HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA JAWA PADA PELAKASANAAN RITUAL KEMATIAN DI DESA TLOGOBOYO

HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA JAWA PADA PELAKASANAAN RITUAL KEMATIAN DI DESA TLOGOBOYO

 

Jihad A’la Ulya Adhim 

 Studi Agama Agama, Fakultas Ushuludin Dan Humaniora, UIN Walisongo Semarang

E-Mail : yogentshai@gmail.com

 

Abstract : This paper aims to find out a death ritual in an area, whether in practice there is an element of Islam by combining with the local culture of the region. How do Javanese people view the implementation of the ritual of death, the first is how Javanese people understand the beliefs and practices of death rituals and the second is how Javanese people interpret death as a way back to God so that they must be in a state of holiness and still have confidence that Allah is one only god must be worshiped.

Abstrak : Tulisan ini berjutuan untuk mengetahui sebuah ritual kematian pada suatu daerah, apakah dalam pelaksanaannya itu terdapat unsur islam dengan menggabungkan dengan budaya lokal daerah. Bagaimana pandangan orang jawa terhadap pelaksanaan ritual kematian, yang pertama adalah bagaimana orang jawa dalam memahami keyakinan dan praktik ritual kematian dan yang kedua adalah bagaimana orang jawa memaknai kematian sebagai jalan kembali kepada tuhan sehingga harus dalam keadaan suci dan tetap memiliki keyakinan bahwa allah swt adalah satu satunya tuhan yang harus disembah.

Kata kunci : interlasi, ritual, islam dan budaya jawa

pendahuluan

Sebelum islam masuk ke indonesia khususnya di daerah jawa, masyarakat jawa masih menganut keyakinan animisme dinamisme yaitu percaya pada dewa dewa. Ketika islam masuk ke jawa yang di bawa oleh walisongo harus melakukan akulturasi antar islam dengan budaya jawa atau memasukkan nilai nilai islam dalam budaya orang jawa, itu dikarenkan karena begitu kentalnya keyakinan orang jawa sebelumnya. Bagi orang jawa hidup ini penuh dengan upacara baik upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup manusia itu sendiri sejak masih dalam kandungan ibu, lahir, kanak kanak, remaja dewasa bahkan sampai kematiannya atau juga upacara upacara yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan sehari hari dalam mencari nafkah misalnya, khususnya bagi para petani, pedagang dan nelayan dan ada juga upacara yang berhubungan dengan tempat tinggal seperti dengan membangun gedung, meresmikan rumah, pindah rumah dan lain lain.

Interelasi islam dengan budaya jawa

 Sebelum islam masuk ditanah jawa, telah berkembang aliran kepercayaan animisme , dinamisme, hindu, dan budha. Kepercayaan ruh (animisme) dan kepercayaan terhadap kekuatan (dinamisme), menurut bakker adalah agama asli indonesia. Dengan melakukan ritual keagamaan, para penganut animisme melakukan pemujaan terhadap ruh nenk moyang agar bisa membantu manusia. Dalam kepercayaan animisme, ruh orang yang sudah meninggal masih aktif, sehingga masih bisa mengunjungi keluarganya yang masih hidup, dapat membantu maupun mencelakakan. Penganut animisme dan dinamisme melakukan ritual menggunakan sesaji dan mantera.[1]

Setelah islam tersebar di jawa, maka terjadi percampuran unsur kepercayaan pra islam (animisme, dinamisme, hindu, budha) dengan unsur islam yang menimbulkan sinkretisme. Fachry ali dan bachtiar effendy berpendapat bahwa sinkretisme mempunyai dua pengertian[2]

a.     Bercampurnya ajaran islam dengan nilai nilai adat kepercyaan lokal yang telah ada sebelum islam datang

b.     Terjadinya percampuran ajaran islam dengan nilai nilai tradisi pedagang yang menyebarkan islam di jawa antara lain lain dari india dan persia.

Pelaksanaan tradisi Ritual kematian

1.     Sakaratul maut

Sakaratul maut menurut orang islam jawa dianggap sebagai proses lepasnya ruh dari dalam badan (tubuh). Sakaratul maut dapat juga disebut dengan kondisi sekarat dan menuju kematian. Dapat disimpulkan bahwa sakaratul maut adalah keadaan ketidakberdayaan seseorang dalam menjalani lepasnya nyawa ketika sedang dicabut oleh malaikat izroil.

Orang orang masyarakat desa tlogoboyo mempunyai cara untuk menyikapi keadaan seperti ini, orang yang sudah dalam keadaan sakaratul maut biasanya di tunggui keluarganya dan juga ada beberapa keluarga yang memanggil seorang yang ahli agama atau biasa disebut kyai pada desa untuk menemani sakaratul maut sesorang itu, dalam menghadapi sakaratul maut biasanya keluarga yang menungguinya membacakan surat suratan yang ada dalam al qur’an seperti yassin atau surat surat yang lain. Hal itu dipercaya dapat mempermudah dalam sakaratul maut (agar tidak terlalu menderita).

 

 

 

2.     Memandikan mayit

Mandi dalam sudut pandang orang islam menjadi wujud kesucian. Dalam hal ini, air memegang fungsi dan peran yang sangat besar untuk membersihkan kotoran yang melekat dalam tubuh. Mandi ditinjau dari sisi kesucian dapat dilihat dari segi lahir dan batin. Secara lahir, air digunakan untuk membersihkan tubuh sehingga hilanglah segala kotoran yang melekat. Dari segi batin, mandi merupakan manifestasi untuk menetralkan diri.

Bagi orang yang meninggal dalam keadaan biasa atau bukan mati syahid, wajib untuk dimandikan. Ini terkait dengan fitrah manusia sejak lahir, manusia lahir dengan keadaan suci maka kembalinya juga harus dalam keadaan suci juga. Manusia lahir seperti kertas kosong maka untuk kepulangannya juga harus dibersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Dalam hal ini air membawa naturalitas untuk manusia sebelum kembali.

Di desa tlogoboyo pemandian mayit dilakukan dengan dua kali tahapan yang mana tahapan pertama dengan memandikan mayit dengan menggunakan air dicampur dengan sabun atau pewangi untuk membersihkan kotoran dari mayit tersebut. Kemudian yang tahap kedua dengan membilasnya dengan air biasa untuk membersihkan sisa sisa dabun yang masih menempel pada mayit tersebut. Ada keyakinan yang unik menurut warag desa setempat, yaitu apabila ada orang meninggal dan ada yang mempunyai seorang anak kecil atau masih bayi atau bahkan orang tua, pada saat setelah mayit dikuburkan kemudian orang itu sakit panas maka warga setempat meyakini bahwa orang itu terkena sawan mayit, untuk mengobatinya maka dengan membeli obat tradisional dan dengan mencampurnya dengan tanah bekas dimandikannya mayit tersebut. Setelah melakukannya seperti diatas maka orang yang terkena sawan itu pun akan sembuh.

3.     Mengafani mayit

Menganfani mayit sebenarnya hampir sama dengan memberinya pakaian. Sementara itu, pakaian untuk mayit adalah pakaian berupa kain putih polos atau yang sering disebut dengan kain kafan (mori). Kain yang digunakan tidak boleh ada jahitannya, yang dibolehkan hanya ikatan di bebrapa bagian saja agar tidak terlepas. Ikatan itupun ketika di dalam kubur sebelum ditutup dengan tanah maka harus dilepas terlebih dahulu.

Kain kafan dipotong sesuai dengan panjang (tinggi) mayit tersebut dan diberi lebih sedikit agar mudah untuk mengikat. Biasanya modin juga memotong kain dalam bentuk kecil untuk dijadikan tali yang biasanya diletakkan di bagian paling bawah, kain kafan diletakkan di keranda dengan dibentangkan satu persatu dengan tempat untuk posisi kepala mengarah ke kiblat. Selanjutnya mayit diletakkan diatas kain yang telah dibentangkan tadi dan dilipat hingga menutupi seluruh tubuh mayit kecuali muka.

Dalam mengafani mayit, biasanya juga disiapkan kapas, kapur barus halus , dan minyak wangi dan beberapa keperluan lain. Kapas digunakan untuk menutup semua lubang lubang yang ada seperti lubang telinga, hidung, dan yang lainnya. Ini dimaksudkan agar lubang itu tidak dimasuki hewa hewan kecil. Kapur barus halus biasanya ditaburkan pada kafan agar serangga seperti semut tidak mendekati mayit. Minyak wangi digunakan untuk mengurangi bau busuk dari si mayit agar berbau wangi dan tidak terlalu busuk.

4.     Prosesi sebelum mengantar mayit

Jenazah yang sudah selesai dalam perawatan diatas dan sudah siap diantarkan, kemudian dimasukkan kedalam keranda  ang sudah di sediakan, diatas keranda ditutupi kain hijau yang bertuliskan laa ilaha illa allah muhammad al rasulullah. Namun sebelum mayit dimasukkan ke dalam kerenda, di desa tlogoboyo ada acara kecil yaitu modin menyuruh keluarganya untuk yang mau mencium sang mayit sebagai tanda pertemuan untuk yang terakhir kalinya, kemudian keluarga mencium sang mayit dan juga sang anak boleh melakukannya. Dapat dikatakan setelah melakukan hal itu keluarga diharapkan sudah ikhlas dengan kepergian sang mayit untuk selama lamanya.

Pada saat mayit mau diberangkatkan ada acara yang dilakukan yaitu ada tahlil untuk arwah sang mayit, kemudian pembagian siapa yang menjadi imam saat menyolati mayit, kemudian siapa yang memimpin doa setelah solat mayit tersebut, kemudian siapa yang men talkin mayit. Tidak juga lupa pembawa acara juga memamitkan sang mayit, apabila orang yang sudah meninngal itu masih punya hutang yang kiranya nominalnya kecil diaharapkan untuk meng ikhlaskannya, namun apabila hutang itu nominalnya besar dan tidak mau mengikhlaskannya maka orang itu diminta menemui keluarganya untuk dibayar oleh keluarganya. Ini dimaksudkan agar orang yang telah mati itu dalam keadaan bersih saat kembali menghadap allah swt

5.     Menyolati mayit

Salat mayit disebut dengan salat gha’ib, tata caranya berbeda dengan salat lima waktu, menyolati mayit dilakukan dengan cara berdiri tidak ada rukuk, tidak ada sujud, dan tidak ada tahiyat. Salat gha’ib ini dilakukan sebanyak empat takbiran, shalat ghaib ini hukumnya fardhu kifayah yaitu apabila tidak ada orang yang menyolati nya maka satu kampung dosa semua, namun apabila ada yang menyolati maka mendapatkan pahala semua.

Di desa tlogoboyo pada saat sudah selesai menyolatkan mayit, orang orang yang ikut melaksanakan penyolatan mayit tersebut diberi uang selawat, uang selawat adalah uang yang diberikan kepada orang yang telah menyolati mayit sebagai tanda terima kasih dari keluarga karena mau hadir dan mendoakan si mayit. Uang selawat diberikan pada saat sudah selesai melakukan salat mayit dan dalam keaaan masih berdiri kemudan orang yang tukang membagi uang tersebut memasukkan uangnya kesaku orang yang telah ikut serta dalam menyolati mayit tersebut. Uang itu dimasukkan dalam amplop, besar atau kecilnya uang tersebut tidak di tentukan karena pada intinya keluarga si mayit itu adalah shohibul musibah jadi mau isi amplop kecil mau besar itu terserah keluarganya.

 

6.     Mengantar jenazah di makam

Setelah jenazah telah selesai disolatkan, selanjutnya adalah membawa jenazah ke makam. Di desa tlogoboyo dalam hal ini biasanya yang mengangkat keranda nya adalah yang masih termasuk sanak kelurga, ada empat orang yang mengangkat keranda namun tidak lupa juga ada cadangannya sekitar kurang lebih dua orang, ini dilakukan untuk antisipasi kalau ada orang yang tidak kuat karena sedang dalam keadaan berduka jadi tidak sekuat biasanya dan apalagi jika tempat dari tempat penyolatan ke tempat pemakaman jaraknya lumaya jauh.

            Pada saat perjalanan menuju pemakaman biasanya ada yang menggunakan kembang untuk ditabur taburkan di atas kerenda untuk mengiringi mayit tersebut, namun tidak semua keluarga melakukan hal itu karena ekonomi antar keluarga berbeda beda, dan biasanya yang menggunkan kembang itu termasuk orang yang ekonominya terlogong mampu.

7.     Pemakaman jenazah

Kemudian prosesi yang selanjutnya adalah jenazah dikuburkan. Jenazah dihadapkan ke kiblat dengan posisi pipi menempel pada tanah (diciumkan ke bumi sebagai tempat kembalinya, yakni manusia diciptakan dari tanah dan kembali ke tanah). Selanjutnya butiran gethuk (gelu) diselipkan pada bagian bagian yang berongga pada jenazah untuk keperluan cengkal agar jenazah tidak terbalik dari penciumannya ke tanah.

Kemudian pada saat sebelum mayit diuruk atau ditimbun tanah maka ada yang melakukan adzan dan langsung disambung dengan iqamah. Setelah jenazah dibaringkan menghadap kiblat dalam posisi mencium bumi, maka dangka dipasang miring dengan berjajar rapat. Selain itu ada benda yang digunakan dalam mengukur kuburan jugat ikut serta dikubur, kemudian ada beberapa orang yang memadatkan tanah yang sudah ditimbun, kemudian batu nisan ditancapkan.

Batu nisan atau yang orang tlogoboyo biasa menyebutnya dengan sebutan patok baik itu terbuat dari kayu jati dan keramik. Patok itu bertuliskan nama jenazah dan dilengkapi dengan tanggal lahirnya dan tanggal kematiannya. Patok menurut orang tlogoboyo itu dijadikan sebagai tengeran atau tanda bahwa kuburan jenazah itu berada disini. Keluarga menyediaka dua patok yang pertama patok yang ada namanya yang kedua polosan , patok yang ada namanya ditanamkan di atas kepala jenazah dan patok yang polosan ditanamkan di kaki jenazah.

Setealah jenazah terkubur biasanya keluarga melakukan tahlil lagi untuk mendoakan jenazah tersebut dan keluarga memberikan uang serta membawakan makanan untuk diamakn oleh para penggali kubur jenazah tersebut. Uang yang diberikan nominalnya terserah kepada keluarga, dan makanan itu langsung dimakan oleh para penggalinya seketika setelah jenazah telah dikuburkan. Menurut pemuda yang menggalikan kubur jenazah tersebut makanan yang dimakan dengan tangan masih bercampur tanah sedikit sedikit itu rasanya sangat nikmat. Pemberian uang dan makanan itu diberikan oleh keluarga jenazah sebagi tanda terima kasih karena sudah membantu membuatkan liang lahat untuk jenazah

8.     Takziyah

Takziyah biasanya dilakukan oleh orang perempuan dan dilakukan pada waktu saat jenazah belum dikuburkan ataupun sesaat setelah jenazah di kuburkan. Tidak ada batasan waktu tertentu untuk bertakziyah, menurut orang jawa tradisi ini memliki rasa solidaritas tersendiri untuk orang yang berduka karena ada salah satu keluarganya yang meninggal dunia atau yang biasa disebut dengan takziyah. Di desa tlogoboyo dalam takziyah diharuskan  membawa beras sebanyak kurang lebih tiga liter ini dimaksudkan untuk turut berbela sungkawa yang sebesar besarnya atas kematian seseorang. Tamu yang datang untuk bertakziyah setelah acara tujuh hari meninggalnya seseorang maka keluarga kan memberikan makanan ringan atau jamuan kecil untuk orang yang bertakziyah, ini dimaksudkan untuk menghormati tamu yang jauh jauh datang untuk bertakziyah.

9.     Selametan

Selametan yang berasal dari kata selamat yang berarti berdoa untuk meminta keselamatan dalam kubur. Selamatan untuk orang yang sudah meninggal dunia memang tidak ada dalam al quran secara pasti sehingga bukanlah sebuah kewajiban. Yang ada adalah bahwa dianjurkannya untuk anak yang sholeh untuk medoakan orang tua yang telah meninngal dunia. Yang kita ketahui bahwa yang dapat menyelamatkan orang tua dari siksa adalah doa anak sholeh, namun orang jawa berpemikiran bahwa jika hanya satu orang saja yang mendoakan maka jenazah hanya mendapatkan “sangu” sedikit . tapi jika yang mendoakannya adalah orang banyak maka sangu yang diperoleh oleh jenazah itu banyak. Itu juga di karenakan orang yang meninggal belum tentu mempunyai anak (bisa jadi meninggal masih belum menikah atau yang sudah menikah tapi belum mempunyai anak). Hal ini lah yang menyebabkan orang jawa ketika ada keluarga yang meninggal tidak lupa juga diadakan selametan.

            Dalam pelaksanaan selametan ada bebrapa tahapan yang dilakukan dari mulai jenazah di kuburkan, mulai dari ngesur lemah, selamatan tiga hari, selamatan tujuh hari, selamatan empat puluh hari, selamtan seratus hari, selamatan mendhak sepisan , selamatan mendhak pindho , dan selamatan mendhak telu. Berikut adalah penjelasan dari selamatan selamatan tersebut

            Pertama, yang pertama adalah ngesur lemah. Para penganut animisme mengadakan selamatan dimulai dari ngesur lemah. Upacara ini dilakukan setelah jenazah dikebumikan, dan dengan tujuan agar tubuh manusia yang asalnya dibuat dari tanah bisa kembali lagi menyatu dengan tanah.[3]

 

 

 

            Kedua, selamatan tiga hari adalah untuk membantu kembalinya unsur bumi, api, angin, air kepada asal kejadian. Dalam serat wirid hidayat jati digambarkan orang yang meninggal setelah tiga hari, badan akan membengkak namun belum ada yang terlepas. Masih dalam proses penghancuran, yang dimulai dari pembengkakan.

            Ketiga, selamatan tujuh hari adalah untuk membantu kembalinya kulit dan kuku kepada asalnya (tanah). Serat wirid hidayat jati menggambarkan kondisi jenazah setelah tujuh hari, perut sudah membelah dan daging sudah hilang semua, sehingga tidak ada lagi bentuk manusianya, dan hanya tinggal tulang tulangnya.

            Keempat, selamatan empat puluh hari (matang puluh dino) adalah untuk mengembalikan semua yang berupa jasad. Dalam wirid hidayat jati digambarkan jasad semua sudah hancur, yang tinggal adalah kerangka[4]

            Kelima, selamatan seratus hari (nyatus dino) adalah untuk mengembalikan semua yang berasal dari ayah atau ibunya kepada asalnya (kembali ke bumi), berupa darah , daging, sumsum, isi perut, kuku, rambut, tulang dan otot. Hal ini berbeda dengan tulisan ranggawarsita dalam wirid hidayat jati, bahwa dalam seratus hari, maka yang tinggal hanya kerangka yang disebut pulat berbentuk kerangka dalam posisi duduk. Hal ini dikarenakan tulang pinggul mulai terlepas dari tulang belakangnya.[5]

            Keenam, yaitu mendhak sepisan yaitu menyempurnakan kulit, daging, dan jeroannya, agar hancur dan menyatu dengan tanah. Sedangkan dalam wirid hidayat jati, ranggawarsita menggambarkan bahwa pada mendhak sepisan yang tinggal hanya kerangka dengan posisi seperti duduk setengah condong kedepan, karena tulang belakang mulai patah.

            Ketujuh, yaitu mendhak pindho yaitu untuk mengemeblikan kepada asalnya seperti kulit , darah n dan lainnya, sehingga yang tinggal adalah tulang, menurut ranggawarsita dalam serat wirid hidyat jati, yang terjadi pada mendhak pindho adalah semua tulang sudah bersih dan terlepas satu sama lain. Hanya tinggal tulang rusuk yang belum terlepas satu sama lain

            Kedelapan, yaitu mendhak ketelu yaitu untuk menyempurnakan rasa bau sehingga tidak ada lagi bau atau rasa. Rtual ini berbeda dengan serat wirid hidayat jati yang menggambarkan pada seribu hari, diaman semua tulang sudah terlepas dan dalam posisi  mengumpul.

            Di desa tlogoboyo biasanya selametan tidak dilakukan semua seperti yang tertera diatas yaitu, ngesur lemah, nelung dino, mitung dino, matang puluh dino, nyatus dino, mendahak sepisan, mendhak pindho, mendhak ketelu. Dalam pelaksnanaan nya msyarakat desa tlogoboyo tidak melakukan semuanya namun kebanyakan besar masyarakat hanya melakakukan mitung dino, matang puluh dino, nyatus dino, dan mendhak sepisan. Dalam pelaksanaan selametan masyarakat tidak pernah meninggal acara tahlil, jadi semua selametan ada acara tahlilannya. Dalam selametan tujuh hari biasanya keluarga mengundang warga setempat bersama dengan pemangku pemangku agama atau sering disebut kyai untuk melakukan tahlil bersama kemudian setelelah selesai pihak keluarga juga memberikan “berkat” kepada orang yang datang pada selametan itu , namun berkatnya ketika selametan tujuh hari masih dalam bentuk mentahan atau belum dimasak, biasanya keluarga mengisi berkat tersebut dengan beras dan telur serta minuman kemasan gelas. Hal ini diberikan sebagai tanda terima kasih kepada orang orang karena telah mau mendoakan jenazah. Hal serupa juga dilakukan pada selametan matng puluh dino, nyatus dino , dan sampai mendhak yaitu keluarga memnggil orang atau warga setempat untuk men tahlilkan bersama sama, namun dalam selametan ini sedikit berbeda yaitu berkat yang diberikan oleh keluarga kepada orang yang ikut selametan itu sudah dimasak atau dalam bentuk siap saji.

            Selain ritual semaletan masyarakat desa tlogoboyo juga melakukan kegiatan yang lain ketika ada orang yang meninggal. Ketika ada seseorang yang meninggal selama sebelum tujuh hari dari kematian seseorang tersebut , warga sering melakukan tahlil bersama di rumah shohibul musibah tahlil tersebut dipimpin oleh pemangku agama setempat. Ada beberapa waktu yang digunakan untuk kegiatan tersebut, yang pertama pada waktu habis shalat subuh. Tahlilan pada waktu ini dilakukan oleh bapak bapak atau orang laki laki yang bertempat di makam jenazah tersebut yang dilakukan pada waktu fajar atau setelah shalat subuh. Kemudian adalah pada waktu habis maghrib tahlilan ini dilakukan oleh para ibuk ibuk atau orang perempuan yang bertempatkan di rumah shohibul musibah. Kemudian yang terakhir   adalah pada waktu habis iysa’ tahlilan yang dilakukan pada waktu ini dilakukan oleh bapak bapak atau orang laki laki yang bertempatkan dirumah shohibul musibah.

            Selain kegiatan itu, ada juga kegiatan yang dilakukan ketika ada warga setempat yang meninggal yaitu “pidhak kubro” . pidhak kubro adalah pembacaan surat al ikhlas sebanyak 100.000 kali, kegiatan ini dilakukan setelah jenazah terkuburkan. Kegiatan ini biasanya siselesaikan selama 2 hari yang dibacakan pada dua waktu, yaitu pada waktu habis shalat ashar yang melakukannya adalah para ibuk ibuk atau perempuan dan pada waktu habis isya, pada waktu ini yang melakukannya adalah para bapak bapak atau para laki laki. Phidak kubro dilaksanakan di masjid desa setempat , jika orang yang datang banyak maka pidhak kubro dapat selesai satu hari namun jika orang yang datang sedikit maka ditermpuh selama dua hari . bacaan pidhak kubro diakhiri dengan tahlil dan di dilanjutkan dengan doa.

            Pada saat melakukan tahlilan yang habis subuh yang dilakukan oleh laki laki biasanya hanya sedikit orang yang ikut dikarenakan waktu yang masih fajar. Semua yang dilakukan itu merupakan sukarela dan tidak ada pemaksaan dari pihak keluarga

 

 

 

Makna ritual menurut orang islam jawa

          Dalam prespektif orang islam jawa, kematian merupakan jalan kembali kepada tuhan. Dengan kata lain walaupun orang tersebut sudah mati, tetapi ia tidak benar benar mati. Yang mati adalah tubuhnya sementara ruhnya masih hidup. Ruhnya melakukan perjalanan ke alam lain, yakni ke alam kubur. Mereka mendasarkan pandangannya seperti yang tertera dalam al qur’an surat al mu’minun ayat 115.[6]

 

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

 

Artinya : Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

            Acara selametan orang yang telah meninggal atau biasa disebut dengan tahlilan juga menurut masayarakat desa tlogoboyo, bahwa tujuan dari diadakannya selametan atau talilan adalah untuk mendoakan arwah nenek moyang (keluarga) yang telah mendahului kita atau meninggal sebelum kita. Mereka memliki pemahaman bahwasannya orang yang sudah meninggal dunia ruhnya tetap hidup dan tinggal sementara di alam kubur atau alam barzah, sebagai alam sebelum memasuki alam akhirat. Arwah orang yang telah meninggal dunia berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya dan masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang masih hidup sehingga suatu saat arwah itu menyambangi datang ke kediamannya tersebut.

            Mengenai hubungan manusia yang masih hidup dengan yang sudah mati, syekh islam ibnu tamiyah berpendapat dalam kutipan badruddin hsubky berdasarkan hadist nabi SAW.[7]

“ apabila anak adam mati, maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara, sodakoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya”.

Menurut ibnu tamiyah, tidak terdapat keterangan dalam al qur’an dan as sunnah yang menjelaskan bahwa sesungguhnya doa yang hidup tidak bermanfaat lagi bagi si mati. Bahkan menurut beliau, bukan hanya doa yang bisa sampai kepada orang yang sudah mati. Semua perbuatan manusia yang hidup bisa berpengaruh terhadap orang mati. Para ulama’ telah sepakat mengenai manfaat doa bagi orang yang sudah mati, karena dalil dalilnya sudah sangat jelas , baik dalam al qur’an maupun as sunnah.

            Amalan pembacaan tahlilan atau slametan atau al quran yang dijadikan hadiah bagi mereka yang sudah meninggal, pada hakekatnya merupakan suatu doa atau istighfar sebagaimana dapat diketahui dalam acara tahlilan. Dijelaskan dalam al quran surat al hasyr ayat 10.

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيم

 

Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".

            Semua manusia percaya bahwa manusia yang mengalami kematian, jasadnya akan kembali menjadi tanah. Proses kembalinya manusia menjadi tanah adalah sunnatullah yang pasti terjadi, meskipun tidak ada ritual. Hal ini berdasarkan firman allah dalam al qur’an surat nuh ayat 18.

ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا

 

Artinya : Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

Dalam al qur’an surat al hajj ayat 7 kebangkitan setelah meninggal juga dijelaskan

وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِى ٱلْقُبُورِ

Artinya : Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.

Kebangkitan manusia dari alam kubur merupakan salah satu tanda kekuasaan allah sebagaimana dijelaskan dalam al quran surat ar rum ayat 25

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَن تَقُومَ ٱلسَّمَآءُ وَٱلْأَرْضُ بِأَمْرِهِۦ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ ٱلْأَرْضِ إِذَآ أَنتُمْ تَخْرُجُونَ

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

            Kematian dan keberadan jenazah dalam alam kubur termasuk perkara ghaib, dan hanya allah yang maha mengetahui. Karena itu, manusia perlu menyandarkan pengetahuan tentang kematian dan keberadaanya di alam kubur, dan itu hanya bisa diperoleh dari firman allah yang tersebut dalam kitab suci al quran.[8]

 

 

 

 

 

Unsur unsur islam yang terkandung dalam tradisi selametan[9]

a.     Penggunaan ayat ayat al qur’an

proses berjalannya acara yang sudah menjadi adat kebiasaan, dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, yaitu ustad masyarakat setempat. Dalam acara selametan kematian umumnya melakukan pembacaan tahlil yang dilanjutkan dengan doa

b.     Sedekah

Selamatan yang setelah selesai melakukannya diberikan berkat, yaitu sebagai sedekah sekaligus sebagai tanda terima kasih keluarga karena sudah ikut mendoakan

c.     Nilai ukhuwa islamiyah

Selametan kematian memberikan kesempatan berkumpulnya kelompok orang berdoa bersama, makan bersama secara sederhana. Merupakan sutu sikap sosial yang mempunyai makna turut berduka cita terhadap keluarga si jenazah atas musibah yang menimpanya, yaitu meninggalnya salah seorang dari keluarganya. Disamping itu juga bermakna emngadakan silaturrahmi serta memupuk ikatan persaudaraan.

d.     Nilai tolong menolong

Dalam hal tolong menolong dalam peristiwa kematian, biasanya dilakukan secara sukarela tanpa perhitungan akan mendapat pertolongan kembali, karena menolong orang yang terkena musibah itu berdasarkan rasa bela sugkawa yang universal dalam jiwa makhluk manusia.

Kesimpulan

            Ritual kematian adalah sebuah tradisi yang dialukan oleh orang jawa sebagai perawatan akhir dari seseorang yang masih berada di dunia, sebelum menghadap sang kuasa, dalam pelaksanaannya orang jawa melakukan tradisi tradisi seperti yang disebitkan diatas. Kemudian tentang makna sebuah tradisi ritual kematian yaitu selamatan, dalam selamatan dilakukan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal lebih dulu dari kita. Dalam pelaksanaan selametan tidak mengandung unsur bid’ah karena tidak bertentangan dengan al qur’an dan as sunnah serta selametan mempunyai nilai nilai yang dianjurkan dalam islam seperti penggunaan ayat ayat al qur’an, mempunyai nilai ukhuwah islamiyah, sedekah, dan nilai tolong menolong.


 

Daftar pustaka

 

Suhandjati,sri. Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya abadi jaya. 2015.

Hsbuky,badruddin. Bid’ah bid’ah di indonesia dalam perspektif al qur’an dan as sunnah kalam kitab kuning. Surabaya. Pp nurul islam

Suwito,dkk. Tradisi dan ritual kematian wong jawa islam, jurnal iain purwokerto

 

http://lumiindut.blogspot.com/2013/06/makalah-selamatan-kematian.html



[1] Sri suhandjati. Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya abadi jaya. 2015. Hlm 37

[2] Ibid hlm 40

[3] Sri suhandjati. Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya abadi jaya. 2015. Hlm 54

[4] Sri suhandjati. Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya abadi jaya. 2015. Hal 55

[5] Ibid hlm 55

[6] Suwito,dkk. Tradisi dan ritual kematian wong jawa islam, jurnal iain purwokerto

[7] Badruddin hsubky, bid’ah bid’sh di indonesia dalam perspektif al qur’an dan as sunnah kalam kitab kuning. Surabaya. Pp nurul islam . 2005,hlm 25

[8] Sri suhandjati. Islam dan kebudayaan jawa revitalisasi kearifan lokal. Semarang. Cv karya abadi jaya. 2015. Hal 57


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKULTURASI BUDAYA – KESELARASAN DALAM BUDAYA JAWA SESAJEN DI DESA JETAK KECAMATAN WEDARIJAKSA KABUPATEN PATI

AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN TIONGHOA DALAM MOTIF BATIK LASEM

PELESTARIAN BUDAYA JAWA ISLAM DALAM TRADISI 10 SYURO SYEKH AHMAD MUTAMAKKIN DI DESA KAJEN MARGOYO KABUPATEN PATI