DIALEKTIKA AGAMA DAN BUDAYA TRADISI SELAMETAN DALAM PERNIKAHAN ADAT JAWA DI NGAJUM – MALANG
DIALEKTIKA AGAMA DAN BUDAYA TRADISI SELAMETAN
DALAM PERNIKAHAN ADAT JAWA DI NGAJUM – MALANG
Rainisyah Sepvira Az-Zahra
Prodi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin
dan Humaniora
Universitas Negeri Islam Walisongo Semarang
ABSTRAK
Telaah empirik seputar pola dialektika antara
agama dan budaya dalam kasus ritual selamatan pernikahan adat Jawa, belum banyak
dilakukan oleh para pakar agama, ilmuan sosial, maupun ilmuan antropolog agama.
Kajian mereka terhadap kasus ini pada umumnya masih menekankan pada objek
pembacaan teks secara ontologis-filologis, yang tidak bersinggungan secara
langsung terhadap tradisi keagamaan dan budaya masyarakat yang lebih dinamis
dan realistis. Penelitian ini menggunakan
paradigma definisi sosial
dan pendekatan teori fenomenologis, yang
dibatasi pada pola
dialektika antara agama
dan mitos dalam kasus ritual selamatan
pernikahan adat Jawa. Data diperoleh dengan cara menginterview dan
mengobservasi para tokoh agama, tokoh adat, dan para da’i yang ada di Ngajum, Malang. Penelitian ini
menemukan dua model yaitu pola dialektika teologis-kompromistik dan pola
dialektika teologis-humanistik. Pola dialektika pertama, menggambarkan
pergeseran teologis, dari teologi yang bersifat emosional-naturalistik menuju
teologi yang bersifat rasional-formalistik. Adapun pola
teologis-humanistik
menggambarkan adanya pergeseran
teologi yang bersifat personal menuju teologi yang berkesadaran sosial.
Kata kunci : dialektika, agama, budaya, tradisi,
selamatan pernikahan
ABSTRACT
Empirical analysis on the religion and culture
dialectics in the selamatan ritual of Javanese wedding has not been explored by
teologist, social scientist or religion anthropologist. Their studies on such a case mostly concern with
ontological-philological text analysis
not directly related
with the religious
tradition and socio-culture which
is more dynamic
and realistic. This
study employs social definition paradigm
and phenomenological theory
approach limited to the
dialectic pattern between religion and myth in the ritual selamatan of Javanese
wedding. The data were collected though interviewing and observing religious
leaders, ethnic leaders, and Muslim preacher in Ngajum, Malang. The study found two
models of dialectic pattern
namely
theological-compromistic and
theological-humanistic. The earlier describes the theological shift from
emotional-naturalistic to rational-formalistic. The later describes the
theological shift from personal to social awareness theology.
Keywords : dialectics, religion, culture,
tradition, selamatan wedding
PENDAHULUAN
Secara umum, fenomena dialektika agama dan
budaya yang terjadi secara natural dan intens di masyarakat Jawa, tidak sedikit
telah melahirkan sikap keagamaan masyarakat muslim yang sangat variatif. Mulai
dari agama sebagai hal yang diyakini (sistem nilai), difahami (sistem kognisi),
hingga dipraktekkan (sistem afeksi). Pentahapan tersebut tidak saja muncul pada
tataran keyakinan saja, tetapi pada setiap ketiga tahapan di atas melahirkan
perbedaan ekspresi keagamaan yang cukup signifikan. Sebagai contoh ilustrasi,
bagaimana agama diyakini, telah memunculkan sikap keagamaan dari sebagian
komunitas muslim tertentu yang bersemangat untuk melakukan purifikasi Islam
dari kemungkinan praktik akulturasi budaya setempat, sementara sebagian yang
lainnya berupaya membangun pola dialektika antar keduanya secara harmonis dan
intensif.
Masing-masing komunitas telah memiliki
keyakinan bahwa hakikat Islam yang mereka yakini tersebut berasal dari samawi,
sementara yang lain meyakininya bahwa Islam itu adalah manifestasi perjumpaan
antara keduanya. Tidak dapat dipungkiri, fakta tersebut terjadi secara
sistematik dari waktu ke waktu. Terlepas bagaimana kebenaran keyakinan
masing-masing pemahaman, yang jelas
relasi keduanya semakin menjustifikasi suburnya praktik pola akulturasi maupun
sinkretisasi agama. Keadaan di atas mengindikasikan bahwa efek tradisi lokal
(low tradition) semakin menampakkan pengaruhnya
terhadap karakter asli
agama formal (high tradition),
demikian juga sebaliknya.
Dalam hal ini, agama dan budaya tidak lagi
dapat dikatakan mana yang lebih dominan, budaya sebagai produk agama atau agama
sebagai produk budaya. Ini merupakan potret relasi yang saling berkelindan dan
saling mempengaruhi. Keragaman perilaku
sosial keberagamaan di
atas, tentu tidak berarti
terjadi secara monolitik yang ingin mempertahankan keadaan dirinya secara
final, melainkan tidak menutup kemungkinan masing-masing entitas akan
mengalami pergeseran paradigmatik,
sebab pada saat
yang sama mereka senantiasa berhadapan
dengan proses eksternalisasi, objektivasi,
maupun internalisasi. Siapa membentuk
apa, sebaliknya apa
mempengaruhi siapa.
Sebagaimana masyarakat memahami agama hingga
bagaimana peran-peran lokal mempengaruhi perilaku sosial keberagamaan mereka[1].
Fenomena dialektika di atas secara empirik dapat diamati secara riil,
dalam tradisi keberagamaan
masyarakat muslim lokal,
terutama pada pola relasi antara nilai-nilai sosial budaya
selamatan perkawinan adat lokal dengan nilai-nilai sosial perkawinan budaya
mainstream Islam. Berangkat dari beberapa
permasalahan di atas,
makalah ini akan memfokuskan kajiannya pada bagaimana
pola dialektika agama dan budaya dalam kasus ritual selamatan pernikahan adat
Jawa di Ngajum Malang.
Selamatan : Ritual Pernikahan Adat Jawa
Fenomena selamatan pernikahan
adat Jawa telah
berlangsung selama
berabad-abad. Dari waktu ke waktu, adat
selamatan pernikahan Jawa tersebut melakukan fungsi pengulangan dan secara
otomatis telah melegitimasi konstruk tradisi sebelumnya. Proses pengulangan itu
secara terus menerus dilakukan hingga melahirkan suatu kebiasaan atau mitos.
Oleh karena itu, tradisi atau adat selamatan pernikahan intinya adalah
warisan masa lalu
yang dilestarikan secara
terus menerus hingga
sekarang. Warisan masa lalu itu dapat berupa nilai, norma, sosial, pola
kelakukan dan adat kebiasaan lain yang merupakan eksistensi dari berbagai aspek
kehidupan. Dengan demikian selamatan pra pernikahan bagi masyarakat adat Jawa
difahami sebagai elemen yang sangat penting hubungannya dengan upaya
mengantarkan terbentuknya hubungan cinta kasih yang tulus antara pemuda dan
pemudi, yaitu perempuan dan laki-laki. Sementara itu tradisi atau adat
selamatan pernikahan adalah warisan masa
lampau yang sampai
kepada kita dan
masuk ke dalam
kebudayaan yang sekarang berlaku.
Dengan demikian bagi Hanafi tradisi bukan
sekedar perilaku mempertahankan dan
membudayakan sejarah, tetapi
sekaligus merupakan sejarah yang
memiliki kontribusi bagi zaman kekinian
dalam berbagai tingkatannya [2].
Oleh
karena itu semua
yang telah menjadi
kebiasaan masyarakat itu
mayoritas menjadi kepercayaan mitis yang sakral dan suci. Inilah yang pada gilirannya,
kebiasaan tradisi tersebut
tanpa terasa telah
menjadi sistem nilai (pattern
for behavior/pedoman) bagi
masyarakat populis pada umumnya.
Sistem nilai itu
tidak jarang telah
menjadi pedoman hidup mereka yang tingkat sakralitasnya
kadang melebihi sistem nilai dari teks-teks keagamaan formal lainnya.
Hal mendasar dari terminologi makna tradisi
selamatan pernikahan adat Jawa yang tidak dapat dilepaskan adalah adanya relasi
atau kaitan yang saling memberikan kontribusi antara masa lalu dengan masa
kini, baik berupa nilai, norma, sosial, pranata kehidupan maupun nilai-nilai
lain dalam kehidupan secara makro. Oleh
karena itu, terminologi
tradisi ini dalam
praktiknya telah menyusup ke dalam berbagai eksistensi yang lintas. Jika
perdebatan itu menyangkut tradisi Islam maupun tradisi Kristen misalnya, ini
berarti tanpa sadar telah menyebut serangkaian ajaran/ doktrin, baik Islam
maupun Kristen yang telah dilakukan ratusan maupun ribuan tahun yang lalu,
namun telah hadir dan memiliki makna pedoman
bagi kehidupan masa kini.
Tradisi selamatan pernikahan
Jawa dalam pengertian
yang paling sederhana dapat
difahami sebagai sesuatu yang ditransmisikan atau diwariskan dari masa lalu ke
masa kini, baik oleh Islam, agama-agama non Islam maupun aliran lokal setempat [3].
yang hingga kini dapat dirasakan
eksistensinya. Oleh karena itu jika pemahaman tradisi yang telah terelaborasi
di atas
dikaitkan dengan fakta
tradisi ritual-ritual
selamatan pernikahan yang berkembang
di kalangan masyarakat
Jawa, maka dapat
ditarik suatu pemahaman baru
bahwa ritual-ritual adat selamatan dalam pernikahan Jawa adalah suatu ritual
pernikahan yang telah ditransmisikan dari masa lalu hingga kini yang semangat
atau ruhnya tetap dirasakan di hati masyarakat populis pada umumnya.
Atas dasar itu tradisi selamatan dalam
pernikahan Jawa adalah praktik ritual pernikahan yang telah menggenerasi,
turun-temurun, menjadi keyakinan mistis yang tidak sederhana proses kognisinya.
Bagi generasi baru yang hadir dengan kultur barunya untuk dapat berkembang di
suatu tradisi yang telah ada dan untuk
menyapa lebih jauh
terhadap keberadaan tradisi
tersebut tidaklah sederhana, apalagi
jika hendak melakukan
perubahan-perubahan di dalamnya. Oleh karenanya mereka yang sukses
berinteraksi dengan tradisi atau
adat adalah mereka
yang menyesuaikan dengan
dunia kultural yang masih eksis di dalamnya.
Dimensi Mistis dan Religius Selamatan dalam
Pernikahan Adat Jawa
Secara mistis, ritual selamatan khususnya
dalam pernikahan adalah ritual suci dan sakral yang keberadaannya sangat
mendasar bagi sukses tidaknya kegiatan pernikahan tersebut. Keyakinan mitos
tentang ruh para leluhur yang sudah meninggal mendahului kita dan beberapa
makhluk ghaib lainnya utamanya di Ngajum Malang, telah memunculkan motif untuk
melakukan tindakan upacara-upacara
dan keyakinan baru
bagi masyarakat ngajum[4]. Bentuk riil
upacara itu misalnya
dengan menyelenggarakan sesajen
yang kini berubah menjadi selamatan. Tindakan ritual dalam bentuk selamatan itu
ternyata tidak saja berarti pemberian sesajen kepada arwah para leluhur, nenek
moyang, dan para dewa melalui sarana bahan makanan yang dikeramatkan dengan
do’a-do’a dan mantra jawa, tetapi juga ada tindakan lain yang disebut dengan
caos hormat marang Kyai setempat, sebagai
tokoh yang diharapkan
ikut membantu kelancaran pernikahan adat tersebut.
Selamatan dipahami sebagai bentuk rasa syukurnya sekaligus ucapan caos hormat
atas segala berkah dengan perantara (wasilah) kyai spiritual hingga
mengantarkan kesuksesan hidupnya [5]. Selamatan
adalah versi upacara keagamaan masyarakat jawa secara umum.
Selamatan melambangkan kesatuan mistis dan
kesatuan sosial mereka yang ikut serta di dalamnya. Handai tolan, tetangga,
rekan kerja, sanak keluarga, arwah setempat, nenek moyang yang telah meninggal,
dewa-dewa, semuanya duduk bersama mengelilingi satu ruang dan karena itu
terikat dalam kelompok sosial tertentu yang diwajibkan untuk tolong-menolong
dan bekerja sama. Selamatan juga
merupakan media untuk
mempertemukan berbagai aspek
kehidupan sosial dengan suatu cara untuk memperkecil ketidakpastian
maupun konflik [6].
Selamatan
pada hakikatnya adalah
ritual atau upacara
makan yang terdiri atas sesajian,
makanan simbolik, sambutan resmi, dan mantra-mantra/ do’a [7]. Di setiap pusat keseluruhan sistem agama Jawa,
pasti terdapat sebuah ritus yang formal, sederhana, dan jauh dari keramaian,
ritus itu adalah ritus selamatan[8] . Karenanya, tradisi selamatanapapun hajatnya adalah
ritual asli/ inti agama Jawa yang berakar dari tradisi pedesaan animis[9].
Sementara itu, selamatan adalah
produk interpretasi teks-teks
Islam yang berpijak pada aksesoris dan tindakan ritual kejawen yang
dikenali dan disepakati bersama oleh orang-orang muslim yang lebih luas [10].
Dalam pandangannya, selamatan adat pernikahan
disamping untuk memenuhi adat Jawa, di dalamnya
juga mengandung do’a-do’a Islami yang diambil dari sumber-sumber kitab
Islam yang dikembangkan atas dasar aksesori ajaran Jawa lokal. Berangkat dari
perspektif Woodward di
atas, dialektika agama
Islam dan Jawa telah
terjadi secara regeneratif
sejak masuknya Islam
ke tanah Jawa. Relasi keduanya
telah menjadi tradisi baru, dimana potret tradisi yang merelasikan antar
keduanya hingga kini tetap memiliki eksistensinya sendiri.
Oleh karena itu, relasi keduanya tentu
memiliki pola atau model tersendiri yang khas dan unik.Berangkat dari
dua perspektif teoretik
yang sangat paradok
tentang selamatan di atas, yaitu teori yang satu mengatakan bahwa
selamatan adalah pembawaan agama asli Jawa (animis), sementara teori yang
lainnya mengatakan bahwa selamatan adalah hasil tafsir dari ajaran agama Islam
yang berpijak pada aksesoris lokal kejawen. Inilah antara lain yang melatar
belakangi kajian ini dilakukan.
Selanjutnya problematika akademik yang
spesifik ini mendorong dilakukannya
kajian lapangan menyangkut
upaya penelusuran asal
muasal munculnya terminologi selamatan pada lokus penelitian Desa Ngajum
Malang. Secara lebih fokus rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana
pola dialektika agama dan budaya dalam kasus ritual selamatan pernikahan adat
Jawa di Ngajum Malang”.
Pola Dialektika Agama dan Budaya dalam Ritual
Selamatan Pernikahan Adat Jawa di Ngajum Malang
Di antara beberapa ritual penting dalam proses
adat pernikahan Jawa adalah ritual selamatan. Masyarakat Jawa pada umumnya
berpandangan bahwa ritual selamatan
adalah ritual suci
yang keberadaannya menjadi
penentu mengenai sukses tidaknya hajat kehidupan manusia itu. Karenanya,
mayoritas antropolog yang mempelajari budaya masyarakat Jawa sependapat
bahwa tradisi selamatan adalah
jantung keagamaan dari agama Jawa [11].
Sebagaimana statemen Geertz di atas, bahwa di
setiap pusat keseluruhan sistem agama Jawa, pasti terdapat sebuah ritus yang
formal, sederhana, dan jauh dari keramaian, ritus itu adalah ritus selamatan[12].
Cara pandang ini
sangat dominan dalam
mentalitas mereka, karena pemahaman hidup dalam perspektif
filosofi kejawen adalah selamat. Sementara keselamatan itu
akan diperoleh manusia
jika dalam kehidupannya,
mereka senantiasa eling (dzikr),
percaya (iman), lan
mituhu (tha’at) terhadap
sang Pencipta. Konsep eling, pracaya, dan mituhu ini menjadi bagian dari
ajaran delapan dasar (hastasila)
dalam tradisi kehidupan orang
Jawa yang lebih menekankan pada dua arah tujuan hidup [13],
yaitu arah transendental-ketuhanan, dan arah horizontal-kemanusiaan.
antara
manusia dengan sesama,
orang Jawa menciptakan
suatu ritme ritus yang sarat nilai transendental dan
horisontal, yaitu ritus selamatan. Atas dasar pandangan di atas, selamatan
memang menjadi ajaran agama Jawa yang sangat fundamental. Karenanya, Geertz
tetap beranggapan kuat bahwa tradisi selamatanadalah ritual asli/ inti agama
Jawa yang berakar dari tradisi pedesaan animis,[14]
dan produk interpretasi
teks-teks Islam dan
tindakan ritual yang dikenali dan disepakati bersama oleh orang-orang
muslim yang lebih luas [15]
Selamatan, sekurang-kurangnya di Jateng, tidak
secara khusus atau bahkan pada dasarnya bukan ritus pedesaan, melainkan model
pemujaan kerajaan, dalam hal ini adalah Kraton Yogyakarta. Dimana ritus itu
lebih difahaminya sebagai tindakan keagamaan yang terinspirasi oleh para sufi [16].
Dengan kata lain bahwa bentuk maupun makna selamatan berakar dari islam
tekstual.
Kedua teori selamatan yang dikemukakan oleh
dua pakar antropolog di atas menggambarkan konstruksi teoretik yang paradoksal.
Teori pertama menggambarkan selamatan sebagai ritual inti masyarakat Kejawen
yang berakar dari animis, sedangkan pada teori kedua selamatan lebih dipandang sebagai hasil
interpretasi dari teks-teks keagamaan Islam.
Sesuai dengan hasil temuan penelitian, terkait
dengan pola dialektika
agama dan budaya
lokal tentang ritual selamatan
pada pernikahan adat Jawa di Ngajum Malang, maka hasil penelitian ini dapat
mengantarai dua model konstruk teoretik di atas yang sama-sama ekstrim.
Berdasarkan
hasil temuan penelitian
yang ada, secara
substansial tindakan ritual yang
mirip dengan selamatan itu
dijumpai di keseluruhan sistem ritual yang ada di Jawa.
Hanya saja keseluruhan sistem ritual yang ada di Jawa dalam hasil temuan
penelitian ini, tidak dijumpai istilah selamatansebagai term baku yang berasal
dari agama Jawa, mayoritas subjek penelitian dan informan yang berhasil
diinterview dan diobservasi mengatakan bahwa selamatan adalah hasil
metamorfosis dari ritual lain, yang lebih popular dengan istilah ritual
sesajenan.
Adalah terma baru yang diinterpretasikan dari
teks-teks keagamaan Islam yang berpijak dari
aksesori ritual kejawen, yaitu
ritual sesajenan. Dengan demikian istilah selamatan itu sendiri adalah
hasil pergeseran makna antropologis-filologis yang sangat panjang dan
melelahkan dari ritual sesajen itu. Oleh karena itu, pergeseran makna
antropo-teologis-filologis dari ritual sesajen hingga selamatan, bukanlah pergeseran yang
sederhana, apalagi pergeseran-pergeseran humanis
lainnya.
Dulu, ritual sesajen yang secara ritual
memiliki maksud dan makna yang hampir sama dengan selamatan, dalam faktanya
lebih banyak menekankan pada ranah-ranah emosional. Dimana benda-benda fisik
ritual sesajian secara umum diperuntukkan kepada makhluk-makhluk ghaib yang
sangat varian, baik para arwah leluhur, jin, danyang, dewa, hingga gusti
engkang akariyo jagad. Suatu proses keyakinan teologis yang tidak menentu dan
tanpa pijakan sistem nilai (pattern for behavior) yang jelas dan rasional.
Keyakinan mereka selalu hadir pada semua sudut dan ruang budaya tertentu yang
berpotensi memberikan makna bagi realitas kehidupan mereka.
Di tempat dan ruang budaya semacam itu pula,
telah diyakini terdapat sebuah power atau kekuatan yang dapat memberikan
berkah. Di tempat itu pulalah biasanya secara perlahan telah menjadi ruang
budaya sakral, baik sebagai tempat-tempat pemujaan yang keramat maupun tempat
upacara ritual selamatan yang lainnya. Dengan kata lain, tempat yang berpotensi
memberikan sumber ketenangan, sumber kehidupan, maupun sebaliknya, yaitu
sebagai sumber yang banyak menimbulkan marabahaya, maka di tempat itu pula
muncul keyakinan mitos. Pada saat yang sama mereka meyakini bahwa alam sebagai
subjek. Inilah awal mula munculnya cara pandang irrasional, dan bukan
sebaliknya, yaitu alam sebagai objek, cara pandang yang rasional.
Sebuah proses keyakinan teologis yang sangat
natural dan spekulatif, karena dalam praktiknya masih dalam proses pencarian
kebenaran. Personifikasi ketuhanan mereka secara simplifikatif cenderung
diwujudkan dalam bentuk wujud-wujud fisik yang kongkrit. Berawal dari sinilah,
tidak jarang tuhan mereka beralih wujud menjadi tuhan matahari, tuhan bumi,
tuhan angin, tuhan api, tuhan laut, dan banyak lagi jenis-jenis tuhan lain yang
secara kongkrit dapat dilihat secara kasat mata. Atas dasar itu, tidak salah
jika dalam praktiknya keyakinan teologis mereka yang sangat mengandalkan
pendekatan emosional, banyak yang menyimpang dan tersesat ke dalam perjalanan
imajinatif-esoterik yang banyak melakukan pengulangan-pengulangan kesalahan.
Sebab, semua yang berada dalam
kategori ghaib dan sakral dipersonifikasikan sebagai
Tuhannya.
Namun demikian, keadaan ini bagi para penyebar
Islam ketika itu tidak dianggap sebagai problem keagamaan yang serius, sebab
pada hakikatnya mereka semua telah memiliki kesadaran ketuhanan yang luar biasa
sesuai dengan cara pandang kosmologi keagamaan natural mereka. Oleh karena itu,
dalam hal berdialektika antara dua entitas yang berbeda secara eksoterik ini,
para da’i tidak bermaksud untuk melakukan perubahan-perubahan revolusioner
terhadap konstruk budaya keagamaan mereka, terlebih menghilangkan budaya yang
telah ada sebelumnya. Para wali tersebut bersifat sangat akomodatif dan kolaboratif
dalam berda’wah, yaitu menerima atau membiarkan berlakunya sebuah tradisi atau
adat yang telah berkembang lalu melanjutkan dan menyempurnakan dalam arti
memberikan spirit nilai-nilai keagamaan Islam secara bertahap.
Cara inilah yang disebut sebagai model
dialektika teologis-kompromistik. Dialektika teologis-kompromistik ini
dilakukan untuk melakukan reformulasi teologi dari yang bersifat sangat
emosional menuju teologi yang rasional. Sebuah reformulasi yang tidak bermaksud
mengubah paradigma teologi dan ritualitas keagamaan sebelumnya, melainkan
memberikan sentuhan-sentuhan nilai teologi rasional dengan menawarkan term-term
identik lain yang berupaya menyempurnakan makna teologi secara universal.
Dengan kata lain, teologi kompromistik adalah
teologi yang telah mengalami proses kompromisasi antara teologi yang
benar-benar terjadi secara
emosional-naturalistik, yaitu teologi yang dialami dan dirasakan oleh komunitas
masyarakat yang tidak memiliki pedoman agama yang resmi, berkolaborasi dengan
teologi rasional formalistik, yaitu teologi yang berbasis pada ajaran formal
keagamaan yang besar, dengan menjadikan term-term baru islam (selamatan,
hajatan, dan tasyakuran) sebagai media mentransformasikan nilai-nilai teologi.
Secara riil, proses pergeseran teologi
tersebut dapat dilihat pada akar historis praktik ritual sesajenan yang terjadi
pada masyarakat Ngajum Malang. Dimana ritual sesajenan tersebut secara perlahan
mengalami pergeseran makna teologis-filologis ke arah ritual selamatan, bahkan
tidak hanya istilah selamatan yang identik dengan ritual sesajen tersebut,
melainkan juga istilah hajatan, dan syukuran. Sesuai dengan hasil temuan
penelitian yang ada, selamatan memang berakar dari bahasa Arab dan ajaran
Islam.
Dilihat dari sisi maknanya, selamatan itu
berasal dari istilah salima, yaslamu, salaamatan yang berarti selamat [17].
Selamat dalam artian kondisi dan sikap teologisnya. Secara teologis, istilah
selamatan tersebut bermaksud memfokuskan dan menyelamatkan teologi mereka yang
sangat plural (polities) ke dalam teologi yang tunggal (monoteis), yaitu
keyakinan yang hanya tertuju kepada Allah, Tuhan yang mahaesa, yaitu Tuhan yang
menciptakan kehidupan ini.
Selain istilah selamatan juga istilah haajatan
yang berasal dari akar kata haaja, yahuuju, hawjan, wahaajatan yang berarti
butuh atau perlu. Seseorang yang mengadakan ritual hajatan, secara teologis
berarti orang yang membutuhkan dan memerlukan respon Allah SWT., dari sejumlah
kebutuhan yang tersembunyi dalam batin mereka. Perubahan istilah ini diharapkan
bahwa semua kebutuhan apapun yang dicita-citakan manusia hendaknya diarahkan
dan difokuskan permohonannya kepada Allah SWT.
Sementara itu, ritual sesajen dalam
perkembangannya juga mengalami pergeseran makna menjadi istilah syukuran.
Syukuran adalah kata benda yang berasal dari kata syakara, yasykuru, syukuuran
yang berarti berterima kasih. Istilah inipun secara teologis-rasional juga
dimaksudkan agar manusia itu selalu berterima kasih kepada Allah SWT. Sebab
orang yang selalu bersyukur kepada Allah akan mendapatkan imbalan yang berlipat
ganda dari Allah SWT [18]
Dengan sikap ini, maka diharapkan orang yang melakukan ritual syukuran adalah
hanya semata-mata karena berterima kasih atas rahmat yang telah diberikan Allah
kepadanya.
Pergeseran terminologi filologis dari
sesajenan menjadi selamatan, hajatan dan syukuran bukanlah pergeseran tanpa
kepentingan atau makna, proses pergeseran itu menurut hasil penelitian lapangan
merupakan pergeseran yang terencana dan bertujuan yang dilakukan oleh para da’i
Islam yang sangat kolaboratif dan antroposentris, guna merubah paradigma
teologi mereka yang cenderung sangat emosional-naturalistik menjadi paradigma
teologi yang rasional-formalistik
Berbeda dengan istilah selamatan, hajatan, dan
syukuran, istilah sedekahan dan barakahan yang merupakan hasil metamorfosis
dari istilah ritual sesajen lebih menekankan pada pergeseran nilai-nilai
teologis-humanistik pada pelaku ritualnya. Praktik ritual sesajen dulu pada
umumnya adalah ritualitas yang lebih berorientasi pada kebutuhan personal.
Benda-benda sebagai media ritual sesajen seusai pelaksanaan ritualan, cenderung
dibuang (sesajen bucalan) dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.
Sejak masuknya para wali sebagai penyebar
ajaran Islam, Islam berupaya mengapresiasi kegiatan itu dan merekonstruksinya
serta menyempurnakannya dengan cara menciptakan dampak manfaat ritual sesajenan
tersebut bagi kehidupan manusia secara sosial. Oleh karenanya, istilah ritual
sesajen juga mengalami pergeseran ke istilah ritual sedekahan. Istilah itu
berasal dari akar kata shadaqa, yashduqu, shidqan washadaqatan yang berarti
bersedekah. Sejak itu, praktik ritual sesajen, telah mengalami pergeseran makna
menjadi teologis-humanistik, yaitu praktik ritual yang memberikan efek secara
langsung bagi kesadaran sosialnya, dari yang bersifat personal-individualistik
menjadi sosial-komunalistik.
Jika dahulu benda-benda sesajen yang berupa
hasil-hasil pertanian, seusai ritual cenderung tidak disedekahkan secara
sosial, maka setelah ritual itu berkolaborasi dengan nilai-nilai ajaran Islam,
benda-benda sesajen yang digunakan untuk ritual sesajenan diutamakan untuk
disedekahkan kepada orang lain. Bermula dari proses kronologis inilah, semua
oleh-oleh/bawaan yang diberikan oleh pemilik hajat (shahibul hajat) kepada
orang yang diundang hajatan disebut dengan berkat/berkatan.
Oleh karenanya, sepulang dari acara ritual
selamatan atau hajatan dalam masyarakat Jawa, orang akan membawa
oleh-oleh/bawaan yang dinamakan dengan berkat. Istilah berkat pada dasarnya
berasal dari kata baraka, yabruku, barkatan yang berarti tumbuh/tambah/bahagia.
Istilah ini telah dipilih dan dipopulerkan oleh para wali untuk menggantikan
ritual sesajen, karena maksud dan tujuannya yang sangat mulia. Dimana, secara
humanis, mereka yang memberikan oleh-oleh itu, dianggap sebagai orang yang
memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Untuk benda-benda sesajen yang diberikan
kepada orang lain akan memiliki nilai tambah dan berkah, sebab ia dapat
dimanfaatkan kepada mereka yang sangat membutuhkan, selain itu ia juga dapat
menyebabkan munculnya kebahagiaan orang lain. Alasan inilah yang secara natural
dapat diterima oleh masyarakat kejawen pada umumnya, karena pada hakikatnya
terdapat kesamaan-kesamaan fundamental dengan ajaran kejawen.
Dengan demikian, selamatan bagi masyarakat
Islam-Kejawen adalah versi upacara keagamaan yang melambangkan kesatuan mistis
dan sekaligus kesatuan sosial. Enkulturisasi Islam terhadap budaya lokal dalam
konteks ritual sesajen pada pernikahan adat Jawa khususnya, memiliki kontribusi
holistik, baik secara teologis-kompromistik maupun secara teologis-humanistik.
Kontribusi teologis-kompromistik tersebut
dapat dilihat pada pola pergeseran dari teologi emosional-naturalistik ke
teologi yang sangat rasional-formalistik, yaitu logika ketuhanan yang dapat
diterima oleh akal sehat secara kompromistik.
Kontribusi teologis-humanistik juga dapat dicermati dari perilaku
personal-individualistik ke sikap sosial-komunalistik.
Dari pola dialektika Islam dan Kejawen tersebut
secara otomatis telah merubah pemahaman ke arah pemahaman baru dan ritual baru,
yaitu ritual selamatan yang berpijak pada sistem nilai Islam-kejawen. Dengan
demikian makna ritual selamatan berubah makna yang sangat mendalam, yaitu
ritual yang melibatkan relasi vertikal dan horizontal.
Relasi kesadaran berketuhanan dan relasi
kesadaran berkemanusiaan, baik dari kalangan
handai tolan, tetangga, rekan kerja, sanak keluarga, maupun nenek moyang
yang telah meninggal. Semuanya duduk bersama mengelilingi satu ruang dan arena
yang terikat dalam kelompok sosial tertentu yang diwajibkan untuk
tolong-menolong dan bekerja sama. Selamatan juga merupakan media untuk
mempertemukan berbagai aspek kehidupan sosial dengan suatu cara untuk
memperkecil ketidakpastian, ketidakseimbangan, maupun konflik[19]
Ritual selamatan, hajatan, syukuran,
sedekahan, dan berkatan, yang merupakan produk baru dari proses dialektika yang
melelahkan antara Islam dan Kejawen, mempersonifikasikan sebuah potret ritual
yang betul-betul memiliki efek holistik, baik secara teologis maupun
humanis. Inilah sebabnya, Mark
mengatakan bahwa dialektika Islam dan Jawa terjadi secara regeneratif, sejak
masuknya Islam ke tanah Jawa hingga sekarang ini. Tentunya, relasi keduanya
juga telah menjadi tradisi baru tersendiri, dimana potret tradisi yang
merelasikan antar keduanya hingga kini tetap memiliki eksistensinya sendiri.
Oleh karena itu, relasi keduanya memiliki pola tersendiri yang khas dan unik
SIMPULAN
Kajian yang bermaksud melihat pola dialektika
agama dan budaya dalam kasus ritual selamatan pada pernikahan adat Jawa di
Ngajum Malang ini, secara umum menemukan
dua pola dialektika yang berbeda. 1). Pola Dialektika Teologis-Kompromistik
(Emosional-Rasional) dan 2). Pola Dialektika Teologis-Humanistik (Personal-Sosial).
Masing-masing pola dialektika di atas memiliki paradigma dan karakteristik yang
berbeda.
Pola dialektika yang pertama, adalah pola
dialektika yang menghasilkan pergeseran teologis dari yang bersifat
emosional-naturalistik menuju teologi yang bersifat rasional-formalistik.
Teologi yang bersifat emosional-naturalistik adalah teologi yang banyak
mengandalkan kepekaan rasa emosional, yang jauh dari pertanyaan-pertanyaan
kritis-filosofik. Teologi yang bersifat rasional-formalistik adalah teologi yang
berhujjah dan beralasan. Hal ini merupakan proses pendewasaan teologi melalui
diskursus ilmiah, yang sarat dengan
berbagai argumentasi kritis-objektif-filosofik. Perlu menciptakan kedewasaan
keimanan melalui dialog secara intens dengan berbagai fenomena sosial yang
berkembang secara dinamis.
Pada proses pergeseran teologi yang dimaksud
di atas adalah pergeseran secara kompromistik.Pola dialektika kedua, adalah
pola dialektika teologis-humanistik, yaitu pergeseran perilaku dari pola yang
bersifat personal menuju pola perilaku yang bersifat sosial. Pola perilaku yang
bersifat personal adalah pola perilaku yang banyak mempertimbangkan kebutuhan
individual. Ritual selamatan banyak diukur nilai manfaatnya semata-mata dalam
perspektif kepentingan individu. Pola perilaku yang bersifat sosial adalah pola
perilaku yang banyak mempertimbangkan manfaat sosialnya. Paradigma pola
perilaku sosial ini senantiasa berfikir untuk kepentingan manusia secara
komunal dan bukan individual.
Tabel Pola Dialektika Agama dan Budaya dalam
Kasus Ritual Selamatan pada Pernikahan
Adat Jawa di Ngajum Malang :
|
No |
Asal Ritual |
Pola
Dialektika dan Sifat Dialektika Ritual
Antara Agama dan Budaya
(Islam dan Kejawen) |
Hasil Dialektika Ritual antara Agama dan Budaya
(Islam-Kejawen) |
|
1. |
Ritual Sesajen |
Te o l o g i s - Ko mp r o m i s t i k (Emosional-naturalistik ke Rasional-formalistik) |
Ritual Selamatan, Ritual Hajatan, dan Ritual Syukuran |
|
2. |
Ritual Sesajen |
Teologis-Humanistik(Personal-individualistik ke sosial-komunalistik) |
Ritual Sedekahan, Ritual Barokahan/ Ritual Berkatan |
DAFTAR PUSTAKA
Askar, S. 2009. Kamus Arab-Indonesia
al-Azhar. Jakarta: Senayan Publising.
Beatty, Andrew. 2001. Variasi Agama di
Jawa: Suatu Pendekatan Antropologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Endraswara, Suwardi. 2006. Falsafah Hidup
Jawa. Cakrawala: Yogyakarta.
Geertz,
Clifford. 1960. The Religion of Java. Glencoe: The Free
Press.Geertz,
Clifford. 1989. Abangan, Santri, Priyayi
dalam Masyarakat Jawa. Terj. Aswab Mahasin.
Jakarta: PT.Pustaka Jaya.
Gus Sofwan, 2011. Wawancara tanggal 22 Agustus
2011.
Pranowo, Bambang. 1998. Islam Faktual
Antara Tradisi dan Relasi Kuasa Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa.
QS: Ibrahim. 1971. Al Quran dan
Terjemahannya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemahan.
Woodward, Mark. 1988. The Slametan: Textual
Knowledge and Ritual Performance in Central Javanese Islam. History of
Religion.
[1] Waters, 1994: 35
[2] Bawani, 1990: 23
[3] Pranowo, 1998: 4
[4] Durkheim, 1976: 24-42
[5] Sofwan, 2011: 88
[6] Geertz, 1989: 13
[7] Beatty, 2001: 35
[8] Geertz, 1960: 11
[9] Beatty, 2001: 41-42
[10] Woodward,1988: 54-89
[11] Beatty,2001: 39
[12] Geertz, 1960: 11
[13] Endraswara. 2006: 93
[14] Beatty, 2001: 41-42
[15] Woodward, 1988: 54-89
[16] Woodward, 1988: 85
[17] Askar, 2009: 334
[18] QS. Ibrahim 14: 7
[19] Geertz, 1989: 13
Komentar
Posting Komentar