Nilai Islam Dalam Tradisi Sekatenan Yogyakarta
Nilai Islam Dalam Tradisi Sekatenan Yogyakarta
Oleh: Nanda Nuroktavia Ningrum
UIN Walisongo Semarang
Email : ocktavianinanda1401@gmail.com
Abstrack
Indonesia memiliki banyak kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat
yang tidak banyak diketahui oleh generasi muda. Budaya dan tradisi yang
dipercaya turun temurun oleh nenek moyang dan merupakan identitas yang harus di
jaga dan dilestarikan oleh generasi penerus. Salah satunya adalah tradisi
Sekatenan di keraton Yogyakarta. Yang sampai sekarang masih diperingati oleh
masyarakat khususnya oleh keraton Yogyakarta dan Surakarta. Acara ini adalah
rangkaian kegiatan tahunan dengan tujuan untuk memperingati hari maulid Nabi
Muhammad SAW. Biasanya acara sekatenan dilaksanakan
di alun-alun utara di keraton Yogyakarta dan keraton Surakarta, pencetus
sekatenan sendiri adalah beliau Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Kata kunci : kebudayaan, Tradisi, keraton Yogyakarta, sekatenan
Pendahuluan
Sebelum kita membahas apa itu sekatenan
kita terlebih dahulu mengetahui apa itu kebudayaan, Tradisi, asal-usul keraton
Yogyakarta dan dimana saja letak geografis Jawa itu yang nantinya akan
menciptakan sebuah Tradisi di daerah-daerah di pulau jawa khususnya yang akan
kita bahas yaitu sekatenan yang ada di Yogyakarta.
Budaya
atu kebudayaaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu Buddayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budia atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan
akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasala dari
bahasa Inggris yaitu culture dan bahasa Latin Cultura.
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata budaya mempunyai arti sesuatu yang sudah
menjadi kebiasaan. Sedangkan menurut Jalaludin, menyatakan bahwa kebudayaan dalam suatu
masyarakat merupakan sisitem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh
warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam
bertindak dan bertingkah laku maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam
suatu masyarakat, dan tradisi itu ialah sesuatu yang sulit berubah, karena
sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya [1].
Sedangkan
kebudayaan Islam menurut Sidi Gazalba kebudayaan Islam itu sebagai perwujudan
dari berfikir dan merasa yang dilandasi
dengan Iman dan takwa. Perwujudannya
berupa amal saleh yang terkait dengan bidang muamalah (hubungan antar
sesama manusia) meliputi lapangan ekonomi, politik, sosial, ilmu pengetahuan,
teknik, filsafat, dan kesenian. Lapangan inilah yang termasuk dalam kebudayaan
Islam[2]
Lalu
menurut Koentjaraningrat memberikan
pengertian tentang kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang diciptakan oleh
masyarakat yang tinggal di derah Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan menggunakan
bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Jawa Barat masuk dalam
wilayah kebudayaan Sunda[3].
Lalu
letak geografis kebudayaan Jawa sendiri seperti yang dikatakan Koentjaraningrat
diatas, yaitu daerah yang ada di Jawa tengah dan Jawa Timur. Namun ada pula
yang memberi batasan berdasarkan ciri kebudayaan, seperti Franz Magis Suseno
mengatakan kebudayaan Jawa adalah hasil ciptaan orang jawa, sedangkan orang
Jawa adalah mereka penduduk asli yang tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan
menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa ibu. Diantara mereka atau keturunannya
ada yang kemudian pindah ketempat lain, dan tetap menjaga adat istiadat Jawa di
mana pun mereka berada.[4]
Kebudayaan Jawa
dalam perwujudanya terdapat beraneka warna, seperti dalam logat nya sehari-hari,
demikian pula kesenianya yang ada di berbagai daerah di pulau Jawa, hal ini di
sebabkan oleh daerahnya masing masing, misalnya Jawa pesisir
adalah bentuk budaya yang terdapat pada masyarakat yang tinggal di daerah
pantai laut utara Jawa, misalnya Surabaya, Semarang, Tegal, Rembang, Pati.
Budaya Jawa pesisir banyak terpengaruh oleh banyak budaya yang lain, misalnya
Islam, Cina, India, maupun Portugis. Hal ini terjadi karena daerah pesisir
merupakan daerah yang terbuka untuk didatangi berbagai bangsa lain. Namun demikian
pengaruh yang terkuat adalah pengaruh agama Islam. Sedangkan budaya Jawa
pedalaman adalah budaya yang terdapat pada masyarakat Jawa yang secara
geografis terletak di daerah pegunungan atau jauh dari laut,tetapi bukan
merupakan bagian dari budaya keraton. Dalam pembagian yang lain, Thohir(1999)
menyebutkan bahwa budaya pedalaman tidak lain dan tidak bukan adalah budaya
mancanegara. Secara geografis, masyarakat pedalaman berada di luar Solo dan
Yogya seperti misalnya Magelang, Wonogiri, Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung
dan yang lain. Budaya Jawa pedalaman banyak terpengaruh oleh kebudayaan India
atau Hindu.
Budaya Jawa yang berkembang di
daerah Yogya dan Solo mempunyai corak khusus yang bersumber dari budaya Kraton.
Selain di bidang seni dan sastranya, maka dalam kehidupan keagamaannya ada
kecenderungan pada sinkretisme. Sedangkan budaya Jawa pesisiran lebih di warnai
oleh ajaran Islam, seperti dalam kesusastraannya maupun dalam pemahaman
agamanya yang cenderung pada Islam yang puritan.[5]
Budaya jawa yang berkembang di
kraton cenderung lebih Halus, karena terikat oleh unggah-ungguh atau tata karma
yang dibuat oleh raja atau pujangga keraton, karena di keraton Raja memiliki
posisi yang paling atas, maka dalam bahasa Jawa yang dikembangkan di Kraton
juga berdasar pada stratifikasi sosial masyarakat Jawa yang menempatkan Raja
dan kaum bangsawan pada level atas.
Cikal Bakal
Keraton Kesultanan Yogyakarta
Sejarah mencatat bahwa akhir abad
ke-16 terdapat sebuah kerajaan Islam di Jawa bagian tengah-selatan bernama
Mataram. Kerajaan ini berpusat di daerah Kota Gede (sebelah Tenggara kota
Yogyakarta saat ini), kemudian pindah ke kota, Plered, kartasura dan Surakarta.
Lambat laun, kewibawaan dan kesultanan Mataram semakin terganggu akibat
intervensi kumpeni Belanda. Akibatnya timbul gerakan anti penjajah di bawah
pimpinan pangeran Mangkubumi yang mengorbankan perlawanan terhadap kumpeni
beseta beberapa tokoh lokal yang dapat dipengaruhi oleh Belanda seperti Patih
Pringgalaya. Untuk mengakhiri perselisihan tersebut dicapai perjanjian Giyanti
atau Palihan Nagari.
Perjanjian
Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 (kemis kliwon, 12
Rabingulakir 1680 TJ) menyatakan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua
yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Surakarta
dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono III, sementara Ngayogyakarta di pimpin oleh
Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
Perjanjian
Giyanti ini kemudian diikuti pula dengan pertemuan antara sultan Yogyakarta
dengan Sunan Surakarta di Lebak, Jatisari pada tanggal 15 Februari 1755. Dalam
pertemuan ini dibahas mengenai peletakan dasar kebudayaan bagi masing-masing
kerajaan, kesepakatan yang dikenal dengan nama Perjanjian Jatisari ini membahas
tentang perbedaan identitas kedua wilayah yang sudah menjadi dua kerajaan yang
berbeda. Bahasan di dalam perjanjian ini meliputi tata berpakaian, adat
istiadat, gamelan, bahasa, tari-tarian. Inti dari perjanjian ini Sri Sultan
Hamengku Buwono I memilih untuk melanjutrkan tradisi lama Mataram, sedangkan
Sunan Pakubuwono II sepakat untuk memberikan modifikasi atau menciptakan bentuk
budaya baru. Pertemuan Jatisari menjadi titik awal perkembangan budaya yang
berbeda antara Yogyakarta dan Surakarta.
Tanggal
13 Maret 1755 (kemis Pon, 29 Jumadilawal 1680 TJ) proklamasi
dikumandangkan atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat .
selanjutnya, Sultan Hamengku Buwono I mulai pembangunan Keraton Yogyakarta pada
tanggal 1755. Proses pembangunan memakan waktu hampir satu tahun. Sedangkan
selama proses pembanguna Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarga tinggal di Pesanggrahan
Ambar Ketawang. Lalu mereka memasuki keraton pada tanggal 7 Oktober 1756 (kemis
pahing, 13 sura 1682 TJ). Dalam penanggalan
Tahun Jawa (TJ), peristiwa ini ditandai dengan sengkalan memet: Dwi Naga
Rasa dan Dwi Naga Rasa Wani. Seiring berjalanya waktu keraton Yogyakarta
mengalami pasang surut. Utamanya terkait dengan pengaruh pemerintahan kolonial
baik Belanda atau Inggris. Pada tanggal 20 Juni 1812 ketika Inggris berhasil
menyerang keraton Sultan Hamengku Buwono II dipaksa untuk turun tahta dan
digantikan oleh Hamengku Buwono III dipaaksa menyerahkan sebagian wilayahnya
untuk diberikan kepada Pangeran Notokusumo (Putra Hamengku Buwono I) yang
diangkat oleh Inggris sebagai Adipati Pakualam I. wilayah kekuasaan Kesultanan
yang diberikan kepada Paku Alam I meliputi bagian kecil di dalam Ibukota Negara
dan sebagian besar di daerah Adikarto (Kulonprogo bagian Selatan). Perubahan
besar berikutnya terjadi pada 17 Agustus 1945 Sri Sultan Hamengku buwono IX
segera mengucapkan selamat atas berdirinya republik baru tersebut. Dukungan
terhadap republik semakin nayata manakala Sri Sultan Hamengk Buwono IX dan sri
Paduka Paku Alam VII mengeluarkan amanat pada tanggal 5 September 1945 yang
menyatakna bahwa wilayahnya yang bersifat kerajaan adalah bagian dari Republik
Indonesia. Menerima amanat tersebut maka
Presiden Republik Indonesia yang pertama Ir. Soekarno menetapkan Sultan Hamenku
Buwono dan Adipati Paku Alam merupakan Dwi Tunggal yang memegang kekuasaan atas
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sempat terkanting-kantung selama beberapa
tahun, status keistimewaan tersebut semakin kuat setelah disahkanya
Undang-Undang nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Dengan demikian,
diharapkan agar segala bentuk warisan budaya Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten
Pakualaman dapat terus dijaga dan dipertahankan kelestarianya.
Letak geografis
keraton Yogyakarta
Di Yogyakarta terdapat dua tempat tingga
raja yang dikenal dengan “Keraton Kasultanan” dan “Pura Pakualaman” keraton
kasultanan adalah tempat tinggal Sultan
(Sultan Hamengku Buwono) sedangkan Pura
Pakualaman adalah tempat tinggal Paku Alam (Sri Paduka Paku Alam). Letak keraton Kesultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta. Dahulu
wilayah yang masih termasuk keraton terbentang anatara sungai Code dan Sungai
Winongo. Berbatasan dengan Tugu sebelah utara dan Krapyak di sebelah selatan.
Pada masa sekarang, daerah keraton hanya terbatas dalam wilayah kecamatan
keraton. Dahulu luas daerah keraton adalah 14.000 km. Pada masa sekarang hanya
1km. kompleks keraton di kelilingi oleh tembok persegi yang di sebut benteng.
Tinggi benteng 3,5 m, dengan kelebaran antara tiga sampai empat meter. Dahulu
kala, bagian luar benteng dikelilingi oleh sebuah parit yang lebar dan dalam.
Pintu gerbang benteng yang disebut plengkung atau lima buah. Setiap
pintu gerbang dihubungkan dengan jembatan yang dapat ditarik ke atas. Pada masa
sekarang sebagian benteng itu sudah rusak dan sebagian besar dari
benteng-benteng tersebut sudah dijadikan perumahan oleh penduduk. Demikian pula
parit yang mengelilingi benteng sudah lama ditimbun dengan tanah dan dijadikan
pemukiman. Jembatan-jembatan yang menghubungkan pintu gerbang sudah lama
dibongkar. Dari kelima buah pintu gerbang benteng yang sampai sekarang masih
bentuknya yang asli tinggal dua buah .[6]
Pada bagian luar benteng dikelilingi
parit yang cukup dalam disebut jaggang. Sekarang jaggang tersebut
sudah tidak tampak karena diatasnya sudah dipakai untuk tempat tinggal atau
pertokoan. Untuk keluar masuk wilayah keraton melalui pintu gerbang yang
disebut plengkung. Yaitu pintu
gerbang yang berbentuk setengah lingkaran yang dijaga oleh abdi dalem secara
bergantian setiap jam 06.00-18-00.[7]
Wilayah
kecamatan keraton atau jero beteng, selain dihuni oleh sultan beserta
seluruh keluarganya, juga dihuni oleh bangsawan dan kerabat raja beserta
hamba-hamba istana keraton yang di sebut abdi dhalem yang dikelompokkan
menurut tugas mereka di dalam keraton sehingga nama kampung tinggal mereka
sesuai dengan tugasnya.[8]
Bangunan
Keraton terdiri dari beberapa bagian:
1)
Tratag Pagelaran, Sitihinggil Utara dan
sekelilingnya
2)
Kemandhungan utara atau keben dan
sekelilingnya (termasuk masjid Suranatan dan Ratawijayan, tempat
menyimpan kereta-kereta pusaka)
3)
Sri Manganti
4)
Kedhaton (inti keraton
dengan pusat bangunan yang di sakralkan yang disebut Prabayeksa)
5)
Magangan
6)
Kemandhungan selatan dan
sekelilingnya
7)
Sitihinggil Kidul (selatan)[9]
Setiap
bagian keraton mempunyai fungsi masing-masing. Keraton Yogyakarta memiliki dua
halaman, yaitu halama belakang Alun-alun Selatan dan halama depan Alun-alun
Utara. Alun-alun Utara lebih luas disbanding dengan Alun-alun
selatan, Alun-alun Utara ditanamai pohon beringin sejumlah 64
batang, dua diantara ditanam di tengan alun-alun di di depan pagelaran, dengan
dipagari tembok sehingga disebut Ringin Kurung. Kedua pohon beringin
tersebut dikeramatkan dan diberi sebutan kiai Dewadaru (di sisi barat)
dan Kiai Jandarau/Wijayadaru (di sebelah timur).[10]
Struktur
Pemerintahan Keraton Yogyakarta
Menurut Pranatan
yang mengatur tentang struktur pemerintahan keraton Yogyakarta, yaitu “
PRANATAN TATA RAKITE PEPRINTAHAN KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT”, yang
ditetapkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 8 November 1999. Kantor yang
ada di keraton terdiri dari beberapa badan yang masing-masing mempunyai tugas
dan wewenang yang berbeda. Kantor-kantor itu antara lain:
a.
KAWEDANAN HAGENG PUNOKAWAN PARWA BUDAYA, yang
di bentuk dari gabungan:[11]
1.
Kawedanan Hageng Punokawan Krida Mardawa
2.
Kawedanan Pengulon
3.
Kawedanan Puralaya
4.
Kawedanan Kaputren
Pengaggengnya/pimpinanya adalah GBPH. Drs.
Yudaningrat.
b.
KAWEDANANA HAGENG PUNOKAWAN NITYA BUDAYA, yang
dibentuk ganungan dari gabungan:[12]
1.
Kawedanan Hageng Punokawan Widya Budaya
2.
Kawedanan Punokawan Purayakara
3.
Tepas Banjar Wilapa
4.
Tepas Museum
5.
Tepas Pariwisata
Pengagengnya/pimpinanya
adalah GBH. H. Prabukusumo, S.Psi.
c.
KAWEDANAN HAGENG PUNOKAWAN PARASRAYA BUDAYA,
yang di bentuk dari gabungan[13]:
1.
Kawedanan hageng Punokawan Wahana Sarta Kriya
2.
Kawedanan Hageng Punokawan Puraksa
3.
Tepas Panitikisma
4.
Tepas Keprajuritan
5.
Tepas Halpitapura
6.
Tepas Security
d.
KAWEDANAN HAGENG PANTRA PURA, yaitu dibentuk
dari gabungan:[14]
1.
Parentah Hageng
2.
Kawedanan Hageng Sri Wadana
3.
Tepas Dwarapura
4.
Tepas Darah Dalem
5.
Tepas Rantam Harta
6.
Tepas Danarta Pura
7.
Tepas witardana
Pengagengnya/pemimpinya
adalah GBPH. H. Joyokusumo, wakilnya GBPH. Condroningrat.
Keterangan:
a.
Pengaggeng, seorang yang
di tunjuk Sultan untuk menjadi pemimpim/pejabat di lingkungan pemerintahan
keraton yang ditetapkan dengan surat keputusan dari keraton.
b.
Kawedanan Hageng Punakawan, yaitu salahsatu
badan yang melaksanakan sebagian pemerintahan keraton yang bersifat teknis
operasional.
c.
Kawedanan Hageng, yaitu salah
satu badan yang melaksanakan sebagian pemerintahan keraton yang bersifat
administrasi fungsional.
d.
Kawedanan, yaitu sebagai
pelaksana Teknis Operasional.
e.
Tepas, yaitu
pelaksana Teknis Administrasi.
Asal
Usul Sekaten.
Sekaten,adalah suatu
tradisi yang telah ada sejak zaman kerajaan Demak. Sultan Agung sebagai raja
Demak memprakasai perayaan sekaten dan sampai saat ini masih di
lestarikan di Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Dalam tradisi kerajaan Demak,
upacara sekaten diselenggarakan sebagai usaha untuk memperluas serta
memperdalam rasa jiwa ke-islaman bagi segenap masyarakat Jawa. Usaha ini
dilaksanakan para wali yang dikenal sebagai wali sanga[15].
Para wali memahami dan yakin bahwa
rakyat menggemari bunyi gamelan. Sunan Giri, salah seorang dari Wali Sanga,
memahami teknik pembuatan gamelan. Beliau lalu membuat seperangkat gamelan yang
dinamakan Kiai Sekati. Selain membuat gemelan Sunan Giri juga
menciptakan gending untuk alat penyebaran agama Islam. Gamelan Kiai Sekati
itu setiap tahun dibunyikan untuk memeriahkan peringatan hari lahir Nabi
Muhammad SAW.
Mengenai nama
sekaten ada beberapa pendapat, anatara lain:
1.
Sekaten berasal dari
kata sekati, yaitu nama gamelan keramat dari Keraton Yogyakarta yang
terdiri atas dua jenis gamelan, Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga.
Adapun di Keraton Surakarta, dua gamelan itu bernama Kiai Gunturmadu dan
kiai Guntursari. Mengenai kisah gamelan yang tersimpan di Keraton
Kasultanan Yogyakarta, ia diyakini sebagai hasil karya cipta Sultan Agung
Hanyokrokusumo, raja ketiga Mataram Islam. Gamelan ini hanya ditabuh khsusus
pada peringatan Maulid, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tahunya.
Gamelan ini ditabuh sejak tanggal 5 mulud (Rabiul Awal) sampai dengan
tanggal 11 Mulud. Gamelan tersebut dibunyikan secara terus-menerus selama
seminggu untuk mengiringi gending hasil dari ciptaan para wali.[16]
2.
Ada yang mengatakan sekaten berasal dari kata suka
dan ati yang digabungkan menjadi sekaten, yang berarti senang hati. Hal
ini mengungkapkan bahwa masyarakat jawa senang dalam menyambut hari kelahiran
Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal. [17]
3.
Sekaten berasal dari Syahadatain
atau duakalimat syahadat. Pengertian ini didasarkan pada sejarah sekaten
yang diadakan oleh Wali Sanga yang bertujuan untuk menarik orang Jawa
agar masuk Islam. Mereka yang datang ke acara sekaten kemudian dengan
sukarela mengucap dukalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam.[18]
4.
Sekaten berasal dari
kata sakhataini yang berarti menanamkan dua hal, yaitu beribadah kepada
Allah dengan sebenar-benarnya dan berbudi baik dalam kehidupan keseharian pada
sesama manusia. Juga menghilangkan semua watak kewenaan dan nafsu setan. Bagi
manusia, dengan menyadari secara mendalam makna beribadah kepada Allah berbuat
baik kepada sesama manusia, ia akan menjadi manusia yang dalam kehidupanya
pasrah pada takdir Allah, Ikhlas menjalani kehidupan, dan menghormati sesama
manusia. [19]
Sunan kalijaga melihat bahwa dengan melalui pendekatan budaya,
maka, kegiatan dakwah akan dengan mudah dilakukan di tengah-tengah masyarakat jawa
saat itu. Proses akulturasi budaya ysng terjadi dalam proses dakwah wali
sanga adalah dengan memasukan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam Sendi-sendi
kehidupan. Tradisi sekaten merupakan
hasil dari pemikiran para wali dalam melihat pola perilaku serta kepercayaan
masyarakat yang cenderung tradisionalis.[20]
Pelaksanaan Sekaten
Sekaten mulai
dirayakan pada masa kerajaan Demak mulai berdiri yang dinpimpin oleh Raden
Patah. Kemudian setelah kerajaan Demak runtuh, tradisi ini dikembangkan oleh
kerajaan Pajang di bawah kepemimpinan Sultan Hadiwijaya. Demikian pula ketika
kekuasaan Pajang runtuh, dilanjutkan oleh kerajaan Mataram Islam. Pada masa
Sultan Agung Hanyokrokusumo (raja Mataram ketiga) ditetapkan bahwa gamelan yang
akan mengiringi sekaten adalah gamelan Kiai Gunturmadu dan KIai
Nagawilaga. Demikian sampai sekarang pun tradisi terus berlanjut. Baik
di Kasultanan Yogyakarta maupun di Kasunanan Surakarta .[21]
Yang membedakanya terhadap perayaan sekaten di Kasunanan Surakarta
adalah gamelanya yang bernama Kiai Gunturmadu dan pasanganya Kanjeng
Kiai Guntursari.
Perayaan yang
diadakan setiap tahun di keraton Yogyakarta ini sudah berusia hampir empat
abad, yaitu sejak Hamengku Buwana I memimpin Yogyakarta. Sekaten
merupakan bentuk perayaan yang masih teteap dilaksanakan secara rutin di
Keraton Yogyakarta. Menurut Hamengku Buwono X saat membuka Pasar Malam Perayaan
sekaten 2013 mengatakan bahwa perayaan sekaten hingga saat ini
masih tetap ada, ini membuktikan bahwa sekaten mampu berkembang sesuai
zaman.
Perayaan sekaten
masa kini , terhitung sejak 2004 hungga saat ini memperlihatkan nuansa berbeda
terutama kemasan pasar malam yang dibua meriah.
Menurut prosesi
pelaksanaanya, sekaten dilaksanakan selama satu minggu dimulai tanggal 5
Rabiul Awal hingga 11 Rabiul Awal. Kemudian, tanggal 12 rabiul Awal merupakan
puncak dari perayan sekaten atau dikenal denga Grebeg Mulud. Untuk pasar malam sekaten diadakan
selama sebulan, dimulai dari sebulan sebelum acara Grebeg dimulai.
Tata Cara Ritual Sekaten
1.
Tahap
Persiapan.
Di dalam penyelenggaraan upacara sekaten ada dua jenis
persiapan, yaitu persiapan fisik dan nonfisik. Persiapan fisik berwujud
benda-benda dan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upacara,
sedangkan non fisik berwujud sikap dan perbuatan yang harus dilaksanakan pada
waktu sebelum pelaksanaan upacara sekaten, seperti bersuci dengan cara
puasa dan mandi wajib.
Adapun persiapan fisik, yaitu berwujud benda-benda dan perlengkpan.
Benda-benda tersebut adalah:
a.
Gamelan Sekaten
b.
Perbendaharaan
lagu-lagu atau gending-gending sekaten
c.
Sejumlah
kepingan uang logam, beras, dan bunga setaman untuk disebarkan dalam upacara udhik-udhik.
d.
Sejumlah bunga
kanthil (cempaka) yang akan disematkan pada daun telinga kanan Sri Sultan dan
para pengiringnya pada saat menghadiri pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.
Bila pembacaan sudah sampai pada asrokal(semacam bacan berjanji)
e.
Busana seragam
yang masih baru dan sejumlah Samir yang khusus akan dipakai oleh para niyaga
selama bertugas memukul gameln sekaten.
f.
Atribut dan
perlengkapan prajurit kraton yang akan bertugas mengawal gamelan sekaten dari
keraton ke halaman Masjid Gedhe Kauman, dan dari halaman Masjid Gedhe Kauman
kembali ke keraton.
2.
Tahap Gamelan
sekaten Mulai Dibunyikan
Gamelan sekaten mulai
dibunyika pada tanggal 5 Rabiul awal, dibunyikan di Bangsal Ponconoto
mulai pada pukul 16.00 WIB gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng
Kiai Nagawilaga dikeluarkan dari tempat persemayaman. Lepas waktu shalat
isya, setelah semuanya siap para abdi dhalem yang bertugas di Bangsal Ponconiti
memberi laporan kepada Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah ada perintah
dari Sultan melalui abdi dhalem yang diutus, mulailah gamelan sekaten
dibunyikan. Gamelan dibunyika mulai pukul 19.00 WIB hingga pukul 23.00 . Pada
pukul 20.00 WIB, sultan atu utusanya diiringi para pangeran, kerabat dan para
bupati datang ke tempat gamelan, untuk menyebarkan udhik-udhik. Udhik-udhik
di sebarkan di Bangsal Ponconiti tratag bagian timur, kea rah para
penabuh gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan di Bangsal Ponconiti
tratag bagian barat untuk Kanjeng Kiai Nagawilaga, selanjutnya di
sebarkan kepada para pengunjung.
3.
Tahap Gamelan
Sekaten Dipindahkan Ke Halaman Masjid Gedhe Kauman
Pada pukul 23.00 WIB Bunyi gamelan
sudah berhenti. Bersamaan dengan itu datang prajurit yang akan bertugas
mengawal iring-iringan gamelan dari keraton menuju halaman Masjid Gedhe Kauman
serta para abdi dhalem KHP Wahono Sarta Kriya yang akan mengusung
gamelan. Setibanya di kraton para prajurit mengambil panji-panji, sedankan para
abdi dhalem KHP Wahono Sarta Kriya segera mengambil ancak dibawa
ke tratag Bangsal Ponconiti bagian timur dan barat, kemudian menata gamelan
yang akan diusung tersebut. Setelah di pindahkan ke masjid, gamelan tersebut
dibunyikas terus menerus sampai tanggal 11 Rabiul awal malam, kecuali pada
waktu sholat wajib, pada malam jumat hingga selesai sholat jumat.
4.
Tahap Sri
Sultan Hadir di Msjid Gedhe Kauman
Pada malam ke-7, tanggal 11 Rabiul
awal malam di Masjid Gedhe Kauman diselenggarakan pembacaan riwayat Nabi
Muhammad SAW dan penyebaran udhik-udhik
oleh sultan, disebut Pisowanan Malem Grebeg/Muludan. Kehadiran
sultan di sambut dan di iringi oleh para abdi dhalem Sipat Bupati, dan
jalan yang akan dihiaisi sultan dipagar betis oleh empat bregada prajurit,
yaitu satu bregada menjadi pagar betis lintasan jalan dari pintu gerbang Masjid
Gedhe Kauman menuju pagongan selatan, satu bregeda menjadi pagar betus lintasan jalan dari pintu gerbang
Masjid Gedhe Kauman menuju pagongan utara, dan dua bregeda menjadi pagar
betis untuk lintasan dari pintu gerbang Masjid Gedhe Kauman menuju serambi
masjid. Kemudian setelah sampai di masjid, sultan menucaokan salam lalu memberi
salam kepada Kanjeng Raden Penghulu untuk mulai
membaca riwayat Nabi Muhammad SAW. Beberapa saat kemudian, sultan dengan
diiringkan KGPAA Paku Alam, para KGPH (Kanjeng Gusti Pangeran Harya), dan para
GBPH (Gusti Bendara Pangeran Harya) dipersilahkan bersemayam di masjid untuk
beristirahat. Pada saat pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW sampai pada asrokal
(peristiwa kelahiran Nabi), Sri Sultan beserta para pengiringnya kembali ke
serambi untuk menerima persembahan bunga cempaka (saos sekar sumping)
dari kiai Penghulu yang disajikan oleh abdi dhalem Punokawan Kaji.
5.
Tahap Kondur
Gangsa
Pada tanggal 11 Mulud (Rabiul Awal),
kira-kira pukul 24.00 WIB setelah sultan meninggalkan Masjid Gedhe Kauman,
gamelan sekaten diboyong kembali ke keraton, yang dosebut kondur gonso,
dikawal oleh dua pasukan abdi dhalem prajurit, yaitu Prajurit Mantirejoo
dan Prajurit Ketanggung. Sebelumnya pukul 23.000 WIB, abdi dhalem KHP
Wahana Saeta Kriya datang ke pagongan selatan dan utara untuk menata
gamelan. Para abdi dhalem prajurit berbaris di kiri dan kanan jalan di
depan pagongan selatan dan utara untuk ngurung-urung (melindungi)
keluarnya gamelan dari tempat tersebut. Setelah semuany asiap, Kanjeng Raden
Pengulu dan Walikota Yogyakarta melepas kembalinya gamelan ke keraton.
Sesampainya di keraton gamelan langsung di semayamkan di tempatnya semula di
Bangsal Trajumas. Dengan dipindahkanya Gamelan Kanjeng Kiai Sekati dari halaman
Masjid Gedhe Kauman kembali ke keraton menandai bahwa upacara Sekaten
telah selesai.
Prosesi sekaten yang dilaksanakann
pada setiap bulam Rabiul awal tepatnya 5-11 Rabiul Awal memiliki makna
tersendiri baik aspek budaya maupun religi. Dalam pandangan Islam sendiri, tidak ditemukan
perintah ataupun anjuran untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan ini
dikategorikan sebagai bid’ah. Namun menurut, pendapat Imam Jalaludin
As-Suyuthi(749-911H) memperingati hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dibolehkan
karena hal itu merupakan wujud kecintaan umat Islam Kepada Rasul-Nya[22].
Seperti yang telah di jelaskan
sebelumnya, para wali berdakwah dengan cara melakukan penyesuain terhadap
adat-istiadat yang berlaku dalam kehidupan masyarakat tersebut. Melalui
momentum kelahuran Nabi Muhamad SAW para wali mengganti suatu tardisi selamatan
menjadi tradisi sekaten. Tentunya ini adalah cara wali untuk
menyesuaikan tradisi budaya budaya lokal dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Melalui iring-iringan gamelan dan pembacaan riwayat nabi akhirnya banyak
masyarakat watu itu untuk memeluk islam dengan sukarela.
KESIMPULAN
Sejarah
mencatat bahwa akhir abad ke-16 terdapat sebuah kerajaan Islam di Jawa bagian
tengan-selatan bernama Mataram. Akibatnya timbul gderakan anti penjajah di
bawah pimpinan pangeran Mangkubumi yang mengorbankan perlawanan terhadap
kumpeni beseta beberapa tokoh lokal yang dapat dipengaruhi oleh Belanda seperti
Patih Pringgalaya. Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13
Februari 1755 menyatakan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yaitu
Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Surakarta
dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono III, sementara Ngayogyakarta di pimpin
oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono
I. Dalam pertemuan ini dibahas mengenai peletakan dasar kebudayaan bagi masing-masing
kerajaan, kesepakatan yang dikenal dengan nama Perjanjian Jatisari ini
membahas tentang perbedaan identitas kedua wilayah yang sudah menjadi dua
kerajaan yang berbeda.
Inti
dari perjanjian ini Sri Sultan Hamengku Buwono I memilih untuk melanjutrkan
tradisi lama Mataram, sedangkan Sunan Pakubuwono II sepakat untuk
memberikan modifikasi atau menciptakan bentuk budaya baru. Pertemuan
Jatisari menjadi titik awal perkembangan budaya yang berbeda antara Yogyakarta
dan Surakarta. Pada tanggal 20 Juni 1812 ketika Inggris berhasil menyerang
keraton Sultan Hamengku Buwono dipaksa untuk turun tahta dan digantikan oleh
Hamengku Buwono III dipaaksa menyerahkan pangeran sebagian wilayahnya untuk
diberikan kepada Pangeran Notokusumo yang diangkat oleh Inggris sebagai Adipati
Pakualam I. wilayah kekuasaan Kesultanan yang diberikan kepada Paku Alam I
meliputi bagian kecil di dalam Ibukota Negara dan sebagian besar di daerah
Adikarto . Dukungan terhadap republik semakin nayata manakala Sri
Sultan Hamengku Buwono IX dan sri Paduka Paku Alam VII mengeluarkan amanat pada
tanggal 5 September 1945 yang menyatakna bahwa wilayahnya yang bersifat
kerajaan adalah bagian dari Republik Indonesia. Menerima amanat
tersebut maka Presiden Republik Indonesia yang pertama Ir. Soekarno
menetapkan Sultan Hamenku Buwono dan Adipati Paku Alam merupakan Dwi TUnggal
yang memegang kekuasaan atas Daerah Istimewa Yogyakarta .
Di Yogyakarta terdapat dua tempat tingga
raja yang dikenal dengan (keraton Kasultanan) dan (Pura Pakualaman) keraton
kasultanan adalah tempat tinggal Sultan sedangkan Pura Pakualaman adalah tempat
tinggal Paku Alam Kemandhungan utara atau keben dan sekelilingnya Kedhaton
Sitihinggil Kidul.
Setiap
bagian keraton mempunyai fungsi masing-masing. Keraton Yogyakarta memiliki
dua halaman, yaitu halaman belakang Alun-alun Selatan dan halaman depan
Alun-alun Utara. Pengagengnya/pimpinanya adalah GBH.
Pengaggeng adalah seorang yang di tunjuk
Sultan untuk menjadi pemimpim/pejabat di lingkungan pemerintahan keraton yang
ditetapkan dengan surat keputusan dari keraton. Kawedanan Hageng
Punakawan, yaitu salahsatu badan yang melaksanakan sebagian pemerintahan
keraton yang bersifat teknis operasional. Kawedanan Hageng, yaitu
salah satu badan yang melaksanakan sebagian pemerintahan keraton yang bersifat
administrasi fungsional.
Sekaten,adalah
suatu tradisi yang telah ada sejak zaman kerajaan Demak.
Usaha ini dilaksanakan para wali yang dikenal
sebagai wali sanga . Beliau lalu membuat seperangkat gamelan yang
dinamakan Kiai Sekati.Berasal dari kata sekati, yaitu nama gamelan keramat
dari Keraton Yogyakarta yang terdiri atas dua jenis gamelan, Kiai
Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga. Mengenai kisah gamelan yang tersimpan di
Keraton Kasultanan Yogyakarta, ia diyakini sebagai hasil karya cipta
Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Mataram Islam. Yang
mengatakna sekaten berasal dari kata suka dan ati yang digabungkan menjadi
sekaten, yang berarti senang hati. Pengertian ini didasarkan pada
sejarah sekaten yang diadakan oleh Wali Sanga yang bertujuan untuk menarik
orang Jawa agar masuk Islam. Mereka yang
datang ke acara sekaten kemudian dengan sukarela mengucap dua kalimat syahadat
sebagai tanda masuk Islam. Berasal dari kata sakhataini yang berarti
menanamkan dua hal, yaitu beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya
dan berbudi baik dalam kehidupan keseharian pada sesama manusia. Bagi
manusia, dengan menyadari secara mendalam makna beribadah kepada Allah
berbuat baik kepada sesama manusia, ia akan menjadi manusia yang dalam
kehidupanya pasrah pada takdir Allah, Ikhlas menjalani kehidupan, dan
menghormati sesama manusia. Tradisi sekaten merupakan hasil dari pemikiran
para wali dalam melihat pola perilaku serta kepercayaan masyarakat yang
cenderung tradisionalis. Sekaten mulai
dirayakan pada masa kerajaan Demak mulai berdiri yang dinpimpin oleh Raden
Patah.
Pada
masa Sultan Agung Hanyokrokusumo (sultan ketiga kesultanan mataram) ditetapkan
bahwa gamelan yang akan mengiringi sekaten adalah gamelan Kiai Gunturmadu dan
KIai Nagawilaga. Yang membedakanya terhadap perayaan sekaten di Kasunanan
Surakarta adalah gamelanya yang bernama Kiai Gunturmadu dan pasanganya Kanjeng
Kiai Guntursari.
Perayaan
yang diadakan setiap tahun di keraton Yogyakarta ini sudah berusia hampir empat
abad, yaitu sejak Hamengku Buwana I memimpin Yogyakarta. Merupakan bentuk
perayaan yang masih teteap dilaksanakan secara rutin di Keraton Yogyakarta.
Ketika acara sekaten dimulai Gamelan sekaten
mulai dibunyika pada tanggal 5 Rabiul awal, dibunyikan di Bangsal
Ponconoto mulai pada pukul 16.00 WIB gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan
Kanjeng Kiai Nagawilaga dikeluarkan dari tempat persemayaman. Lepas waktu
shalat isya, setelah semuanya siap para abdi dhalem yang bertugas di
Bangsal Ponconiti memberi laporan kepada Sultan bahwa upacara siap
dimulai. Setelah ada perintah dari Sultan melalui abdi dhalem yang
diutus, mulailah gamelan sekaten dibunyikan.
Kehadiran
sultan di sambut dan di iringi oleh para abdi dhalem Sipat Bupati, dan
jalan yang akan dilewati sultan dipagar betis oleh empat bregada
prajurit, yaitu satu bregada menjadi pagar betis lintasan jalan dari pintu
gerbang Masjid Gedhe Kauman menuju pagongan selatan, satu bregeda menjadi
pagar betus lintasan jalan dari pintu gerbang Masjid Gedhe Kauman menuju
pagongan utara, dan dua bregeda menjadi pagar betis untuk lintasan dari
pintu gerbang Masjid Gedhe Kauman menuju serambi masjid. Pada saat
pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW sampai pada asrokal , Sri Sultan
beserta para pengiringnya kembali ke serambi untuk menerima persembahan bunga
cempaka dari kiai Penghulu yang disajikan oleh abdi dhalem Punokawan Kaji.
Pada
tanggal 11 Mulud , kira-kira pukul 24.00 WIB setelah sultan
meninggalkan Masjid Gedhe Kauman, gamelan sekaten diboyong kembali ke
keraton, yang dosebut kondur gongso, dikawal oleh dua pasukan abdi
dhalem prajurit, yaitu Prajurit Mantirejo dan Prajurit
Ketanggung. Para abdi dhalem prajurit berbaris di kiri dan kanan jalan di
depan pagongan selatan dan utara untuk ngurung-urung keluarnya gamelan dari
tempat tersebut. Dengan dipindahkanya Gamelan Kanjeng Kiai Sekati dari
halaman Masjid Gedhe Kauman kembali ke keraton menandai bahwa upacara Sekaten
telah selesai. Prosesi sekaten yang dilaksanakann pada setiap bulam Rabiul
awal tepatnya 5-11 Rabiul Awal memiliki makna tersendiri baik aspek budaya
maupun religi.
Seperti
yang telah di jelaskan sebelumnya, para wali berdakwah dengan cara
melakukan penyesuain terhadap adat-istiadat yang berlaku dalam kehidupan
masyarakat tersebut. Melalui momentum kelahuran Nabi Muhamad SAW para wali
mengganti suatu tardisi selamatan menjadi tradisi sekaten.
DAFTAR PUSTAKA
Sri suhandjati. 2015. Islam dan
Kebudayaan Jawa: Revitalisasi Kearifan lokal. Semarang: CV. Karya Abadi
Jaya.
Ismail Yahya. 2009. Adat-adat
Jawa Dalam Bulan-bulan Islam Adakah Pertentangan?. Jakrata : Inti Medina.
Fredy Heryanto.2009 . Mengenal
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Warna.
Sudirman. 2014. Tradisi Sekaten Di
Keraton Yogyakarta Dalam Prespektif Komunikasi Antarbudaya,
repository.uinjkt.ac.id.
[1] Jalaludin. Psikologi Agama. (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada.1996) Hal 169
[2] Sidi Gazalba ,Asas Kebudayaan Islam,Jakarta:Bulan Bintang, 1978,hlm
170-172
[3] Koentjaraningrat, Kebudayaan
Jawa, Jakarta: Balai Pustaka, 1984, hlm
417
[4] Franz Magnis Suseno, Etika
Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, (Jakarta: Grarmedia Pustaka
Utama, 1993), hlm 11
[5] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, hlm 25,26
[6] Soelarto, Garebeg di Kesultanan Yogyakarta
(Yogyakarta:Kanisius, 1993), h. 25-26
[7] Suyami, Upacara ritual Keraton Yogyakarta: Refleksi Mithologi
dalam budaya jawa, h. 12-13
[8] Suyami, Upacara Ritual di Keraton Yogyakarta: Refleksi Mithologi
dan Budaya Jawa, h. 13.
[9] Suyami, Upacara Ritual di Keraton Yogyakarta : Refleksi
Mithologi dalam Budaya Jawa, h. 14-15.
[10] Suyami, Upacara Ritual di Keraton Yogyakarta: Refleksi Mithologi
dalam Budaya Jawa, h. 18.
[11] Fredy Heryanto, Mengenal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,
h. 43
[12] Fredy Heryanto, Mengenal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,
h. 43
13.Fredy Heryanto, Mengenal
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, h. 44
[15] Wali sanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada
abag ke 14. Mereka tinggal di tiga wiayah penting pantai utara pulau jawa,
yaitu Surabaya-Gersik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah,
dan Cirebon di Jawa Barat.
[16] Ismail Yahya, dkk, Adat- Adat Jawa dalam Bulan-Bulan Islam:
Adakah Pertentangan?, h. 45.
[17] Ismail Yahya, dkk, Adat- Adat Jawa dalam Bulan-Bulan Islam:
Adakah Pertentangan?, h. 45.
[18] Ismail Yahya, dkk, Adat- Adat Jawa dalam Bulan-Bulan Islam:
Adakah Pertentangan?, h. 45.46.
[19] Ismail Yahya, dkk, Adat- Adat Jawa dalam Bulan-Bulan Islam: Adakah
Pertentangan?, h. 46.
[20] Tradisionalis adalah cara pandang atau berpikir yang selalu
berpedoman pada norma adat-istiadat yang secafra turun-temurun.
[21] Ismail Yahya, dkk, Adat- Adat Jawa dalam Bulan-Bulan Islam: Adakah
Pertentangan?(solo: Inti Medina2009),h.51
[22] Ismail Yahya, dkk, Adat-Adat Jawa dalam Bulan-bulan Islam:
Adakah Pertentangan?, h. 56
Komentar
Posting Komentar