HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA JAWA PADA PELAKASANAAN RITUAL KEMATIAN DI DESA TLOGOBOYO
HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA JAWA PADA
PELAKASANAAN RITUAL KEMATIAN DI DESA TLOGOBOYO
Jihad A’la Ulya Adhim
Studi
Agama Agama, Fakultas Ushuludin Dan Humaniora, UIN Walisongo Semarang
E-Mail : yogentshai@gmail.com
Abstract : This paper aims to find out a death ritual
in an area, whether in practice there is an element of Islam by combining with
the local culture of the region. How do Javanese people view the implementation
of the ritual of death, the first is how Javanese people understand the beliefs
and practices of death rituals and the second is how Javanese people interpret
death as a way back to God so that they must be in a state of holiness and
still have confidence that Allah is one only god must be worshiped.
Abstrak : Tulisan ini berjutuan untuk mengetahui
sebuah ritual kematian pada suatu daerah, apakah dalam pelaksanaannya itu
terdapat unsur islam dengan menggabungkan dengan budaya lokal daerah. Bagaimana
pandangan orang jawa terhadap pelaksanaan ritual kematian, yang pertama adalah
bagaimana orang jawa dalam memahami keyakinan dan praktik ritual kematian dan
yang kedua adalah bagaimana orang jawa memaknai kematian sebagai jalan kembali
kepada tuhan sehingga harus dalam keadaan suci dan tetap memiliki keyakinan
bahwa allah swt adalah satu satunya tuhan yang harus disembah.
Kata kunci : interlasi, ritual, islam dan budaya jawa
pendahuluan
Sebelum islam masuk ke indonesia khususnya di
daerah jawa, masyarakat jawa masih menganut keyakinan animisme dinamisme yaitu
percaya pada dewa dewa. Ketika islam masuk ke jawa yang di bawa oleh walisongo
harus melakukan akulturasi antar islam dengan budaya jawa atau memasukkan nilai
nilai islam dalam budaya orang jawa, itu dikarenkan karena begitu kentalnya
keyakinan orang jawa sebelumnya. Bagi orang jawa hidup ini penuh dengan upacara
baik upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup manusia itu sendiri sejak
masih dalam kandungan ibu, lahir, kanak kanak, remaja dewasa bahkan sampai
kematiannya atau juga upacara upacara yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan
sehari hari dalam mencari nafkah misalnya, khususnya bagi para petani, pedagang
dan nelayan dan ada juga upacara yang berhubungan dengan tempat tinggal seperti
dengan membangun gedung, meresmikan rumah, pindah rumah dan lain lain.
Interelasi islam dengan budaya jawa
Sebelum
islam masuk ditanah jawa, telah berkembang aliran kepercayaan animisme ,
dinamisme, hindu, dan budha. Kepercayaan ruh (animisme) dan kepercayaan
terhadap kekuatan (dinamisme), menurut bakker adalah agama asli indonesia.
Dengan melakukan ritual keagamaan, para penganut animisme melakukan pemujaan
terhadap ruh nenk moyang agar bisa membantu manusia. Dalam kepercayaan
animisme, ruh orang yang sudah meninggal masih aktif, sehingga masih bisa
mengunjungi keluarganya yang masih hidup, dapat membantu maupun mencelakakan.
Penganut animisme dan dinamisme melakukan ritual menggunakan sesaji dan
mantera.[1]
Setelah islam tersebar di jawa, maka terjadi
percampuran unsur kepercayaan pra islam (animisme, dinamisme, hindu, budha)
dengan unsur islam yang menimbulkan sinkretisme. Fachry ali dan bachtiar
effendy berpendapat bahwa sinkretisme mempunyai dua pengertian[2]
a.
Bercampurnya ajaran islam dengan nilai nilai adat kepercyaan lokal yang telah
ada sebelum islam datang
b.
Terjadinya percampuran ajaran islam dengan nilai nilai tradisi pedagang
yang menyebarkan islam di jawa antara lain lain dari india dan persia.
Pelaksanaan tradisi Ritual
kematian
1.
Sakaratul maut
Sakaratul maut
menurut orang islam jawa dianggap sebagai proses lepasnya ruh dari dalam badan
(tubuh). Sakaratul maut dapat juga disebut dengan kondisi sekarat dan menuju
kematian. Dapat disimpulkan bahwa sakaratul maut adalah keadaan
ketidakberdayaan seseorang dalam menjalani lepasnya nyawa ketika sedang dicabut
oleh malaikat izroil.
Orang orang masyarakat desa tlogoboyo
mempunyai cara untuk menyikapi keadaan seperti ini, orang yang sudah dalam
keadaan sakaratul maut biasanya di tunggui keluarganya dan juga ada beberapa
keluarga yang memanggil seorang yang ahli agama atau biasa disebut kyai pada
desa untuk menemani sakaratul maut sesorang itu, dalam menghadapi sakaratul
maut biasanya keluarga yang menungguinya membacakan surat suratan yang ada
dalam al qur’an seperti yassin atau surat surat yang lain. Hal itu dipercaya
dapat mempermudah dalam sakaratul maut (agar tidak terlalu menderita).
2.
Memandikan mayit
Mandi dalam
sudut pandang orang islam menjadi wujud kesucian. Dalam hal ini, air memegang
fungsi dan peran yang sangat besar untuk membersihkan kotoran yang melekat
dalam tubuh. Mandi ditinjau dari sisi kesucian dapat dilihat dari segi lahir
dan batin. Secara lahir, air digunakan untuk membersihkan tubuh sehingga
hilanglah segala kotoran yang melekat. Dari segi batin, mandi merupakan
manifestasi untuk menetralkan diri.
Bagi orang yang
meninggal dalam keadaan biasa atau bukan mati syahid, wajib untuk dimandikan.
Ini terkait dengan fitrah manusia sejak lahir, manusia lahir dengan keadaan
suci maka kembalinya juga harus dalam keadaan suci juga. Manusia lahir seperti
kertas kosong maka untuk kepulangannya juga harus dibersihkan tubuhnya terlebih
dahulu. Dalam hal ini air membawa naturalitas untuk manusia sebelum kembali.
Di desa
tlogoboyo pemandian mayit dilakukan dengan dua kali tahapan yang mana tahapan
pertama dengan memandikan mayit dengan menggunakan air dicampur dengan sabun
atau pewangi untuk membersihkan kotoran dari mayit tersebut. Kemudian yang
tahap kedua dengan membilasnya dengan air biasa untuk membersihkan sisa sisa
dabun yang masih menempel pada mayit tersebut. Ada keyakinan yang unik menurut
warag desa setempat, yaitu apabila ada orang meninggal dan ada yang mempunyai
seorang anak kecil atau masih bayi atau bahkan orang tua, pada saat setelah
mayit dikuburkan kemudian orang itu sakit panas maka warga setempat meyakini
bahwa orang itu terkena sawan mayit, untuk mengobatinya maka dengan membeli
obat tradisional dan dengan mencampurnya dengan tanah bekas dimandikannya mayit
tersebut. Setelah melakukannya seperti diatas maka orang yang terkena sawan itu
pun akan sembuh.
3.
Mengafani mayit
Menganfani mayit sebenarnya hampir sama dengan
memberinya pakaian. Sementara itu, pakaian untuk mayit adalah pakaian berupa
kain putih polos atau yang sering disebut dengan kain kafan (mori). Kain yang
digunakan tidak boleh ada jahitannya, yang dibolehkan hanya ikatan di bebrapa
bagian saja agar tidak terlepas. Ikatan itupun ketika di dalam kubur sebelum
ditutup dengan tanah maka harus dilepas terlebih dahulu.
Kain kafan dipotong sesuai dengan panjang
(tinggi) mayit tersebut dan diberi lebih sedikit agar mudah untuk mengikat.
Biasanya modin juga memotong kain dalam bentuk kecil untuk dijadikan tali yang
biasanya diletakkan di bagian paling bawah, kain kafan diletakkan di keranda
dengan dibentangkan satu persatu dengan tempat untuk posisi kepala mengarah ke
kiblat. Selanjutnya mayit diletakkan diatas kain yang telah dibentangkan tadi
dan dilipat hingga menutupi seluruh tubuh mayit kecuali muka.
Dalam mengafani mayit, biasanya juga disiapkan
kapas, kapur barus halus , dan minyak wangi dan beberapa keperluan lain. Kapas
digunakan untuk menutup semua lubang lubang yang ada seperti lubang telinga,
hidung, dan yang lainnya. Ini dimaksudkan agar lubang itu tidak dimasuki hewa
hewan kecil. Kapur barus halus biasanya ditaburkan pada kafan agar serangga
seperti semut tidak mendekati mayit. Minyak wangi digunakan untuk mengurangi
bau busuk dari si mayit agar berbau wangi dan tidak terlalu busuk.
4.
Prosesi sebelum mengantar mayit
Jenazah yang sudah selesai dalam perawatan
diatas dan sudah siap diantarkan, kemudian dimasukkan kedalam keranda ang sudah di sediakan, diatas keranda
ditutupi kain hijau yang bertuliskan laa ilaha illa allah muhammad al
rasulullah. Namun sebelum mayit dimasukkan ke dalam kerenda, di desa tlogoboyo
ada acara kecil yaitu modin menyuruh keluarganya untuk yang mau mencium sang
mayit sebagai tanda pertemuan untuk yang terakhir kalinya, kemudian keluarga
mencium sang mayit dan juga sang anak boleh melakukannya. Dapat dikatakan
setelah melakukan hal itu keluarga diharapkan sudah ikhlas dengan kepergian
sang mayit untuk selama lamanya.
Pada saat mayit mau diberangkatkan ada acara
yang dilakukan yaitu ada tahlil untuk arwah sang mayit, kemudian pembagian
siapa yang menjadi imam saat menyolati mayit, kemudian siapa yang memimpin doa
setelah solat mayit tersebut, kemudian siapa yang men talkin mayit. Tidak juga
lupa pembawa acara juga memamitkan sang mayit, apabila orang yang sudah
meninngal itu masih punya hutang yang kiranya nominalnya kecil diaharapkan
untuk meng ikhlaskannya, namun apabila hutang itu nominalnya besar dan tidak
mau mengikhlaskannya maka orang itu diminta menemui keluarganya untuk dibayar
oleh keluarganya. Ini dimaksudkan agar orang yang telah mati itu dalam keadaan
bersih saat kembali menghadap allah swt
5.
Menyolati mayit
Salat mayit disebut dengan salat gha’ib, tata
caranya berbeda dengan salat lima waktu, menyolati mayit dilakukan dengan cara
berdiri tidak ada rukuk, tidak ada sujud, dan tidak ada tahiyat. Salat gha’ib
ini dilakukan sebanyak empat takbiran, shalat ghaib ini hukumnya fardhu kifayah
yaitu apabila tidak ada orang yang menyolati nya maka satu kampung dosa semua,
namun apabila ada yang menyolati maka mendapatkan pahala semua.
Di desa tlogoboyo pada saat sudah selesai menyolatkan
mayit, orang orang yang ikut melaksanakan penyolatan mayit tersebut diberi uang
selawat, uang selawat adalah uang yang diberikan kepada orang yang telah
menyolati mayit sebagai tanda terima kasih dari keluarga karena mau hadir dan
mendoakan si mayit. Uang selawat diberikan pada saat sudah selesai melakukan
salat mayit dan dalam keaaan masih berdiri kemudan orang yang tukang membagi
uang tersebut memasukkan uangnya kesaku orang yang telah ikut serta dalam
menyolati mayit tersebut. Uang itu dimasukkan dalam amplop, besar atau kecilnya
uang tersebut tidak di tentukan karena pada intinya keluarga si mayit itu
adalah shohibul musibah jadi mau isi amplop kecil mau besar itu terserah
keluarganya.
6.
Mengantar jenazah di makam
Setelah jenazah telah selesai disolatkan,
selanjutnya adalah membawa jenazah ke makam. Di desa tlogoboyo dalam hal ini
biasanya yang mengangkat keranda nya adalah yang masih termasuk sanak kelurga,
ada empat orang yang mengangkat keranda namun tidak lupa juga ada cadangannya
sekitar kurang lebih dua orang, ini dilakukan untuk antisipasi kalau ada orang
yang tidak kuat karena sedang dalam keadaan berduka jadi tidak sekuat biasanya
dan apalagi jika tempat dari tempat penyolatan ke tempat pemakaman jaraknya
lumaya jauh.
Pada
saat perjalanan menuju pemakaman biasanya ada yang menggunakan kembang untuk
ditabur taburkan di atas kerenda untuk mengiringi mayit tersebut, namun tidak
semua keluarga melakukan hal itu karena ekonomi antar keluarga berbeda beda,
dan biasanya yang menggunkan kembang itu termasuk orang yang ekonominya terlogong
mampu.
7.
Pemakaman jenazah
Kemudian prosesi yang selanjutnya adalah
jenazah dikuburkan. Jenazah dihadapkan ke kiblat dengan posisi pipi menempel
pada tanah (diciumkan ke bumi sebagai tempat kembalinya, yakni manusia
diciptakan dari tanah dan kembali ke tanah). Selanjutnya butiran gethuk (gelu)
diselipkan pada bagian bagian yang berongga pada jenazah untuk keperluan
cengkal agar jenazah tidak terbalik dari penciumannya ke tanah.
Kemudian pada saat sebelum mayit diuruk atau
ditimbun tanah maka ada yang melakukan adzan dan langsung disambung dengan
iqamah. Setelah jenazah dibaringkan menghadap kiblat dalam posisi mencium bumi,
maka dangka dipasang miring dengan berjajar rapat. Selain itu ada benda yang
digunakan dalam mengukur kuburan jugat ikut serta dikubur, kemudian ada
beberapa orang yang memadatkan tanah yang sudah ditimbun, kemudian batu nisan
ditancapkan.
Batu nisan atau yang orang tlogoboyo biasa
menyebutnya dengan sebutan patok baik itu terbuat dari kayu jati dan keramik.
Patok itu bertuliskan nama jenazah dan dilengkapi dengan tanggal lahirnya dan
tanggal kematiannya. Patok menurut orang tlogoboyo itu dijadikan sebagai tengeran
atau tanda bahwa kuburan jenazah itu berada disini. Keluarga menyediaka dua
patok yang pertama patok yang ada namanya yang kedua polosan , patok yang ada
namanya ditanamkan di atas kepala jenazah dan patok yang polosan ditanamkan di
kaki jenazah.
Setealah jenazah terkubur biasanya keluarga
melakukan tahlil lagi untuk mendoakan jenazah tersebut dan keluarga memberikan
uang serta membawakan makanan untuk diamakn oleh para penggali kubur jenazah
tersebut. Uang yang diberikan nominalnya terserah kepada keluarga, dan makanan
itu langsung dimakan oleh para penggalinya seketika setelah jenazah telah
dikuburkan. Menurut pemuda yang menggalikan kubur jenazah tersebut makanan yang
dimakan dengan tangan masih bercampur tanah sedikit sedikit itu rasanya sangat
nikmat. Pemberian uang dan makanan itu diberikan oleh keluarga jenazah sebagi
tanda terima kasih karena sudah membantu membuatkan liang lahat untuk jenazah
8.
Takziyah
Takziyah biasanya dilakukan oleh orang
perempuan dan dilakukan pada waktu saat jenazah belum dikuburkan ataupun sesaat
setelah jenazah di kuburkan. Tidak ada batasan waktu tertentu untuk
bertakziyah, menurut orang jawa tradisi ini memliki rasa solidaritas tersendiri
untuk orang yang berduka karena ada salah satu keluarganya yang meninggal dunia
atau yang biasa disebut dengan takziyah. Di desa tlogoboyo dalam takziyah
diharuskan membawa beras sebanyak kurang
lebih tiga liter ini dimaksudkan untuk turut berbela sungkawa yang sebesar
besarnya atas kematian seseorang. Tamu yang datang untuk bertakziyah setelah
acara tujuh hari meninggalnya seseorang maka keluarga kan memberikan makanan
ringan atau jamuan kecil untuk orang yang bertakziyah, ini dimaksudkan untuk
menghormati tamu yang jauh jauh datang untuk bertakziyah.
9.
Selametan
Selametan yang berasal dari kata selamat yang
berarti berdoa untuk meminta keselamatan dalam kubur. Selamatan untuk orang
yang sudah meninggal dunia memang tidak ada dalam al quran secara pasti
sehingga bukanlah sebuah kewajiban. Yang ada adalah bahwa dianjurkannya untuk
anak yang sholeh untuk medoakan orang tua yang telah meninngal dunia. Yang kita
ketahui bahwa yang dapat menyelamatkan orang tua dari siksa adalah doa anak
sholeh, namun orang jawa berpemikiran bahwa jika hanya satu orang saja yang
mendoakan maka jenazah hanya mendapatkan “sangu” sedikit . tapi jika yang
mendoakannya adalah orang banyak maka sangu yang diperoleh oleh jenazah itu
banyak. Itu juga di karenakan orang yang meninggal belum tentu mempunyai anak
(bisa jadi meninggal masih belum menikah atau yang sudah menikah tapi belum
mempunyai anak). Hal ini lah yang menyebabkan orang jawa ketika ada keluarga
yang meninggal tidak lupa juga diadakan selametan.
Dalam
pelaksanaan selametan ada bebrapa tahapan yang dilakukan dari mulai jenazah di
kuburkan, mulai dari ngesur lemah, selamatan tiga hari, selamatan tujuh hari,
selamatan empat puluh hari, selamtan seratus hari, selamatan mendhak sepisan ,
selamatan mendhak pindho , dan selamatan mendhak telu. Berikut adalah
penjelasan dari selamatan selamatan tersebut
Pertama,
yang pertama adalah ngesur lemah. Para penganut animisme mengadakan selamatan
dimulai dari ngesur lemah. Upacara ini dilakukan setelah jenazah dikebumikan,
dan dengan tujuan agar tubuh manusia yang asalnya dibuat dari tanah bisa kembali
lagi menyatu dengan tanah.[3]
Kedua,
selamatan tiga hari adalah untuk membantu kembalinya unsur bumi, api, angin,
air kepada asal kejadian. Dalam serat wirid hidayat jati digambarkan orang yang
meninggal setelah tiga hari, badan akan membengkak namun belum ada yang
terlepas. Masih dalam proses penghancuran, yang dimulai dari pembengkakan.
Ketiga,
selamatan tujuh hari adalah untuk membantu kembalinya kulit dan kuku kepada
asalnya (tanah). Serat wirid hidayat jati menggambarkan kondisi jenazah setelah
tujuh hari, perut sudah membelah dan daging sudah hilang semua, sehingga tidak
ada lagi bentuk manusianya, dan hanya tinggal tulang tulangnya.
Keempat,
selamatan empat puluh hari (matang puluh dino) adalah untuk mengembalikan semua
yang berupa jasad. Dalam wirid hidayat jati digambarkan jasad semua sudah
hancur, yang tinggal adalah kerangka[4]
Kelima,
selamatan seratus hari (nyatus dino) adalah untuk mengembalikan semua yang
berasal dari ayah atau ibunya kepada asalnya (kembali ke bumi), berupa darah ,
daging, sumsum, isi perut, kuku, rambut, tulang dan otot. Hal ini berbeda
dengan tulisan ranggawarsita dalam wirid hidayat jati, bahwa dalam seratus
hari, maka yang tinggal hanya kerangka yang disebut pulat berbentuk kerangka
dalam posisi duduk. Hal ini dikarenakan tulang pinggul mulai terlepas dari
tulang belakangnya.[5]
Keenam,
yaitu mendhak sepisan yaitu menyempurnakan kulit, daging, dan jeroannya, agar
hancur dan menyatu dengan tanah. Sedangkan dalam wirid hidayat jati,
ranggawarsita menggambarkan bahwa pada mendhak sepisan yang tinggal hanya
kerangka dengan posisi seperti duduk setengah condong kedepan, karena tulang
belakang mulai patah.
Ketujuh,
yaitu mendhak pindho yaitu untuk mengemeblikan kepada asalnya seperti kulit ,
darah n dan lainnya, sehingga yang tinggal adalah tulang, menurut ranggawarsita
dalam serat wirid hidyat jati, yang terjadi pada mendhak pindho adalah semua
tulang sudah bersih dan terlepas satu sama lain. Hanya tinggal tulang rusuk
yang belum terlepas satu sama lain
Kedelapan,
yaitu mendhak ketelu yaitu untuk menyempurnakan rasa bau sehingga tidak ada
lagi bau atau rasa. Rtual ini berbeda dengan serat wirid hidayat jati yang
menggambarkan pada seribu hari, diaman semua tulang sudah terlepas dan dalam
posisi mengumpul.
Di
desa tlogoboyo biasanya selametan tidak dilakukan semua seperti yang tertera
diatas yaitu, ngesur lemah, nelung dino, mitung dino, matang puluh dino, nyatus
dino, mendahak sepisan, mendhak pindho, mendhak ketelu. Dalam pelaksnanaan nya
msyarakat desa tlogoboyo tidak melakukan semuanya namun kebanyakan besar
masyarakat hanya melakakukan mitung dino, matang puluh dino, nyatus dino, dan
mendhak sepisan. Dalam pelaksanaan selametan masyarakat tidak pernah meninggal
acara tahlil, jadi semua selametan ada acara tahlilannya. Dalam selametan tujuh
hari biasanya keluarga mengundang warga setempat bersama dengan pemangku
pemangku agama atau sering disebut kyai untuk melakukan tahlil bersama kemudian
setelelah selesai pihak keluarga juga memberikan “berkat” kepada orang yang
datang pada selametan itu , namun berkatnya ketika selametan tujuh hari masih
dalam bentuk mentahan atau belum dimasak, biasanya keluarga mengisi berkat
tersebut dengan beras dan telur serta minuman kemasan gelas. Hal ini diberikan
sebagai tanda terima kasih kepada orang orang karena telah mau mendoakan
jenazah. Hal serupa juga dilakukan pada selametan matng puluh dino, nyatus dino
, dan sampai mendhak yaitu keluarga memnggil orang atau warga setempat untuk
men tahlilkan bersama sama, namun dalam selametan ini sedikit berbeda yaitu
berkat yang diberikan oleh keluarga kepada orang yang ikut selametan itu sudah
dimasak atau dalam bentuk siap saji.
Selain
ritual semaletan masyarakat desa tlogoboyo juga melakukan kegiatan yang lain
ketika ada orang yang meninggal. Ketika ada seseorang yang meninggal selama
sebelum tujuh hari dari kematian seseorang tersebut , warga sering melakukan
tahlil bersama di rumah shohibul musibah tahlil tersebut dipimpin oleh pemangku
agama setempat. Ada beberapa waktu yang digunakan untuk kegiatan tersebut, yang
pertama pada waktu habis shalat subuh. Tahlilan pada waktu ini dilakukan oleh
bapak bapak atau orang laki laki yang bertempat di makam jenazah tersebut yang
dilakukan pada waktu fajar atau setelah shalat subuh. Kemudian adalah pada
waktu habis maghrib tahlilan ini dilakukan oleh para ibuk ibuk atau orang
perempuan yang bertempatkan di rumah shohibul musibah. Kemudian yang terakhir adalah pada waktu habis iysa’ tahlilan yang
dilakukan pada waktu ini dilakukan oleh bapak bapak atau orang laki laki yang
bertempatkan dirumah shohibul musibah.
Selain
kegiatan itu, ada juga kegiatan yang dilakukan ketika ada warga setempat yang
meninggal yaitu “pidhak kubro” . pidhak kubro adalah pembacaan surat al ikhlas
sebanyak 100.000 kali, kegiatan ini dilakukan setelah jenazah terkuburkan.
Kegiatan ini biasanya siselesaikan selama 2 hari yang dibacakan pada dua waktu,
yaitu pada waktu habis shalat ashar yang melakukannya adalah para ibuk ibuk
atau perempuan dan pada waktu habis isya, pada waktu ini yang melakukannya
adalah para bapak bapak atau para laki laki. Phidak kubro dilaksanakan di
masjid desa setempat , jika orang yang datang banyak maka pidhak kubro dapat
selesai satu hari namun jika orang yang datang sedikit maka ditermpuh selama
dua hari . bacaan pidhak kubro diakhiri dengan tahlil dan di dilanjutkan dengan
doa.
Pada
saat melakukan tahlilan yang habis subuh yang dilakukan oleh laki laki biasanya
hanya sedikit orang yang ikut dikarenakan waktu yang masih fajar. Semua yang
dilakukan itu merupakan sukarela dan tidak ada pemaksaan dari pihak keluarga
Makna ritual
menurut orang islam jawa
Dalam prespektif orang islam jawa, kematian
merupakan jalan kembali kepada tuhan. Dengan kata lain walaupun orang tersebut
sudah mati, tetapi ia tidak benar benar mati. Yang mati adalah tubuhnya
sementara ruhnya masih hidup. Ruhnya melakukan perjalanan ke alam lain, yakni
ke alam kubur. Mereka mendasarkan pandangannya seperti yang tertera dalam al
qur’an surat al mu’minun ayat 115.[6]
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا
وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Artinya : Maka apakah kamu
mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan
bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Acara
selametan orang yang telah meninggal atau biasa disebut dengan tahlilan juga
menurut masayarakat desa tlogoboyo, bahwa tujuan dari diadakannya selametan
atau talilan adalah untuk mendoakan arwah nenek moyang (keluarga) yang telah
mendahului kita atau meninggal sebelum kita. Mereka memliki pemahaman
bahwasannya orang yang sudah meninggal dunia ruhnya tetap hidup dan tinggal
sementara di alam kubur atau alam barzah, sebagai alam sebelum memasuki alam
akhirat. Arwah orang yang telah meninggal dunia berkeliaran di sekitar tempat
tinggalnya dan masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup
sehingga suatu saat arwah itu menyambangi datang ke kediamannya tersebut.
Mengenai
hubungan manusia yang masih hidup dengan yang sudah mati, syekh islam ibnu
tamiyah berpendapat dalam kutipan badruddin hsubky berdasarkan hadist nabi SAW.[7]
“ apabila anak adam mati, maka putuslah segala
amalnya, kecuali tiga perkara, sodakoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak
soleh yang mendoakannya”.
Menurut ibnu tamiyah, tidak terdapat
keterangan dalam al qur’an dan as sunnah yang menjelaskan bahwa sesungguhnya
doa yang hidup tidak bermanfaat lagi bagi si mati. Bahkan menurut beliau, bukan
hanya doa yang bisa sampai kepada orang yang sudah mati. Semua perbuatan
manusia yang hidup bisa berpengaruh terhadap orang mati. Para ulama’ telah
sepakat mengenai manfaat doa bagi orang yang sudah mati, karena dalil dalilnya
sudah sangat jelas , baik dalam al qur’an maupun as sunnah.
Amalan pembacaan tahlilan atau
slametan atau al quran yang dijadikan hadiah bagi mereka yang sudah meninggal,
pada hakekatnya merupakan suatu doa atau istighfar sebagaimana dapat diketahui
dalam acara tahlilan. Dijelaskan dalam al quran surat al hasyr ayat 10.
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا
بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيم
Artinya : Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam
hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau
Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Semua manusia percaya bahwa manusia
yang mengalami kematian, jasadnya akan kembali menjadi tanah. Proses kembalinya
manusia menjadi tanah adalah sunnatullah yang pasti terjadi, meskipun tidak ada
ritual. Hal ini berdasarkan firman allah dalam al qur’an surat nuh ayat 18.
ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ
إِخْرَاجًا
Artinya : Kemudian Dia mengembalikan kamu ke
dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan
sebenar-benarnya.
Dalam al
qur’an surat al hajj ayat 7 kebangkitan setelah meninggal juga dijelaskan
وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ لَّا رَيْبَ
فِيهَا وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِى ٱلْقُبُورِ
Artinya : Dan sesungguhnya hari kiamat itu
pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan
semua orang di dalam kubur.
Kebangkitan
manusia dari alam kubur merupakan salah satu tanda kekuasaan allah sebagaimana
dijelaskan dalam al quran surat ar rum ayat 25
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَن تَقُومَ ٱلسَّمَآءُ
وَٱلْأَرْضُ بِأَمْرِهِۦ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ ٱلْأَرْضِ إِذَآ
أَنتُمْ تَخْرُجُونَ
Artinya : Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian
apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu
keluar (dari kubur).
Kematian dan keberadan jenazah dalam
alam kubur termasuk perkara ghaib, dan hanya allah yang maha mengetahui. Karena
itu, manusia perlu menyandarkan pengetahuan tentang kematian dan keberadaanya
di alam kubur, dan itu hanya bisa diperoleh dari firman allah yang tersebut
dalam kitab suci al quran.[8]
Unsur unsur
islam yang terkandung dalam tradisi selametan[9]
a. Penggunaan
ayat ayat al qur’an
proses berjalannya acara
yang sudah menjadi adat kebiasaan, dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, yaitu
ustad masyarakat setempat. Dalam acara selametan kematian umumnya melakukan
pembacaan tahlil yang dilanjutkan dengan doa
b. Sedekah
Selamatan yang setelah
selesai melakukannya diberikan berkat, yaitu sebagai sedekah sekaligus sebagai
tanda terima kasih keluarga karena sudah ikut mendoakan
c. Nilai ukhuwa
islamiyah
Selametan kematian
memberikan kesempatan berkumpulnya kelompok orang berdoa bersama, makan bersama
secara sederhana. Merupakan sutu sikap sosial yang mempunyai makna turut
berduka cita terhadap keluarga si jenazah atas musibah yang menimpanya, yaitu
meninggalnya salah seorang dari keluarganya. Disamping itu juga bermakna
emngadakan silaturrahmi serta memupuk ikatan persaudaraan.
d. Nilai tolong
menolong
Dalam hal tolong
menolong dalam peristiwa kematian, biasanya dilakukan secara sukarela tanpa
perhitungan akan mendapat pertolongan kembali, karena menolong orang yang
terkena musibah itu berdasarkan rasa bela sugkawa yang universal dalam jiwa
makhluk manusia.
Kesimpulan
Ritual kematian adalah sebuah tradisi yang dialukan oleh
orang jawa sebagai perawatan akhir dari seseorang yang masih berada di dunia,
sebelum menghadap sang kuasa, dalam pelaksanaannya orang jawa melakukan tradisi
tradisi seperti yang disebitkan diatas. Kemudian tentang makna sebuah tradisi
ritual kematian yaitu selamatan, dalam selamatan dilakukan untuk mendoakan
orang yang sudah meninggal lebih dulu dari kita. Dalam pelaksanaan selametan
tidak mengandung unsur bid’ah karena tidak bertentangan dengan al qur’an dan as
sunnah serta selametan mempunyai nilai nilai yang dianjurkan dalam islam
seperti penggunaan ayat ayat al qur’an, mempunyai nilai ukhuwah islamiyah,
sedekah, dan nilai tolong menolong.
Daftar pustaka
Suhandjati,sri. Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal.
Semarang. Cv karya abadi jaya. 2015.
Hsbuky,badruddin. Bid’ah bid’ah di indonesia dalam perspektif al qur’an dan
as sunnah kalam kitab kuning. Surabaya. Pp nurul islam
Suwito,dkk. Tradisi dan ritual kematian wong jawa islam, jurnal iain
purwokerto
http://lumiindut.blogspot.com/2013/06/makalah-selamatan-kematian.html
[1] Sri suhandjati.
Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya
abadi jaya. 2015. Hlm 37
[2] Ibid hlm 40
[3] Sri suhandjati.
Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya
abadi jaya. 2015. Hlm 54
[4] Sri suhandjati.
Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya
abadi jaya. 2015. Hal 55
[5] Ibid hlm 55
[6] Suwito,dkk.
Tradisi dan ritual kematian wong jawa islam, jurnal iain purwokerto
[7] Badruddin hsubky,
bid’ah bid’sh di indonesia dalam perspektif al qur’an dan as sunnah kalam kitab
kuning. Surabaya. Pp nurul islam . 2005,hlm 25
[8] Sri suhandjati.
Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya
abadi jaya. 2015. Hal 57
Komentar
Posting Komentar