disebut trasdisi lokal yang turun menurun, tradisi wehwehan
ini hanya ada di kaliwungu kab.kendal. Kendal yang dilaksanakan setiap
memperingati kelahiran nabi atau maulid nabi Saw. Sebuah
Kota Kecamatan yang wilayahnya terletak di sebelah timur Kabupaten Kendal, dan
berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Di kota ini banyak pesantren
tradisional atau salaf, yang santrinya berasal dari berbagai kota di Indonesia,
maka Kaliwungu di sebut juga Kota santri Kaliwungu. Ada
sebuah tradisi unik di kota kecamatan Kaliwungu ini, yaitu suatu tradisi yang
konon hanya ada di kota kaliwungu ini saja. Tradisi itu disebut Weh wehan,
ngewehi atau Ketuwinan yang di adakan setahun sekali yang katanya sudah ada
sejak zaman para wali. Weh – wehan yaitu suatu tradisi untuk memperingati
kelahiran (Maulid) manusia suci Baginda Nabi Rosulullah Muhammad SAW, yang mana
jatuh pada tanggal 12 Robiul awal atau Tahun Gajah sebutanya, yang waktunya di
mulai sejak sore hingga malam hari menjelang sholat is’ya. Di dalam weh – wehan
atau ketuwinan tersebut kita saling memberikan atau tukar jajanan dan makanan
kepada saudara, tetangga sekitar dan dengan maksud untuk saling menjaga tali
silaturahmi antar saudara, weh – wehan biasanya di lakukan oleh anak – anak,
tapi kadang juga remaja dan orang dewasa. Ada satu khas makanan di weh – wehan
yaitu “Sumpil”, makanan ini berbentuk
segitiga yang di bungkus dengan daun bambu terbuat dari beras dan di makan
dengan sambel urap kelapa. Tidak ketinggalan pula warga Dusun
Mbalun Desa Kumpulrejo yang terletak di sebelah paling barat Kecamatan Kota
Kaliwungu, ikut merayakan tradisi weh – wehan ini, Seperti kata salah satu
warga yang merayakan tradisi ini “tradisi weh – wehan ini untuk peringati
kelahiran Rosulullah Nabi Muhammad SAW, disini kita saling memberi makanan dan
jajanan yang mana kita meneladani sifat nabi yang suka berbagi pada sesama,
yang tujuan untuk saling silaturahmi antar tetangga dan saudara.
Kata
kunci : Tradisi Wehwehan di Kaliwungu Kab.Kendal
I. PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Manusia dalam hidupnya tidak dapat terlepas dari tradisi dan
kebudayaan. Tradisi merupakan kegiatan terus menerus yang dilakukan warga
setempat hasil dari warisan nenek moyang orang terdahulu. Disisi lain, selain
manusia sebagai makhluk budaya manusia juga sebagai makhluk sosialyang
membutuhkan satu dengan yang lain. Tradisi itulah yang mempengaruhi perilaku
manusia dalam bermasyarakat. Kajian yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah pertama, apa makna tradisi weh-wehan yang ada di
kecamatan Kaliwungu kabupaten Kendal, kedua apa pengaruh tradisi
weh-wehan terhadap Ukhuwah Islāmiyah warga masyarakat kecamatan Kaliwungu
kabupaten Kendal.
pengaruh positif baik pengaruh dari segi akidah maupun dari segi
sosial. Ternyata tradisi weh-wehan selain ajang dalam rangka mendekatkan diri
dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt, juga terdapat unsur
pendidikandi dalamnya. Salah satu diantaranya melihat dari pelaku tradisi
wehwehan yang mengutamakan anak kecil. Masyarakat Kaliwungu secaratidak langsung
mempunyaikonsep mendidik putra-putri mereka agar bersemangat berbagi kepada
sesama. Disisi lain, meskipun kepercayaan masyarakat kaliwungu tidak semuanya
beragama Islam, namun dalam kenyataanya ketika tradisi weh-wehan, yang
mengikuti tidak hanya orang muslim. Tarutama dalam Lomba “Festival Pekan
Maulud” semua warga masyarakat sangat berantusias ikut berpartisipasi. Hal
inilah yang membuat suasana tersendiri ketika berada di Kaliwungu dibandingkan
dengan daerah lain di kabupaten Kendal yang tidak terdapat semacam tradisi weh wehan.
II.
PEMBAHASAN
Kebudayaan merupakan suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dalam
kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan adalah kompleks keseluruhan dari
pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan
dan kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota
masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari
dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat. Budaya
terbentuk dari banyak unsur diantaranya, termasuk sistem agama, politik,
tradisi, bahasa, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, salah satu
unsurbudaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan
perbedaanperbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Seperti
halnya di Kaliwungu sendiri tentu memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa daerah
lain. Kaliwungu kabupaten Kendal maka bahasa yang digunakan adalah bahasa ciri
khas Kendal sepertikata “ra” , pak rindi
(mau kemana)”, “mberoh (gak tau)”, “meni (banget)” dan lain sebagainya. Begitu
juga mengenai tradisi yang ada di Kaliwungu juga sangat beragam. Tradisi itu
sendiri berasal dari Bahasa Latin “traditio”, yang artinya
"diteruskan" atau kebiasaan. Tradisi dalam pengertian yang paling
sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi
bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara,
kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Di Kaliwungu banyak akan
tradisi-tradisi yang ada. Seperti tradisi syawalan, tradisi ziarah dan
pergantian tirai di makam Kyai guru (Asy’ari, Sunan Katong), weh-wehan,
dugderan, tradisi pernikahan, dan sebagainya. Hal yang paling mendasar dari
tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik
tertulis maupun lisan, sehingga dapat dilakukan secara terus menerus dan
dipertahankan supaya tidak punah.
1.Prof.Dr. Sri Suhandjati, Islam
dan Budaya Jawa Revitalisasi Kearifan Lokal.Semarang : CV.Karya Abadi
Jaya,2015.cet.1
Perayaan maulid Nabi Muhammad saw merupakan perayaan bagi seluruh
umat Islam. Namun corak dan kegiatannya di laksanakan sesuai dengan kearifan
lokal masing-masing wilayah. Maulid Nabi artinya hari kelahiran Nabi Muhammad
saw. Tepatnya yaitu tanggal 12 Rabi’ul awal. Setiap bulan maulud (bulan dalam
hitungan jawa) umat Islam akan memperingati maulid nabi. Masjid dan muṣola
ramai terkumandangkan Sholawatan baik anak kecil, remaja maupun orang tua ikut
meramaikan masjid dan muṣola untuk membaca kitab Zdibak dan berjanjen.
Memperingati hari kelahiran nabi sangat lekat dengan kehidupan warga NU. Cara
memperingatinya pun sangat bermacam-macam. Secara umum perayaan tersebut
merupakan bentuk rasa syukur, kegembiraan dan penghormatan terhadap hari
lahirnya Nabi Muhammad saw dan perjuanganya dalam menegakkan agama Allah swt. Namun
bentuk ungkapan kegembiraan dan penghormatan disesuaikan dengan kearifan lokal
masing-masing tempat. Biasanya, ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan
special untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang
menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar
seperti diselenggarakan di muṣhola dan masjid-masjid, bahkan ada yang
besar-besaran dihadiri puluhan ribu umat Islam. Pada umumnya memperingati maulid
nabi dilakukan dari tanggal 1-12 Rabiul awal. Hanya saja pada tanggal 12 Rabiul
awal yang masing-masing daerah berbeda-beda. Ada yang sehari penuh berjanjenan atau
Zdiba’an yang isinya tidak lain adalah biografi dan sejarah kehidupan
Rasulullah yang dilaksanakan di masjid atau muṣola, ada yang hanya malam
tanggal 12 nya saja dengan seluruh warga dimintai jajanan untuk khataman
istilahnya, bisa juga ditambah dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti menampilkan
kesenian hadrah atau pengumuman berbagai lomba, sedang puncaknya ialah
mau’idzah hasanah dari kyai atau ustadz setempat . Begitu halnya di daerah
Kaliwungu masyarakat melaksanakan tradisi ketuwinan atau weh-wehan.
Memperingati maulid nabi menurut ulama NU adalah bid’ah. Karena perbuatan
tersebut tidak dilakukan di zaman nabi. Akan tetapi termasuk bid’ah hasanah
yang diperbolehkan Islam. Karena banyak amalan seorang muslim yang di zaman
nabi tidak ada dan sekarang dilakukan umat Islam, seperti berjanjen, Zdiba’,
yasinan, tahlilan. Oleh karena itu, klaim adanya hadist
yang memerintahkan perayaan maulid tidak benar, dam hadist yang dimaksudkan
adalah maudhu’. Karena jika hadist itu benar-benar ada, tentu para sahabat
melakukan perayaan maulid. Adapun ulama yang melakukan perayaan maulid
ituberdasarTradisi peringatan maulid nabi Muhammad saw di Kaliwungu mengusung
nilai dan cara keberagaman lokal. Secara historis Islam bukan hanya mewarisi
ajaran-ajaran sebelumnya, tetapi lebih dari itu Islam juga mempertahankan
sebagian tradisi sebelumnya. Seperti halnya manusia yang juga lahir dari
lingkungan adat dan kulturalnya masing-masing. Kebudayaan setempat berpengaruh
terhadap akulturasi keberagaman seseorang dimana dia lahir dan dibesarkan. Oleh
karena itu, sulit diterima pernyataan yang mengatakan bahwa seseorang bisa
beragama secara murni tanpa dibentuk oleh lingkungan kulturalnya. Sebaliknya
apa yang dihayati oleh pemeluk suatu agama tidak lain adalah akumulasi tradisi
keberagamaan.Tradisi di dalam dunia Islam, bukanlah hal yang baru terdengar.
2.Paul B.Hortory Chester L.Hunt, Sosiologi, Terj. Drs.Aminuddin
Ram, M.Ed. Dra.Tita Sobari, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1999
Akan tetapi “tradisi” yang dimaksud adalah tradisi nabi dan para
sahabatnya bukan hasil jiplakan seperti yang dikemukakan kaum orientalis.
Tradisi dalam hal ini adalah hasil interaksi antara al-Qur’an dan as-Sunnah
dengan macam-macam penafsiran sehingga menghasilkan ketentuan yang bersifat
doktrinal, filosofis, etis serta konsep prilaku Islami yang bercirikan tauhid.
Sebagaimana tradisi berpindah dari satu ke generasi berikutnya, tentu selalu
mengalami perubahan dan perkembangan berdasarkan kondisi yang berbeda beda dinyalakan
dengan lampu minyak, namun pada zaman sekaranglampu minyak lambat laut diganti
dengan bohlam listrik.Tradisi weh-wehan di Kecamatan kaliwungu merupakan
tradisi yang dijalankan masyarakat hingga sekarang menunjukkan bahwa tradisi
“weh-wehan” tidak melenceng dariajaran Islam. Tradisi “weh-wehan” dalam rangka
memperingati maulid Nabi tujuanya adalah mengenang, mengulang kembali kisah
tentang perjuangan nabi dalam menegakkan agama Islam di tengah-tengah
orang-orang kafir zaman dahulu. Tradisi wehwehan ini termasuk dalam bid’ah
(suatu perbuatan / kegiatan yang tidak dilakukan pada zaman nabi). Akan tetapi
termasuk bid’ah yang hasanah (bid’ah baik). Pada dasarnya sesuatu yang bid’ah
tidak baik untuk syari’at, akan tetapi jika baik dari sari segi sosial maka
sesuatu tersebut boleh dilakukan. Karena tujuan tradisi “weh-wehan” adalah
kembali kepada Allah sebagai rasa syukur atas segala karunia-Nya dan segala
kenikmatan yang diberikan, dimana dalam tradisi tersebut terdapat unsur
sodaqoh, tolong-menolong antar sesama, saling memberi, dan tentunya mengingat
kembali perjuangan Rasul dalam menegakkan agama yang kita yakini sekarang, yaitu
meng Esakan allah swt. Adapun hal lain yang menarik dari penelitian ini adalah
lokasinya yang berada di Kaliwungu. Mayoritas penduduk Kaliwungu
adalah muslim, dan mayoritas warganya NU. Secara organisasi kelahiran NU
berkepentingan untuk melindungi praktek keberagaman tradisional, atau dengan
kata lain melestarikan tradisi-tradisi keagamaan. Mayoritas keanggotaan NU
adalah masyarakat pedesaan berbudaya agraris dan sebagian besar dari mereka
menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Ciri budaya agraris erat sekali
dengan sebutan masyarakat tradisional. Selain itu Kaliwungu sendiri juga
disebut sebagai Kota Santri, dikarenakan disana terdapat banyak
pesantrenpesantren. Sehingga dengan adanya tradisi weh-wehan ini diharapkan
sangat mungkin akan lebih terciptanya ukhuwah Islāmiyah yang kental.
Ø Tujuan dan Manfaat Tradisi wehwehan
Untuk mengetahui makna tradisi weh-wehan di Kecamatan Kaliwungu
Kabupaten Kendal, Untuk mengetahui apa pengaruh tradisi weh-wehan terhadap ukhuwah
Islamiyah masyarakat di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal, agar dapat mengetahui makna tradisi weh-wehan
di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal, agar dapat mengetahui apa pengaruh
tradisi weh-wehanterhadap ukhuwah Islamiyah masyarakat di Kecamatan Kaliwungu
Kabupaten Kendal, Sebagai sumbangan pemikiran untuk kepentingan ilmu
pengetahuan terutama dalam bidang aqidah dan filsafat.
Dalam menyambut maulud Nabi
Muhammad SAW, masyarakat Kaliwungu di Kendal, Jawa Tengah, melakukan tradisi
Weh wehan atau Ketuwinan. Mereka berkunjung kepada tetanga ataupun
kerabat, serta saling memberikan makanan. Weh wehan mulai
dilakukan usai Ashar hingga esok harinya.Menurut salah satu warga Kaliwungu weh
wehan sudah berlangsung ratusan tahun lalu. Tradisi itu dilakukan oleh para
ulama penyebar agama Islam di Kaliwungu sekitarnya, dengan tujuan untuk
memperingati hari lahir dan meninggalnya Nabi Muhammad.
3.Dinamika Islam dan Budaya Jawa”,
Dewaruci Edisi 21, Juli-Desember 2013, Pusat Pengkajian Islam dan Budaya jawa
(PP-IBP), Semarang
Tradisi itu terus dipertahankan sampai sekarang," Dody
menjelaskan, tradisi weh wehan atau ketuwinan hanya dapat dijumpai di Kota
Kaliwungu. Istilah weh wehan berasal dari kata weweh (Bahasa Jawa) yang berarti
memberi, sedangkan istilah ketuwinan berdasar dari kata tuwi atau tilek (Bahasa
Jawa). Artinya menengok atau berkunjung atau silaturahmi."Jadi weh wehan
atau ketuwinan artinya memberi atau berkunjung atau bersilaturohim kepada
tetangga, teman, kerabat, atau saudara," ujarnya.Masyarakat Kaliwungu,
sebut dia, menyiapkan berbagai makanan tradisional yang dihidangkan di
depan rumah masing-masih. Mereka seperti berjualan. Tetangga yang berkunjung
untuk memberi makanan, akan diganti dengan makanan miliknya. Makanan
tradisional yang dihidangkan, adalah Sumpil. Sumpil terbuat dari nasi yang
dibungkus oleh daun bambu (seperti ketupat) berbentuk segita. Cara memakannya
dicampur dengan sambal kelapa. Tapi sekarang, makanannya sudah tidak hanya sumpil, tapi juga ada
roti dan lainnya," ucapnya. Hal senada juga diakui oleh
Mardiyono Warga asli Kaliwungu ini, mengaku kalau tradisi weh wehan atau
ketuwinan, sudah ada sejak dia kecil.Selain tradisi weh-wehan, tambahnya, ada
juga teng-tengan. Teng-tengan adalah semacam lampu lampion, terbuat dari bilah
bambu dan kertas yang di dalamnya ada lampu dari minyak.Pada awalnya bentuk
lampion ini masih terbatas pada bentuk pesawat, perahu ataupun bintang. Namun
seiring berjalannya waktu, kreatifitaspun tumbuh. Di dalam lampion, tidak lagi
lampu dari minyak, tapi sudah berganti nyala lampu listrik."Lampion biasa
dipasang di depan rumah di bulan Maulud ini. Namun untuk yang suka kepraktisan
biasanya teng-tengan ini diganti dengan lampu hias listrik warna-warni,"
ucap Mardiyono.
Kecamatan Kaliwungu berada di sebelah timur Kabupaten Kendal Jawa
tengah, letaknya berbatasan dengan Kecamatan Mangkang Kota Semarang. Kaliwungu
mendapatkan julukan sebagai kota santri. Kota kecamatan yang penuh sesak dengan
anak-anak yang nyantri di pesantren-pesantren tradisionalis khas salafi. Cikal
bakal Kaliwungu sendiri menurut cerita dari ibuku dahulu kala Sunan
Katong dan Sunan Pakuwojo adalah guru dan murid yang berbeda
pendapat. Karena perbedaan itu mereka berdua bertarung hingga wafat. Darah yang
keluar dari Sunan Katongberwarna biru dan darah dari
Sunan Pakuwojoberwarna merah. Darah tersebut tumpah di kali sehingga
berwarna ungu maka daerah itu disebut Kaliwungu. Kampung istriku sendiri berada
persis di bawah bukit makam kedua sunan tersebut yang merupakan kompleks
pemakaman atau orang setempat termasuk istriku menyebutnya dengan jabal di situ
juga bapak mertuaku dimakamkan ..duh jadi ingat bapak. Kembali ke
tradisi weh-wehan -saling memberi dalam bahasa Jawa atau sebutan lain
tradisi ini adalah Ketuwinan dalam bahasa Jawa berarti adalah
bertemu. Saling memberikan jajanan kepada tetangga sekitar atau dan saling
menjaga bersilaturahmi kerabat dan handai taulan. Dimulai sejak ashar sampai maghrib.
Tradisi ini diadakan setahun sekali, yaitu pada bulan mulud dalam
penanggalan Jawa dan tanggal 12 Rabbi'ul Awwal menurut kalender Hijriyah.
Weh-wehan adalah puncak perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di kaliwungu setelah
7 hari sebelumnya pada setiap malam ada pembacaan syair-syair Berzanji atau
berjanjen kitab yang mengisahkah kelahiran sampai wafatnya Kanjeng Nabi
Muhammad SAW di masjid-mushola dan sebagainya. Secara makna tradisi tersebut
adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
__________________________________________________________________________________
4.Al-Habib Zainal Abidin bin
Ibrahim bin Smith al-Alawi al-Husaini, Tanya Jawab Aqidah Ahlusunnah wal
Jamaah, Kalista, Surabaya, 2009.
Tradisi lain yang dulu pernah ada dan
meramaikan muludan di Kaliwungu menurut buk yah
adalah teng-tengan yaitu hiasan lampu sentir lampion dari bambu
dengan bentuk kapal, atau bintang dan yang dipasang di depan rumah. Aku
terakhir masih mengalami masa teng-tengan tahun 1997-an. Tetapi masih ada
sebagian yang membuat teng-tengan yang lebih modern -dengan lampu
listrik, di kampung sebelah seperti Krajan atau Sarimanan.
Tradisi-tradisi adalah produk budaya, dan keduanya saling
mengisi dan membentuk makna. Koentjaraningrat mendefinisikan tradisi
sebagai konsep serta aturan yang mantab dan terintegrasi kuat dalam sistem
budaya yang menata tindakan manusia dalam sosial budaya. Dengan terjaganya
tradisi maka dengan sendirinya menjadi benteng arus perubahan zaman yang terus
menggempur. Tanpa dipungkiri tradisi weh-wehan sebagai salah satu tradisi yang
masih ada di Kaliwungu akan semakin menghilang. Makna yang terkandung dalam
tradisi tersebut di atas bukan saja bermakna dari segi religiositas namun juga
dari sisi pluralisme yang menjaganya dari ketertinggalan zaman.
WEWEHAN...Pasti pada bingung apaan sih? Bagi
warga kaliwungu dan sekitarnya pasti sudah tidak asing lagi.Wewehan berasal
dari kata dasar weweh dalam bahasa jawa yg artinya memberi,dan wewehan artinya
saling memberi, masih bingung? apaan itu..), oke aku jelasin
:) ..Wewehan adalah tradisi turun temurun di daerah kaliwungu dan sekitarnya
untuk memperingati maulid nabi muhammad SAW yaitu berupa saling bertukar
makanan.. Sekilas kegiatan tersebut mirip dengan kegiatan barter, namun
ada perbedaan mendasar antara keduanya. Dalam barter, orang
akan bertransaksi apabila merasa cocok dengan barang yang akan dibarter.
Sementara dalam wewehan, penukaran makanan didasarkan pada keikhlasan memberi,
bukan berdasarkan selera penukarnya. Wewehan merupakan tradisi yang masih
berkembang di masyarakat Kaliwungu yang sudah turun-temurun sampai saat ini.
Dalam kegiatan wewehan terkandung makna mendalam tentang pentingnya berbagi
dengan sesama.seluruh warga akan mempersiapkan berbagai hidangan makanan
tradisional yang di hidangkan di depan rumah mereka masing-masih seperti sedang
berjualan. Sedangkan anak-anak kecil akan sibuk mendatangi rumah-
rumah warga untuk bertukar makanan. Setiap rumah akan membuat berbagai makanan
tradisional yang nantinya akan dijadikan bahan pertukaran. Tugas menukarkan
makanan akan diberikan kepada anak-anak kecil. Jika ada keluarga yang tidak
memiliki anak kecil, mereka hanya akan menunggu anak- anak mendatangi rumah..
Teng-Tengan
Salah satu yang khas dari tradisi wewehan ini adalah lampu hias
nya..lampu hias tersebut adalah "teng-tengan" . Teng-tengan adalah
sejenis lampion dari bilah bambu yg dibalut dengan kertas warna-warni dan di
buat menyerupai apa saja yg di inginkan seperti bintang, kapal laut, kapal
terbang, atau petromaks. Zaman dahulu, teng-tengan dinyalakan dengan lampu
minyak, namun sekarang lampu minyak telah digantikan bohlam listrik.Tak kalah
uniknya, selain teng-tengan yang menunjukkan kreasi ada juga aneka
mobil-mobilan yang di gunakan sebagai angkutan makanan mereka, biasanya di buat
dari pelepah Sagu (mbulung) yang di rakit berbentuk mobil , biasanya mobil truk
agar baknya dapat diisi makanan, berbagai ukuran dan bentuk yang dibuat. Nah
kalau yang ini selain anak tersebut yang membuat juga di bantu orang tua mereka
sehingga menjadi kreasi yang sangat
bagus. Setelah wewehan selesai mereka saling menabrakkan mobil mereka untuk
membuktikan milik siapa yang paling kuat. Tradisi wewehan sangat kental di
Kaliwungu, sehingga banyak tetangga kota lain ikut datang ke Kaliwungu untuk
menikmati ritual itu. Selepas Magrib tiba waktunya
berpesta, anak-anak mulai membawa berbagai makanan mengunjungi tetangga,
memberikan makanan yang mereka miliki dan menukar dengan makanan lainnya milik
tetangga,berbagai makanan tersaji sehingga bebas memilih apa saja yang di
kehendaki. Pengalaman saya sewaktu kecil sering bertanya ke teman yang lainnya
di mana ada makanan yang enak, misalkan teman menginformasikan kalau di rumah
milik A di sediakan Bakso, nah bagi penggemar bakso akan berbondong bondong ke
rumah A untuk menukar makanan mereka dengan Bakso :) ..
SUMPIL .
Selain Teng-Tengan ada ciri khas lain dari tradisi wewehan ini
yaitu Sumpil, adalah sebuah makanan seperti ketupat tapi bukan di bungkus
menggunakan daun kelapa melainkan dari daun bambu dan berbentuk segitiga dan
biasanya di padukan dengan sambal kelapa..Yang rasanya udah pasti enak dan Mak
Nyos. Selain tradisi di atas, pada perayaan Maulid Nabi di Kaliwungu juga
diadakan kegiatan pawai ta'aruf yang menampilkan berbagai macam kesenian
tradisional dan modern. Selain itu, setiap dua tahun sekali, Remaja Masjid
Besar Al Muttaqim, Kaliwungu, mengadakan kegiatan Festival Masjid Al Muttaqim
yang dilaksanakan di pelataran parkir masjid selama seminggu. Acara kesenian
dan budaya yang ditampilkan pada acara festival masjid mampu menyedot
pengunjung dari luar kota Kaliwungu.Banyaknya agenda budaya di Kaliwungu pada
peringatan Maulid Nabi Muhammad tentunya bisa dijadikan sebagai agenda wisata
tahunan, sehingga akan memberikan kontribusi yang baik untuk peningkatan
pendapatan asli daerah (PAD) Kendal. Namun perlu di tegaskan bahwa ritual itu
hanyalah sebuah budaya dan tradisi bukan sebuah ritual ibadah, tetapi dari
tradisi tersebut kita dapat mengambil hikmah positif, bahwa Rizki yang Allah
berikan bukan sepenuhnya milik kita tapi ada sebagian yang juga menjadi hak
tetangga kita yang wajib kita bagikan. tradisi tersebut juga mengandung didikan
kepada anak kecil bahwa saling memberi itu harus ditanamkan dari awal sehingga
kelak sudah dewasa dapat menjadi kebiasaan untuk saling berbagi,karena berbagi
itu indah.
Wewehan berasal dari kata weweh yang
dalam bahasa jawa berarti memberi; wewehandapat diartikan dengan
saling memberi. Wewehan merupakan sebuah
tradisi yang berkembang pada masyarakat Kaliwungu untuk memperingati Hari
Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Namun pada beberapa kampung di Kaliwungu
kegiatan wewehandilaksanakan setiap hari
Jumat sebulan sebelum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada tradisi wewehan setiap
warga membuat makanan baik itu jajan pasar maupun makan modern yang akan
dibagikan pada warga yang lainnya. Pembuatan
makanan pun tergantung dengan kondisi kemampuan warga. Biasanya banyak jenis
makanan khas Kaliwungu yang hanya ada pada kegiatan wewehan,
seperti sumpil. Sumpil merupakan sejenis kupat kecil berbentuk segitiga yang
pada saat makannya ditemani sambal kelapa. Proses
perayaan wewehan adalah
setiap warga saling bertukar makanan yang telah mereka buat. Warga yang
memiliki anak kecil, maka si anak lah yang bertugas sebagai pengantar makanan
tersebut. Sedangkan untuk para orang tua yang di rumahnya tidak memiliki anak
kecil biasanya menunggu di rumahnya untuk menunggu hantaran dari para
tetangganya untuk ditukar dengan makanan yang telah dipersiapkan. Sekilas
kegiatan ini mirip dengan kegiatan transaksi barter, namun ada perbedaan
mendasar. Dalam barter orang akan melakukan transaksi apabila merasa cocok
dengan barang yang akan dia barter, namun dalam wewehanpenukaran
makanan tidak didasarkan atas selera penukarnya tapi keiklasan dalam
memberi.
Weh wehan yang
dilaksanakan sebulan sebelum peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW
hanya diikuti oleh anak-anak balita. Seperti halnya Lala, si gadis kecil ini
tidak mau ketinggalan kegiatan wewehanpada setiap hari jumat sore
di kampungnya. Setelah selesai mandi dia dengan diantar ibu bergegas mengambil
makanannya yang akan dibagikan dan ditukar dengan teman-teman sebayanya. Di
kampung Kenduruan kegiatan wewehan Jumat sore selalu
dilaksanakan dibawah musola kampung. Ketika wewehan telah selesai setiap
anak kecil di kampung ini terlihat ceria. Mereka pulang dengan bawaan
beranekaragam makanan yang telah di siapkan
Wewehan sebuah tradisi yang masih
berkembang di masyarakat Kaliwungu sampai saat ini. Dalam kegiatan wewehan terkandung
makna yang begitu dalam tentang pentingnya berbagi pada sesama. Pengetahuan
untuk berbagi pada sejak usia kecil akan membekas pada setiap anak yang
mengikuti acara tersebut. Sehingga, kelak pada saat dia dewasa akan menjadi
orang yang dermawan dan mau menolong sesama. Selain prosesi wewehan,
pada perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW warga Kaliwungu biasanya
akan menghias rumahnya dengan berbagai macam lampu hias. Salah satu yang khas
dari lampu hias tersebut adalah “teng-tengan”. Teng-tengan adalah
sejenis lampion yang berbentuk beraneka ragam, ada bintang, kapal laut, kapal
terbang, petromax, dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu teng-tengan dinyalakan
dengan lampu minyak, namun pada era listrik lampu minyak lambat laut diganti
dengan bohlam listrik. Selain kedua tradisi diatas, pada perayaan Maulid
Nabi Muhammad SAW di kota Kaliwungu juga diadakan kegiatan Pawai Ta’aruf yang
menampilkan berbagai macam kesenian tradisional dan modern. Selain itu setiap
dua tahun sekali Remaja Masjid Besar Al Mutaqim Kaliwungu mwngadakan kegiatan
Festival Masjid Al Mutaqim yang dilaksanakan di pelataran parkir masjid. Banyak
agenda kesenian dan budaya yang ditampilkan pada acara festival masjid
tersebut. Kegiatan festival sendiri biasanya dilaksanakan selama satu minggu
yang mampu menyedot pengunjung dari luar kota Kaliwungu. Jalannya wehweh an
bagi anak anak Warga Kaliwungu Kendal
punya cara tersendiri dalam menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Adalah tradisi tahunan, saat warga
saling bertukar jajan, kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak sebagai
ajang berbagi makanan.
Warga Kaliwungu Kendal punya cara
tersendiri dalam menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW.Adalah tradisi tahunan,
saat warga saling bertukar jajan, kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak
sebagai ajang berbagi makanan. Jalannya weh-wehan ini cukup sederhana, beraneka
macam jajan dijajarkan di depan rumah.Makanan ini tidak untuk dijual, melainkan
disajikan untuk warga sebagai alat tukar dengan makanan pula.Anak-anak memakai
pakaian baru sambil membawa makanan untuk dibagikan atau ditukarkan dengan
makanan dari tetangga.Tradisi ini sendiri sudah ada sejak masa penyebaran agama
Islam di pulau jawa, khususnya di Kaliwungu Kendal. Tradisi yang dikenal dengan
tradisi ketuwin atau weh-wehan ini sebagai bentuk rasa syukur dan bangga, umat
Islam menyambut kelahiran Nabi Muhammad, ujar tokoh masyarakat Kaliwungu,
Asniah. Ditambahkan, tradisi ketuwinan merupakan tradisi paling khas dan unik
di Kaliwungu disebut weh-wehan dikarenakan pada tradisi tersebut dilakukan
acara saling tukar-menukar makanan antartetangga atau kampung bahkan antar saudara. Anak-anak berkeliling kampung
sambil membawa jajanan untuk kemudian ditukar dengan jajanan lain milik
tetangganya,” imbuhnya. Makanan
yang dibagikan pun beragam, mulai dari es berwarna-warni, makanan ringan hingga
cemilan tradisional seperti sumpil. Seorang
bocah, Haydar, memilih es krim sebagai jajanan yang ia ambil saat ditawari
temannya. Dalam tradisi ini, hampir seluruh kampung-kampung di kaliwungu kendal
selalu ramai, dan penuh dengan suka cita. Tradisi ini hampir di setiap desa maupun
sudut perkampungan merayakan atau memperingati tradisi ini. Tradisi lokal yang
turun temurun ini sangatlah memberikan kesan kepada orang lain atau suatu
kebanggaan tersendiri bagi masyarakat kaliwungu kendal. Para ibu ibu memasak
masak menyiapkan makanan menghias rumah makanan yang di saji ada beberapa makanan
seperti makanan buatan sendiri sampe ke makanan yang instandari sinilah kita
dapat belajar apa itu tradisi. Apa pentingnya tradisi bagi masyarakat. Tradisi
ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri
5.H. Munawir Abdul Fatah, Tradisi
Orang-orang NU, Pustaka Pesantren, Yogyakarta,
III. KESIMPULAN
Kebudayaan
merupakan suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan
bermasyarakat. kebudayaan adalah
kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh
seseorang sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah
segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para
anggota suatu masyarakat. Budaya terbentuk dari banyak unsur diantaranya,
termasuk sistem agama, politik, tradisi, bahasa, pakaian, bangunan, dan karya
seni. Bahasa, salah satu unsurbudaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri
manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu dipelajari. Seperti halnya di Kaliwungu sendiri tentu memiliki
bahasa yang berbeda dengan bahasa daerah lain. Kaliwungu berkabupaten Kendal
maka bahasa yang digunakan adalah bahasa ciri khas Kendal seperti, kata “ra” ,
“pak rindi (mau kemana)”, “mberoh (gak tau)”, dan lain sebagainya. Begitu juga
mengenai tradisi yang ada di Kaliwungu juga sangat beragam.
Tradisi
wehwehan Kaliwungu, kendal sebuah Kota
Kecamatan yang wilayahnya terletak di sebelah timur Kabupaten Kendal, dan
berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Di kota ini banyak pesantren
tradisional atau salaf, yang santrinya berasal dari berbagai kota di Indonesia,
maka Kaliwungu di sebut juga Kota santri Kaliwungu. Ada sebuah tradisi unik di kota
kecamatan Kaliwungu ini, yaitu suatu tradisi yang konon hanya ada di kota
kaliwungu ini saja. Tradisi itu disebut Weh wehan, ngewehi atau Ketuwinan yang
di adakan setahun sekali yang katanya sudah ada sejak zaman para wali. Weh –
wehan yaitu suatu tradisi untuk memperingati kelahiran (Maulid) manusia suci
Baginda Nabi Rosulullah Muhammad SAW, yang mana jatuh pada tanggal 12 Robiul
awal atau Tahun Gajah sebutanya, yang waktunya di mulai sejak sore hingga malam
hari menjelang sholat is’ya. Di dalam weh – wehan atau ketuwinan tersebut kita
saling memberikan atau tukar jajanan dan makanan kepada saudara, tetangga
sekitar dan dengan maksud untuk saling menjaga tali silaturahmi antar saudara,
weh – wehan biasanya di lakukan oleh anak – anak, tapi kadang juga remaja dan
orang dewasa. Ada satu khas makanan di weh – wehan yaitu “Sumpil”, makanan ini
berbentuk segitiga yang di bungkus dengan daun bambu terbuat dari beras dan di
makan dengan sambel urap kelapa. Tidak
ketinggalan pula warga Dusun Mbalun Desa Kumpulrejo yang terletak di sebelah
paling barat Kecamatan Kota Kaliwungu, ikut merayakan tradisi weh –
wehan.Seperti kata salah satu warga yang merayakan tradisi ini ibu Ngatini,
“tradisi weh – wehan ini untuk peringati kelahiran Rosulullah Nabi Muhammad
SAW, disini kita saling memberi makanan dan jajanan yang mana kita meneladani
sifat nabi yang suka berbagi pada sesama, yang tujuan untuk saling silaturahmi
antar tetangga dan saudara, katanya. Ya
semoga tradisi weh – wehan ini tetap ada sampai kapan pun tidak tergerus zaman,
dan tetap di teruskan oleh anak cucu kita, imbuhnya. Kearifan lokal seperti ini harus di
jaga dan wajib di uri – uri jangan sampai punah, dengan mempertahankan budaya
kerukunan saling memberi kepada sesama adalah perbuatan yang mulia sekali, baik
untuk mebelajari generasi muda zaman sekarang agar suatu saat nanti tetap
mempertahankan kerifan lokal seperti ini.
DAFTAR
PUSTAKA
1.Prof.Dr. Sri Suhandjati, Islam dan Budaya Jawa Revitalisasi
Kearifan Lokal.Semarang : CV.Karya Abadi Jaya,2015.cet.1
2.Paul B.Hortory Chester L.Hunt, Sosiologi, Terj. Drs.Aminuddin Ram,
M.Ed. Dra.Tita Sobari, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1999
3.Dinamika Islam dan Budaya Jawa”, Dewaruci Edisi 21,
Juli-Desember 2013, Pusat Pengkajian Islam dan Budaya jawa (PP-IBP), Semarang
4.Al-Habib Zainal Abidin bin Ibrahim bin Smith al-Alawi al-Husaini,
Tanya Jawab Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, Kalista, Surabaya, 2009.
5.H. Munawir Abdul Fatah, Tradisi Orang-orang NU, Pustaka
Pesantren, Yogyakarta,
Komentar
Posting Komentar