PENERAPAN BUDAYA ISLAM JAWA DI JAKARTA SELATAN
PENERAPAN BUDAYA ISLAM JAWA DI
JAKARTA SELATAN
Indah Puspitasari
Studi Agama – Agama
Fakultas Ushuluddin dan Humaniora
Universitas Islam Negeri
Walisongo
Semarang
ABSTRAK
Budaya Jawa adalah budaya yang
berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Budaya juga dimaknai sebagai sesuatu yang
membuat kehidupan menjadi lebih baik dan lebih bernilai untuk ditempuh. Untuk
memahai nilai-nilai budaya, terlebih dahulu harus diketahui pengertian nilai
dan budaya. Nilai adalah hakikat suatu hal, yang menyebabkan hal itu pantas
dikejar oleh manusia (Driyarkara dalam Suwondo, 1994). Nilai-nilai itu sendiri
sesungguhnya berkaitan erat dengan kebaikan, meski kebaikan lebih melekat pada
‘hal’ nya. Sedangkan ‘nilai’ lebih merujuk pada ‘sikap orang terhadap sesuatu
atau hal yang baik’.
Budaya
Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya
Jawa Tengah-DIY, dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan,
keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari. Budaya Jawa menjunjung
tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah,
Yogyakarta, dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu
di Jakarta, Sumatra, dan Suriname.
Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya
di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa
yang diminati di luar negeri adalah Wayang kulit,
Keris,
Batik,
Kebaya, dan Gamelan. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah
keris karena pengaruh Majapahit. LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan
wayang remaja adalah LSM Asia
pertama yang menerima penghargaan seni dari Amerika Serikat
tahun 2011. Gamelan Jawa
menjadi pelajaran wajib di AS, Singapura, dan Selandia Baru. Bahkan
gamelan Jawa rutin digelar di AS dan Eropa
atas permintaan warga AS dan Eropa itu
sendiri. Sastra Jawa Negarakretagama
menjadi satu satunya karya sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Karakter masyarakat Jawa
dikenal sebagai masyarakat yang sangat toleran dengan budaya asing yang masuk
ke wilayah kebudayaan Jawa, termasuk salah satunya adalah islam hal ini terjadi
karena sikap mental masyarakat Jawa berbasis pada moralitas harmonisasi
kehidupan.Islam sebagai agama samawi dimaksudkan sebagai petunjuk manusia dan sebagai
rahmat bagi seluruh alam.
PENDAHULUAN
Saat
islam datang, masyarakat Jawa telah memiliki kebudayaan yang mengandung
nilai-nilai yang bersumber pada keyakinan animisme, dinamisme, Hindu dan
Buddha. Ajaran Islam dan budaya Jawa justru saling terbuka untuk berinteraksi
dalam peraktik kehidupan masyarakat. Sikap toleran terhadap budaya lama yang
dilakukan oleh Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa ternyata cukup
berhasil.Para wali membiarkan budaya lama tetap hidup, tetapi diisi dengan
nilai-nilai ke Islaman.Perpaduan Islam Jawa yang telah dilakukan oleh para
penyebar agama Islam di Jawa masa lampau ternyata memberikan sumbangan besar
terhadap perkembangan budaya Jawa.
Budaya
Jawa semakin diperkaya nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi sumber inspirasi
dan pedoman kehidupan bagi masyarakat pendukungnya. Perpaduan Islam dan
kebudayaan Jawa dapat kita jumpai dalam upacara tradisional.Tetapi
diantara banyaknya tradisi dan budaya terutama di Indonesia ada sebagian
golongan menganggap bahwa tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran-ajaran
Islam. Tradisi dan budaya jawa
sangatlah dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa terutama yang beraliran abangan.
Revitalisasi budaya
merupakan revitalisasi yang terkaitdengan pemikiran dan perasaan manusia. Hal
ini dikarenakan budaya merupakanhasil kerja pikiran dan perasaan manusia yang
terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan kehidupan manusia mengalami perubahan dari masa ke masa. Oleh
karena itu, bidang kebudayaan seperti ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial,
politik, kesenian, dan filsafat yang dihasilkan oleh pemikiran pada masa lalu,
sehingga ada yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan pada masa sekarang.
Dengan fakta tersebut, maka revitalisasi
kearifan lokal yang terkait erat dengan budaya jawa menjadi penting untuk
dilakukan di era global ini terutama di daerah Jakarta Selatan. Globalisasi
merupakan proses yang mengarah pada kemajuan yang cepat dalam teknologi
komunikasi, transformasi dan informasi yang menyebabkan bagian dunia yang
semula jauh dapat dijangkau dengan mudah. Globalisasi membawa perubahan dalam
cara berfikir, bersikap maupun gaya hidup kebudayaan lain, sehingga beresiko
mengikis budaya jawa. Terlebih di daerah jakarta selatan, wilayah yang menjadi
pusat globalisasi dan sudah banyak yang terpengaruh dengan budaya
kebarat-baratan.
Masyarakat
Jawa sangat kental dengan masalah tradisi dan budaya. Tradisi dan budaya Jawa
hingga akhir-akhir ini masih mendominasi tradisi dan budaya nasional di
Indonesia. Di antara faktor penyebabnya adalah begitu banyaknya orang Jawa yang
menjadi elite negara yang berperan dalam percaturan kenegaraan di Indonesia
sejak zaman sebelum kemerdekaan maupun sesudahnya. Nama-nama Jawa juga sangat
akrab di telinga bangsa Indonesia, begitu pula jargon atau istilah-istilah
Jawa. Hal ini membuktikan bahwa tradisi dan budaya Jawa cukup memberi warna
dalam berbagai permasalahan bangsa dan negara di Indonesia. [1]
Di
sisi lain, ternyata tradisi dan budaya Jawa tidak hanya memberikan warna dalam
percaturan kenegaraan, tetapi juga berpengaruh dalam keyakinan dan
praktek-praktek keagamaan. Masyarakat Jawa yang memiliki tradisi dan budaya
yang banyak dipengaruhi ajaran dan kepercayaan Hindhu dan Buddha terus bertahan
hingga sekarang,
meskipun mereka sudah memiliki keyakinan atau agama yang berbeda, seperti
Islam, Kristen, atau yang lainnya.
PEMBAHASAN
Nama Jakarta dianggap sebagai kependekan
dari kata Jayakarta. Nama ini diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon
dibawah pimpinan Fatahillah, setelah merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari
Kerajaan Sunda pada tanggal 22 juni 1527. Nama ini biasanya diterjemahkan
sebagai kota kemenangan atau kota kejayaan, namun sejatinya artinya ialah
"kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuataan atau usaha" dari
bahasa Sansekerta Jayakarta.
SEJARAH
Sunda Kelapa (397-1527)
Jakarta
pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama
Sunda Kelapa,berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibukota Kerajaan Sunda yang
dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat
ditempuh dari pelabuhan Sunda Kelapa selama dua hari perjalanan. Sunda Kelapa
yang dalam teks ini disebut Kelapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena
dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo dalam tempo
dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan
Tarumanegara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak
abad ke-5 dan diperkirakan ibukota Tarumanegara yang disebut Sundapura.
Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo,
atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta
merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari seluruh Nusantara.
Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan
Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari
budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugal.
Suku
Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk
pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di
provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh
budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya
Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan. Salah satu contoh budaya jakarta yaitu:
Tari
Seni
tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang
ada di dalamnya. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan
Tionghoa seperti tariannya yang memiliki corak tari Jaipong dengan kostum
penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang
paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan
koreografi yang dinamis.
a.
Kebudayaan
Islam Jawa
Kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang
sangat luhur, warisan dari nenek moyang kita terdahulu, yang merupakan jatidiri
dan kepribadian dari orang Jawa. kebudayaan suatu daerah merupakan ciri dari
daerah tersebut, begitu juga kebudayaan Jawa merupakan ciri dari orang-orang
Jawa. Maka dari itu kita sebagai orang Jawa harus mempertahankan budaya kita
sendiri dan harus tetap melestarikannya, untuk menangkal masuknya budaya asing
yang tidak cocok dengan kebudayaan kita, perlu kiranya untuk melestarikan seni
dan kebudayaan khususnya budaya jawa, yang konon pada masa jayanya telah mampu
menciptakan dan membentuk tata nilai dan perilaku kehidupan masyarakatnya.
Budaya
Islam Jawa yang ingin saya lestarikan di
daerah jakarta selatan yaitu tradisi dandangan. Bulan
Ramadhan menjadi momen yang sangat ditunggu bagi masyarakat Muslim di Indonesia.
Beragam tradisi bisa kita temukan di berbagai daerah dalam menyambut Bulan Suci
Ramadhan, salah satunya bisa kita dapati di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Di
daerah tersebut terdapat tradisi unik untuk menandai datangnya Bulan Puasa
Ramadhan yakni Tradisi Dhandhangan (Dandangan).
Tradisi
Dhandhangan merupakan festival penyambut Ramadhan yang bermula dari masa Sunan
Kudus. Sejatinya ini adalah peristiwa pengumuman awal bulan Ramadlan yang
ditandai pemukulan bedhug. Diketahui tradisi Ramadhan ini pertama kali digelar
pada tahun 1459H (454M).Selanjutnya keramaian masyarakat pada masa penantian
pengumuman puasa pun dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berniaga di
sekitaran Masjid Menara Kudus. Dari sini masyarakat Kudus pun mengenalnya
sebagai pasar malam yang akan selalu ada setiap menjelang bulan Ramadhan.
Lama
kelamaan kebiasaan itu menjadi pusat niaga berbagai hasil kerajinan lokal
seperti kerajinan gerabah dan lain sebagainya. Tentunya seiring perkembangan
Tradisi Dandangan hingga sekarang yang semakin ramai, produk-produk niaga yang
disajikan pun semakin bervariasi. Pada akhirnya, Tradisi Dhandangan di Kota
Kudus yang ditiap tahunnya pasti akan selalu bertambah ramai ini sangat
diharapkan akan membawa manfaat yang besar serta iklim religius yang semakin
kental bagi Masyarakat. Terutama semangat atau spirit yang tinggi dalam
menyambut Bulan Suci Ramadhan.Pada akhirnya, Tradisi Dhandangan di Kota Kudus
yang ditiap tahunnya pasti akan selalu bertambah ramai ini sangat diharapkan
akan membawa manfaat yang besar serta iklim religius yang semakin kental bagi
Masyarakat. Terutama semangat atau spirit yang tinggi dalam menyambut Bulan
Suci Ramadhan.[2]
Konon, sejak zaman
Syeikh Ja’far Shodiq, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus
berkumpul di Masjid Menara guna menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang awal
puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tapi juga dari daerah
sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan
sampai Tuban, Jawa Timur. Pada hari menjelang puasa, setelah berjamaah salat
ashar, Sunan Kudus langsung mengumumkan awal puasa. Pengumuman itu dilanjutkan
dengan pemukulan beduk yang berbunyi “dang-dang-dang”. Suara beduk yang
bertalu-talu itulah yang menimbulkan kesan dan pertanda khusus tibanya bulan
puasa. Berawal dari suara dang-dang, setiap menjelang puasa, masyarakat Kudus
mengadakan tradisi Dandangan.
Melihat dari tradisi
yang ada di kota Kudus itu, saya fikir tidak terlalu sulit kalau untuk
dilestarikan di daerah Jakarta Selatan, karena acaranya sederhana dan pasti
akan diterima oleh masyarakat Jakarta Selatan. Selain pengumuman jatuhnya awal
puasa juga bisa menambah semangat kita menyambut bulan suci Ramadhan,mempererat
silaturahim, membangun sebuah kekompakan dalam menjalankan acaranya, dan pasti
tercipta bahagia di hati setiap masyarakat.
Karena pada dasarnya menyambut datangnya bulan suci Ramadhan di Jakarta
Selatan tidak diadakan acara apapun. Seluruh masyarakat hanya terpaku menunggu
pengumuman jatuhnya awal puasa Ramadhan lewat teknologi yang semakin maju ini.
Jadi tidak ada salahnya melestarikan tradisi dandangan di Jakarta Selatan karna
pasti akan sedikit berbeda dan mengesankan masyarakat Jakarta Selatan dalam
menyambut bulan suci Ramadhan.
KESIMPULAN
Tradisi ini termasuk model dakwah modern
yaitu dengan melestariakan tradisi yang ada sejak zaman sunan kudus, Pelestarian tradisi dandangan merupakan wujud pelestarian salah satu budaya
Islam Jawa, terdapat sejumlah kearifan dalam prosesi tradisi yang sangat
relevan dengan konteks kekinian. Hal ini karena prosesi dandangan tidak hanya
sekedar memukul bedug, mengumumkan jatuhnya awal puasa Ramadhan dan
tradisi ini juga bukan hanya untuk mengawali bulan
ramadhan saja melainkan juga dapat sebagai ajang pengenalan budaya
indonesiakususnya, dan melalui acara tradisi ini dapat juga dikatakan metode
dakwah modern masa kini, bukan hanya itu melalui tradisi ini kita dapat lebih
mengenal budaya lokal yang ada di kudus dan juga banyak hikmah yang terdapat di
dalamnya seperti bisa menambah silaturahim, memperkokoh kekompakan sesama
masyarakat. Tradisi ini tergolong tradisi yang sangat sederhana jadi sangat
mudah dilakukan oleh masyarakat Jakarta Selatan.[3]
Daftar Pustaka
Amin, Darori (ed). Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta:
Gama Media, 2000
Ali Anwar Yusuf, Wawasan Islam, CV Pustaka Setia, Bandung, 2002
http://www.pa-kudus.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=749:budaya-keislaman-kudus&catid=32:artikel-u
mu m, diakses pada Sabtu (23/9) pukul14.01WIB.
[1] 1 Darori Amin (ed)., Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama
Media, 2000), hlm. 11.
[2] Ali Anwar Yusuf, Wawasan Islam, CV Pustaka Setia, Bandung, 2002
[3] Ahmad Khalil, Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa,
(Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 30.
Komentar
Posting Komentar