KEARIFAN LOKAL KEUDAYAAN ISLAM JAWA YANG MASIH MELEKAT DI DESA KALICARI

KEARIFAN LOKAL KEUDAYAAN ISLAM JAWA YANG MASIH MELEKAT DI DESA KALICARI

Oleh: sholakhuddin abdusshomad (1904036061)

Jurusan sutdy agama-agama B2 fakultas ushuluddin dan humaniora

abstrak  

Agama Islam di Jawa memiliki karakter dan ekspresi keberagamaan yang unik. Hal ini karena penyebaran Islam di Jawa, lebih dominan mengambil bentuk akultrasi, baik yang bersifat menyerap maupun dialogis. Pola akulturasi Islam dan budaya Jawa, di samping bisa dilihat pada ekspresi masyarakat Jawa, juga didukung dengan kekuasaan politik kerajaan Islam Jawa, terutama Mataram yang berhasil mempertemukan Islam Jawa dengan kosmologi Hinduisme dan Budhisme. Kendati ada fluktuasi relasi Islam dengan budaya Jawa terutama era abad ke 19-an, namun wajah Islam Jawa yang akulturatif terlihat dominan dalam hampir setiap ekspresi keberagamaan masyarakat muslim di wilayah ini, sehingga ”sinkretisme” dan toleransi agama-agama menjadi satu watak budaya yang khas bagi Islam Jawa.

Penedahuluan

Istilah Islam Jawa dalam konteks tulisan ini dipahami sebagai sistem keyakinan dan ibadah  setempat yang berbeda dengan tradisi Islam pada umumnya. Dengan demikian, kajian ini juga merujuk pada beragam praktik iman, ritual, keyakinan dan religiusitas masyarakat muslim yang berkembang pada waktu dan wilayah tertentu terutama di Jawa. Dalam konteks ini, bisa dilihat bahwa Islam Jawa memberi warna, menyerap bahkan mengislamkan budaya pribumi dan memasyarakatkan kitab suci. Sebagai wujud artikulasinya, bisa dicermati pada beberapa kasus di mana unsur-unsur ibadah pra-Islam diberi makna Islam, dan dalam kasus lain juga dilakukan interpretasi terhadap unsur-unsur tradisi tekstual untuk merumuskan ibadah naratif, ritual dan sosial (Esposito, 2001: 50-51).

Snkretisme agama sebagai karakter islma jawa

Sinkretisme Agama sebagai Karakteristik Islam Jawa Islam datang ke bumi Jawa di saat budaya dan tradisi non-Islam terutama Hindu dan Budha telah mengakar kuat dalam masyarakat Jawa. Karya Clifford Geetz yang berjudul The Religion of Java, menjadi rujukan utama hampir seluruh peneliti Barat yang concern mengkaji agama Jawa, seperti Robert W. Hefner (1985 dan 2000), [1]Mark R. Woodward (1998) dan 1989), Niels Mulder (1999), Andrew Beatty (2001), dan Andre Moller (2005), maupun para peneliti Indonesia seperti Abdul Munir Mulhan (2000), Erni Budiwanti (2000), Muhaimin AG (2001), dan Nursyam (2004). Dalam buku The Religion of Java, Geertz mendeskripsikan secara mendalam fenomena agama Jawa, dengan menggunakan tiga tipologi, yakni abangan, santri dan priyayi (Geertz, 1964: 64). Varian abangan dan santri mengacu kepada afiliasi dan komitmen keagamaan, sementara varian priyayi merupakan kategorisasi sosial. Abangan merupakan sebutan bagi mereka yang tidak secara taat menjalankan komitmennya terhadap aturan keagamaan. Santri merupakan sebutan bagi mereka yang memiliki komitmen keagamaan yang diukur berdasarkan tingkat ketaatannya menjalankan serangkaian aturan agama. Priyayi merupakan sebutan bagi mereka yang secara sosial maupun ekonomi dianggap memiliki derajat dan stratifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan masyarakat desa di Jawa. Dengan menggunakan ketiga tipologi tersebut, Geertz ingin menegaskan bahwa agama Islam di Jawa merupakan kumpulan ekspresi iman, doktrin, ritual dan lan-lain yang dipraktikkan masyarakat sesuai dengan tradisi lokal atau tempat dan waktu seiring dengan perkembangan dan penyebarannya. Dalam konteks inilah kehadiran Islam di Indonesia khususnya Jawa, mengambil bentuk akomodasi, integrasi, menyerap dan dialog dengan akar-akar dan budaya non-Islam, terutama animisme dan hinduisme. Memperkuat tesis di atas, Geertz juga menyatakan bahwa Islam yang hadir di Indonesia bukanlah membangun peradaban tetapi merebut peradaban. Hal ini dalam pandangan Geertz berbeda dengan kehadiran Islam di Maroko yang mengambil bentuk membangun peradaban. Islam di Maroko lahir 50 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW dan dibawa oleh dinasti Idrisiyah. Karena konteks Jawa yang melatari munculnya Islam di Jawa adalah animisme dan hinduisme, maka logis jika “warna dan citarasa” Islam yang berkembang di Jawa juga bernuansa animisme dan hinduisme. Hal ini bisa disaksikan hingga sekarang dalam berbagai sistem ritual Jawa, seperti slametan dengan berbagai bentuknya, baik slametan dalam rangkaian acara mantenan, khitanan, bersih desa maupun ekspresi keberagamaan lainnya. Ritual slametan juga menjadi salah satu media kelompok abangan dalam mengekspresikan wajah komitmen dan keagamaannya. Varian abangan juga merupakan representasi keagamaan dengan afiliasinya pada animisme. Hal ini bisa dilihat dari ekspresi kelompok ini dalam berbagai ritual slametan, magis, ”perdukunan” dan lain-lain. Varian abangan pada umumnya berpusat di desa, dimana slametan merupakan inti ritual agama Jawa yang paling popular dan bertahan hingga sekarang[2]. Slametan yang berwujud tingkeban, yakni ritual yang dilasanakan bagi perempuan yang mencapai usia hamil tujuh bulan ke atas, kelahiran, kematian, bersih desa, sunatan dan lain-lain, masih terlihat dominan pada kehidupan masyarakat Jawa, baik yang beragama Islam murni maupun Islam Jawa (sinkretis). Bagi kelompok/varian Jawa, terdapat keyakinan bahwa kehidupan, penderitaan, kematian dan keberkahan, merupakan pemberian roh-roh halus yang harus dipuja melalui berbagai ritual tersebut. Bagi kelompok abangan, slametan diyakini merupakan simbolisme persembahan terhadap para roh halus, roh leluhur dan lain-lain agar masyarakat terhindar dari bencana dan kejahatan. Fenomena slametan yang dianggap sebagai ritual paling inti dalam masyarakat Jawa ini, bisa disimak pada temuan penelitian Beatty ketika melakukan kajian di Bayu, nama sebuah desa di sebelah selatan kota Banyuwangi. Temuan senada juga bisa dilihat pada hasil penelitian Woodward (1998) tentang masyarakat Jawa di Yogyakarta. Memperkuat tesis Geertz, temuan Hefner pada ekspresi keberagamaan masyarakat Pasuruan juga semakin melengkapinya (Hefner, 1985: 91-128).  Islam Jawa dan Akulturasi Budaya Dari berbagai temuan beberapa peneliti di atas, dapat disimpulkan bahwa elemen masyarakat Jawa yang memiliki diversitas ternyata bisa disatupadukan melalui ritual slametan tersebut. Hal ini karena dalam slametan, seakan tidak ada jarak antara si kaya dan si miskin, antara penganut Islam normatif dan Islam Jawa (abangan dalam kategorisasi Geertz). Bukti lain bahwa ritual slametan agama Jawa bisa menyatupadukan berbagai varian, bisa dilihat pada temuan Beatty (2001), bahwa pada masyarakat Bayu, terdapat ritual penyembahan kepada Buyut Cili dan Buyut Cungking, atau kultus Nyai Po pada masyarakat Pasuruan sebagaimana ditemukan Hefner yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat (Hefner, 2000: 109-110). Dalam ritual slametan, semua eleman masyarakat, mulai dari penganut animisme, mistisime, Islam normatif, kejawen dan hinduisme hadir tanpa membawa serta atribut dan simbol-simbol yang membedakan satu dengan yang lain. Menu slametan biasanya terdiri dari nasi kuning dan apem yang dimakan secara bersama-sama segera setelah dipimpin doa oleh seseorang yang ”dituakan”. Doa biasanya diawali dengan puji-pujian (shalawat) kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, namun kemudian sang pemimpin doa juga memanjatkan doa tersebut kepada para leluhur dan danyang desa (Hefner, 2000: 107). Bahkan dalam tradisi ritual yang dilakukan oleh kelompok Islam normatif-pun, juga tidak jarang menggunakan tradisi animisme, pra-Islam. Hal ini bisa dilihat pada ritual khitanan di Bayu, setelah ritual penyunatan selesai, dilakukan pemberian tiga warna pada penis si sunat, yakni warna merah yang berasal dari darah ayam, warna kuning dari kunyit dan warna putih dari air kapur. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya menolak bala yang mungkin saja bisa datang sewaktu-waktu. Fenomena ritual lainnya yang menjadi media integrasi dari seluruh elemen masyarakat Jawa adalah penyembahan Buyut Cili dan Buyut Cungking di sebuah keramat. Juru kunci keramat yang memimpin upacara penyembahan adalah orang yang fasih membaca doa-doa secara Islam murni (Islam normatif), namun juga fasih melafalkan mantera-mantera Jawa untuk menghadirkan roh Sang Buyut. Ritual keagamaan ini biasanya juga diawali dengan mantera dan doa tersebut. Ritual-ritual tersebut, tampaknya juga didasari pada konsepsi dasar keyakinan orang Jawa mengenai dunia gaib, bahwa semua perwujudan dalam kehidupan disebabkan oleh mahluk berpikir yang juga memiliki kehendak sendiri (Muchtarom, 2002: 56-57). Pemandangan-pemandangan paradoksal di atas, menggambarkan betapa Islam di Jawa dibangun dengan tradisi-tradisi pra-Islam, yang membentuk uniformitas dalam diversitas. Mereka yang berasal dari elemen, latar belakang dan orientasi ideologis yang berbeda, berintegrasi secara kokoh melalui beragam ritual. Dalam konteks ini pula, tesis Weber bahwa ritus dan mitos merupakan alat integrasi dan harmonisasi kosmis menemukan relevansinya. Ritual slametan yang dalam temuan Geertz lebih kental dilakukan oleh varian abangan, tetapi menurut Beatty dilakukan oleh hampir semua elemen masyarakat, memiliki makna, yakni: pertama, bahwa slametan merupakan jembatan teologis bagi kelompok santri dan abangan. Melalui slametan, baik santri maupun abangan mengikuti satu pakem yang sama bagaimana slametan dilaksanakan, tanpa menanggalkan atribut perbedaan masing-masing. Kedua, slametan merupakan media penyatuan dan integrasi masyarakat. Oleh karena itu beberapa di antara penganut muslim yang taat juga mengadakan berbagai ritual slametan sebagaimana yang dilaksanakan masyarakat pada umumnya, dengan alasan untuk menjaga kebersamaan, menghindari chaos dan bahkan resistensi dari masyarakat. Demikian temuan Beatty dalam penelitiannya di Bayu, sebuah desa di Banyuwangi selatan. Fenomena yang sama juga penulis temukan di sejumlah desa di Malang, yang memiliki basis sejarah kerajaan Jawa (Singosari dan Gajayana), bahwa slametan di kuburan (pemakaman) yang disebut nyadran sering dilaksanakan oleh masyarakat, baik oleh yang abangan maupun yang ”santri” sekalipun. Ketiga, slametan merupakan wahana atau forum pertemuan antara si kaya dan si miskin. Demikian Woodward yang menyatakan bahwa slametan memiliki implikasi ekonomis bagi distribusi ekonomi (keberkahan) yang dalam konteks Islam dikenal dengan sebutan shadaqah[3]. Oleh karena itu, Woodward berkesimpulan bahwa ritual slametan memiliki basis teologisnya dalam tradisi Islam. Proses liturgis (tata urutan peribadatan) yang diawali dengan doa yang ditujukan kepada Nabi Muhammad dan para tokoh suci Islam, tampaknya juga semakin memperkuat tesis Woodward tersebut (Woodward, 1998: 55-89). Kesimpulan Woodward berbeda dengan temuan Geertz, Beatty dan Ricklef bahwa ritual slametan itu murni berakar pada tradisi hinduisme (agama pra Islam). Namun demikian, penulis lebih sepakat bahwa slametan, berakar dari dua tradisi, tradisi pra-Islam dan sekaligus dalam tradisi Islam. Slametan, meskipun ada unsur dan elemen Islam, namun lebih banyak dipengaruhi filsafat agama Jawa, yang dibangun berdasarkan tradisi pra -Islam atau bahkan hinduisme. Hal ini misalnya bisa direferensikan pada temuan Hefner di Pasuruan, Beatty di Bayu Banyuwangi, Woorward di Yogyakarya dan Geertz di ”Modjokuto” Pare, Jawa Timur (Bruinessen, 1999: xxxiii). Islam Jawa dan Akulturasi Budaya Varian priyayi temuan Geertz yang pada umumnya memiliki afiliasi teologis pada hinduisme ini, dikritik oleh ilmuan-ilmuan berikutnya. Hal ini karena pada realitasnya ditemukan banyak juga priyayi yang shaleh, sebagaimana ditemukan Woodward. Oleh karena itu, berdasarkan temuannya, Woodward membuat klalifikasi agama rakyat di Jawa, pada abangan priyayi sebagai Islam Jawa, pengikut kebatinan sebagai kejawen, dan pemegang ortodoksi Islam sebagai Islam normatif, serta mistisisme yang direpresentasikan oleh raja (Woodward, 1998: 301-323). Varian ketiga dalam temuan Geertz adalah santri. Kelompok ini mengekspresikan keagamaannya melalui seni, etiket, pakaian, bahasa, dan mistik. Kelompok priyayi, seringkali menjadi tempat bergantung para petani (abangan) karena mereka dianggap memiliki keunggulan politis, kharismatis bahkan ekonomis. Para mistikus Jawa ini biasanya menggunakan bahasa khas kromo inggil dan bahkan bahasa Belanda untuk menunjukkan eksklusivitasnya sebagai kelompok yang biasanya menguasai basis pemerintahan/kota. Bahasa Jawa ngoko hanya digunakan oleh kelompok ini untuk berkomunikasi dengan para buruh atau pembantu mereka. Varian santri merupakan kelompok keagamaan yang menjunjung tinggi doktrin keagamaan[4]. Mereka memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap doktrin agama. Oleh karena itu, upacara-upacara keagamaan yang dilakukan kelompok yang menguasai basis di pasar atau perdagangan ini juga mengacu kepada ritual yang dituntunkan atau terkait dengan sejumlah ortodoksi Islam[5]. Demikian juga tempat ritual, dilakukan di masjid, mushalla atau institusi-institusi keagamaan yang lain. Lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren merupakan ikonografi khusus kelompok ini, yang cenderung membedakan secara hitam-putih dengan varian abangan dan priyayi. Kendati varian santri ini tampak ada pemilahan dan penjelasan secara rigid dan dibedakan dari dua varian yang lain, abangan dan santri, namun sesungguhnya dalam kehidupan praksis kategori-kategori tersebut mengalami kekaburan dan ambiguitas. Demikian kesimpulan Beatty, sehingga ia menghindari melakukan kategorisasi masyarakat berdasarkan tingkat dan komitmen keagamaannya sebagaimana dilakukan Geertz[6]. Berdasarkan data penelitian di atas, dapat diambil pemahaman bahwa fenomena agama di Jawa bisa disebut sebagai agama sinkretis meskipun Woodward lebih suka menyebutnya sebagai Islam Jawa, sama seperti Islam India, Islam Melayu, dan Islam Timur Tengah. Hal itu karena masing-masing memiliki ciri, karakteristik dan keunikan tersendiri sehingga membuat agama tersebut terkesan “lebih hidup” karena sarat dengan makna dan dimensi.

Budaya islam jawa di desa kalicari

Sebelomnya seseorang tidak luput dengan adanya budaya yaitu kebiasaaan turun temurun dari nenek muyang . di desa saya menurut saya masih ada dan lestari budaya islam jawanya, walaumun kebanyakan masyarkatnyat islam namau tidak merubah nulai nilai budaya jawa itu sendiri. Para budayawan di desa kalicari yang membukak pelatihan memainkan alat alat gamlang untuk apa agar tidk di pemngaruhi oleh globalisasi karena di era sekarang bayak orang edsaa yang westernisasi yaiku kebarat baratan mulai dai ujung rambut hingga ujung kaki, tingkah laku  cara  berbicaa, hingga pola hidup nya ingin sama seperti orang-orang barat.

Ada juga dradisi Tradisi syawalan barangkali adalah salah satu contoh singgungan antara agama dan budaya. Meminjam teori antropologi, tradisi syawalan ini termasuk pada apa yang disebut sebagai the great tradition, tradisi besar. Hal ini didasarkan pada universalitas perayaan syawalan di berbagai daerah, setidaknya pada masyarakat Jawa. Secara umum, agama mempunyai dua dimensi, yakni ideal dan faktual. Jika dimensi pertama berkaitan dengan sumber ajaran agama, maka dimensi kedua adalah kenyataan empiris di mana agama tersebut dipraktikkan. Dimensi kedua ini mempunyai tipologi yang meruang waktu, berjalin-kelindan dengan relaitas sosial di mana ummat beragama itu hidup.

Kenyataan inilah yang mengantarkan pada karakteristik keberagamaan yang majemuk dan variatif. Dalam konteks Islam, implementasi ajaran ini mempunyai corak praktis yang universal, sesuai dengan setting sosial yang ada. dalam rangka bersinggungan dengan ajaran agama. Budaya dalam kerangka pikir ini adalah produk kreatifitas manusia, yang juga bertautan dengan semua dimensi kehidupan manusia.

Tradisi syawalan barangkali adalah salah satu contoh singgungan antara agama dan budaya. Meminjam teori antropologi, tradisi syawalan ini termasuk pada apa yang disebut sebagai the great tradition, tradisi besar. Hal ini didasarkan pada universalitas perayaan syawalan di berbagai daerah, setidaknya pada masyarakat Jawa[7]. Yang masih berjalan di daerah saya yaitu di laksanakan pada pagi hari denggan mendatangkan tokoh agama di tempat syawalan biasanya di lakukan di mushola karena kebyakan mayoritas orang islam dan di banacakn yasin tahlil ,doa sedelah itu makan makan. Dan makanan itu pun di buat per orang atau perkluarga untuk membuat apapun utuk di persembahkan di mshulo. Ada nasi kuning (tumpeng), nasi gudangan, opor ayam. Keunikannya lagi setelah acara doa doa itu selesai masyarakat bisa mengikuti kegiatan sorak sorak here yang bisa di ikuti bebas muda kecil tua freee htm. Apa itu sorak sorak hore adalah dima seseorak membakikan sedikit rizkinya untuk orang orang . biasnya ada yang selembar kertas ada juga koin kebuasaan masyarakat kalau membagikan uang kertas itu di bagi 1(satu) orang 2000 semisal , sedangkan koin kebiassanya di hamburka lalu semua orang  menimati kesuruan manggambilnya .

Dengan berbagai penyebutan dan istilah -misalnya kupatan - tradisi satu minggu pasca lebaran ini hampir dirayakan oleh masyarakat di berbagai daerah, khusunya masyarakat pesisir.

Fenomena syawalan adalah produk budaya yang telah berkombinasi dengan tradisi agama. Pemilihan tanggal dan bulan, yakni bulan syawal dan seminggu pasca Idul fitri adalah indikator nilai ajaran agama. selain itu di berbagai daerah, tradisi syawalan selalu diiringi dengan ritual agama, seperti pembacaan tahlil dan doa-doa islami.

Akulturasi agama-budaya dalam hal ini adalah bentuk faktualisasi ajaran agama ke wilayah empiris. Di Jawa, walisongo adalah prototype penyebar agama yang menggunakan strategi akulturasi. Penggunaan simbol tradisi sebagai bagian dari media dakwah menjadi strategi dalam membumikan nilai islam. Sunan Kalijogo misalnya, menggunakan konsep wayang sebagai media mentransformasikan nilai-nilai ajaran islam.

Simpulan

Budaya budaya yang masih lestari di desa maupun di kota harus tetap di jaga karena itulan warisan anank cuku nati. Desa kalicari yang masih murni akan adanya jawanya masih mengaduk nilai nilai jawanya adan juga akulturasi budaya yaitu syawalan masih lestari.

Daftar pustaka 

Bellah, Robert N, dan Phillip E. Hammond. 2003.

 Varieties of Civil Religion. Yogyakarta: IRCiSoD. Budiwanti, Erni. 2000.

 Islam Sasak, Islam Wetu Lima Versus Wetu Telu. Yogyakarta: LKiS. Bruinessen, Martin van, dalam Robert W. Hefner. 1999.

 Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. Yogyakatya: LKiS. Cannon, Dale. 2002.

 Six Ways of Being Religious. Alih bahasa oleh Jam’annuri dan Sahiron. Diperta Depag RI-CIDA McGill-Project. Dhavamony, Mariasusai. 1995.

 Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. Esposito, John L (ed.). 2001. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern Jilid I. Mizan: Bandung.

Geertz, Clifford. 1964. The Religion of Java. London: Free Press of Glecoe. Hefner, Robert W. 2000. Islam Pasar Keadilan: Artikulasi Lokal, Kapitalisme dan Demokrasi.Yogyakarta: LKiS. Hefner, Robert W. 1985. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princetone: Princetone University Press.

https://www.kompasiana.com/muhamad6530/5b28403eab12ae307a0c2423/syawalan-antara-agama-dan-diaspora-budaya



[1] Varieties of Civil Religion. Yogyakarta: IRCiSoD. Budiwanti, Erni. 2000.

 

[2] Islam Sasak, Islam Wetu Lima Versus Wetu Telu. Yogyakarta: LKiS. Bruinessen, Martin van, dalam Robert W. Hefner. 1999

[3] Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. Yogyakatya: LKiS. Cannon, Dale. 2002.

 

[4] Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. Esposito, John L (ed.). 2001. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern Jilid I. Mizan: Bandung.

[5] Six Ways of Being Religious. Alih bahasa oleh Jam’annuri dan Sahiron. Diperta Depag RI-CIDA McGill-Project. Dhavamony, Mariasusai. 1995

[6] Geertz, Clifford. 1964. The Religion of Java. London: Free Press of Glecoe. Hefner, Robert W. 2000. Islam Pasar Keadilan: Artikulasi Lokal, Kapitalisme dan Demokrasi.Yogyakarta: LKiS. Hefner, Robert W. 1985. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princetone: Princetone University Press.

 

[7] https://www.kompasiana.com/muhamad6530/5b28403eab12ae307a0c2423/syawalan-antara-agama-dan-diaspora-budaya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKULTURASI BUDAYA – KESELARASAN DALAM BUDAYA JAWA SESAJEN DI DESA JETAK KECAMATAN WEDARIJAKSA KABUPATEN PATI

AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN TIONGHOA DALAM MOTIF BATIK LASEM

PELESTARIAN BUDAYA JAWA ISLAM DALAM TRADISI 10 SYURO SYEKH AHMAD MUTAMAKKIN DI DESA KAJEN MARGOYO KABUPATEN PATI