BUDAYA DAN TRADISI MEPE KASUR DI DESA KEMIREN KECAMATAN GLAGAH KABUPATEN BANYUWANGI

Nama : Riyadi

Kelas : SAA B 2

islam dan budaya jawa

Dosen pengampu :  prof. Dr. Bu sri suhandjati

 

 

BUDAYA DAN TRADISI MEPE KASUR DI DESA KEMIREN KECAMATAN GLAGAH KABUPATEN BANYUWANGI

 

 

 

I.PENDAHULUAN
A.  Budaya adalah semua produk dari aktivitas intelektual manusia untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup duniawi. Gaya dan warna dipengaruhi oleh pemahaman agama dan budaya agama lain dipengaruhi oleh tingkat budaya.

Al Islam hanyalah salah satu, tapi bukan budaya Islam tunggal. Begitu banyak dan bervariasi sesuai dengan kondisi objektif ruang dan waktu, sesuai dengan tempat dan waktu pencipta dan pengembang budaya.

Dalam kehidupan beragama, kecenderungan untuk memodifikasi Islam dengan budaya Jawa telah melahirkan berbagai produk baru, terutama pada interelasi Islam jawa dengan keyakinan dan ritual jawa


Dalam konteks Indonesia, budaya Jawa merupakan salah satu budaya lokal adalah penting karena mempengaruhi bagian dari etnis terbesar di Indonesia. Nilai-nilai Islam memiliki arti penting bagi kebudayaan Jawa sebagai mayoritas agama Jawa dan merangkul Islam.Thus hubungan dengan nilai-nilai Islam budaya Jawa menjadi menarik karena adanya Islam dan budaya Jawa yang dominan di bangsa Indonesia.

 

 

B. Budaya Jawa

1. Pengertian Budaya Jawa

Untuk memudahkan pemahaman dalam pembahasan ini, kami membagi dua pokok bahasan, yaitu budaya dan tradisi Jawa di Banyuwangi. Di mana kedua kata tersebut mempunyai makna dan pemahaman yang berbeda. Sebagaimana dalam KBBI kata budaya berarti sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.[1] Berbeda dengan pengertian kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.

Koentjoroningrat secara lebih terperinci membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yang terdiri dari sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian serta sistem teknologi dan peralatan.

In greater detail Koentjoroningrat cultural divide into elements consisting of religious and ritual systems, systems and community organizations, knowledge systems, languages​​, art, livelihood systems and technology systems and equipment.[2]

Sedangkan pengertian Jawa secara geologis ialah bagian dari suatu formasi geologis tua berupa pegunungan yang menyambung dengan deretan pegunungan Himalaya dan pegunungan di Asia Tenggara, dari mana arahnya menikung ke arah tenggara kemudian ke arah timur melalui tepi-tepi dataran Sunda yang merupakan landasan kepulauan Indonesia, yang memiliki luas 7% dari seluruh penduduk Indonesia.[3]

 

 

Sementara yang disebut orang Jawa menurut Frans Magnis Sweno SJ. Ialah “orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa, yaitu penduduk asli bagian

tengah dan timur pulau Jawa yang berbahasa Jawa”.17 Karena di Jawa sendiri menggunakan empat bahasa, yakni Melayu Betawi yang dipakai penduduk asli Jakarta, bahasa Sunda Madura yang dipakai penduduk Jawa Barat bagian tengah dan selatan, Bahasa Madura yang dipakai penduduk Jawa Timur bagian utara dan beberapa varian bahasa Jawa Cirebon, Surabaya, Kediri, dan Madiun yang sedikit berbeda.

 

Jadi dari uraian di atas, dapat kita ambil pemahaman bahwa budaya Jawa yang dimaksud di sini adalah segala sistem norma dan nilai yang meliputi sistem pengetahuan, kepercayaan, moral, seni, hukum, adat, bahasa, organisasi kemasyarakatan, mata pencaharian, peralatan teknologi dan kebiasaan serta kemampuan yang hidup di pulau Jawa dan masyarakat Jawa.

B.The characteristic of Javanese culture

Masyarakat merupakan suatu kesatuan yang diikat oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi, maupun agama. Hal ini dapat dilihat pada cirri-ciri masyarakat jawa secara kekerabatan .

          System hidup kekeluargaan di jawa tergambar dalam kekerabatan masyarakat jawa.  Terdapat istilah yang sama dipakai untuk menyebut moyang, baik pada tingkat ketiga maupun keturunan pada generasi ketiga, dengan aku sebagai acuan. Jadi, buyut berarti ayahnya kakek, maupun anaknya cucu, dan seterusnya .

 

 

Tradisi mepe kasur

Berbicara mengenai tradisi di era modern memang tak ada habisnya. Di masa ini tradisi yang berkembang di masyarakat daerah selalu di anggap kuni dan membosankan padahal tidak semua  tradisi mempunyai anggapan demikian, di beberapa daerah justru masih banyak masyarakat yang bergotong royong untuk mempertahankan eksistensi tradisi budayanya masing masing , seperti halnya yang terjadi di Banyuwangi sebagai daerah asli masyarakat suku Osing Banyuwangi mempunyai cara ampuh tersendiri untuk tetap menjaga tradisi yang tumbuh dan di percaya masyarakatnya.

Salah satu tradisi yang cukup terkenal dan menjadi agenda tahunan ialah tradis mepe kasur. Tradisi mepe kasur merupakan salah satu ritual khas masyarakat asli Banyuwangi mepe kasur merupakan tradisi turun temurun yang di lakukan oleh masyarakat Desa kemiren sebagai daerah asli tempat tinggal masyarakat Suku Osing, Ritual adat mepe kasur merupakan kegiatan menjemur kasur warga di depan rumah masing masing, biasanya di sepanjang jalan Desa kemiren akan terlihat kasur kasur yang terjejer layaknya orang menjemur kasur pada umumnya.

Kegitan mepe kasur berlangsung hingga siang hari setelah matahari melawati kepala alias pada tengah hari , semua kasur harus di masukan , konon jika tidak demikian kebersihan kasur akan hilang, prosesi adat mepe kasur di mulai sejak matahari terbit tepatnya sekitar pukul 07.00 waktu setempat, di situasi tersebut warga Desa kemiren akan terlihat mengeluarkan kasur yang berwarna hitam dan merah untuk di jemur di depan rumah  masing masing, sembari menjemur warga akan melamatkan doa dan memercikkan air bunga di halaman dengan tujuan dinjauhkan dari hal hal yang kurang baik, kondisi yang tak kalah menarik adalah saat mengetahui bahwa pemukul jemuran kasur merupakan orang tua ( sepuh ) yang sudah berusia sekitar 60 tahun keatas.

Masyarakat Desa kemiren menyakini bahwa mepe kasur merupakan ritual bentuk rasa syukur warga Osing terhadap sang kuasa atas pencapain huidup, di lain pihak warga juga mempercayai bahwa kegiatan telah di lakukan secara turun  temurun tersebut sekaligus sebagai ritual tolak bala agar di jauhkan dari segala macam bencana maupun penyakit, bagi pasangan suami istri kegiatan mepe kasur juga di yakini sebagai ritual permohonan agar terus di beri kelanggengan dalam mengarungi biduk rumah tangga namun di sisi lain hadirnya ritual adat Mepe Kasur masyarakat Osing banyuwangi tak ubahnya sebuah fenomena yang mengisyaratkan bentuk rukun dan guyub.

 

 

 

 

 

Kepercayaan budaya Jawa  masyarakat Banyuwangi

 

Ritual tua lainnya di Banyuwangi untuk memperoleh kesejahteraan ekonomis adalah upacara wiwit ( permulaan musim tanam ) yang diwujudkan pada pemujaan dewi padi, Dewi Sri. Sekalipun nama Sri berasal dari India, mitos itu terdapat di seluruh Nusantara sampai di pulau-pulau yang sama sekali tidak tersentuh pengaruh India. Serta Untuk menjaga keserasian kosmis antara kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan, di desa juga dilakukan ritual kesuburan, yaitu agar manusia dikaruniai keturunan banyak.ketakutan akan kekurangan anak sesungguhnya merupakan ciri arkais pedesaan Jawa yang berlangsung sangat lama. Hal itu merupakan warisan dari suatu masa lampau yan sangat jauh, ketika kekayaan ekonomis bukanlah berupa tanah atau uang melainkan tenaga kerja. Di saat itu manusia harus melawan hutan rimba dan membuat ladang berundak.

 

Upacara yang dibicarakan di atas pada pokoknya adalah untuk menjaga keseimbangan antara desa kemiren  dan banyuwangi, serta menghindari goncangan yang dapat mengakibatkan turunnya kesejahteraan materiil

 

Salah satu upacara yang lain adalah kurban kerbau yang sejak dini diwarnai mitologo India. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat sejumlah patung Durga Mahisasuranardini artinya Durga yang sedang membantai raksasa berwujud kerbau. Louis Charles Damais mengemukakan bahwa batu kurban  dalam bahasa Jawa disebut maesan, mungkin karena batu itu menggantikan tonggak kurban tempat penambatan kerbau ( maesa ) yang umumnya disembelih waktu pemakaman pada zaman pra islam. Dewasa ini pun tidak ada gedung yang cukup besar yang dibangun tanpa penguburan kepala kerbau.[4]

Upacara perawatan dan penjamasan pusaka sebagai tanda kebesaran sudah dikenal sejak tahun 824 pada prasasti Karang Tengah yang menyebutkan kres ( atau keris )[5]. Pemilikan alat kebesaran ini, sebagaimana pemilikan wahyu ( ketiban andaru, yaitu sebuah cahaya kilat tanda kebesaran yang jatuh dari langit ) adalah merupakan tanda keabsahan. Semua benda pusaka tersebut dipersonifikasikan dan diberi nama yang dihormati, yakni kiyai untuk laki-laki dan nyai untuk perempuan[6].

 

Kesimpulan

 

 

 

 

Tradisi mepe kasur merupakan salah satu pemetaan budaya jawa timur, masyarakat Osing di kenal dengan masyarakat yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan yang mereka ciptakan ini masih di jaga dengan baik dan masih di lestarikan , namun ada beberapa yang hampir punah, mepe kasur di anggap sebagai ajang membersihkan diri agar terhindar dari penyakir dan di jauhkan dari bencana atau untuk tolak bala. Dengan di jemur kasur akan bersih kembali seperti di gunakan saar malam pertama , setelah seluruh warga desa memasukkan kasur kedalam rumah prosesi selanjutnya adalah berziarah ke makam mbah wali Cili yang di yakini sebagai penjaga Desa. Dan yang terakhir adalah selameran tumpeng sewu pada malam hari warga di wajibkan menyalakan obor di depan rumah, setelah itu mereka berdo.a dan menikmati santapan berupa tumpeng dengan berbagai macam lauk.

 

 

 

 

 

 



[1]. Hasan Alwi dkk, Kamus Besar,169.

[2] Koentjoroningrat,Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan(Jakarta: Gramedia,2000),

[3] Ibid.

[4] Denys Lombard, op.cit. hal. 82

[5] Budiarto Dananjaya, Pencapaian Keris, Kompas, 1 Januari 2000

[6] Ibid., hlm. 67


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKULTURASI BUDAYA – KESELARASAN DALAM BUDAYA JAWA SESAJEN DI DESA JETAK KECAMATAN WEDARIJAKSA KABUPATEN PATI

AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN TIONGHOA DALAM MOTIF BATIK LASEM

PELESTARIAN BUDAYA JAWA ISLAM DALAM TRADISI 10 SYURO SYEKH AHMAD MUTAMAKKIN DI DESA KAJEN MARGOYO KABUPATEN PATI